Vaksin DPT, Hindari Anak dari Difteri, Pertussis, dan Tetanus

Vaksin DPT

Vaksin DPT merupakan salah satu jenis vaksin yang wajib diberikan pada anak sebelum berusia satu tahun. Vaksin DPT ini diberikan dalam lima dosis, yaitu pada usia 2, 4, 6, dan 15-18 bulan, lalu diulang pada usia 4 hingga 6 tahun. 

Jika, anak Anda tidak diberikan imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus), beberapa penyakit tersebut dapat menyebabkan atau berisiko tinggi kematian. Pada artikel kali ini akan dibahas bagaimana vaksin DPT menghindari anak Anda dari beberapa penyakit tersebut. 

Apa itu vaksin DPT?

DPT adalah vaksin kombinasi yang melindungi dari tiga penyakit, yaitu difteri, tetanus, dan pertusis. Ketiga komponen vaksin “tidak aktif” artinya mereka mati dan tidak dapat menyebabkan penyakit. 

Vaksin DPT dapat melindungi anak Anda dari:

  • Difteri.  Infeksi tenggorokan yang serius yang dapat menyumbat saluran napas dan menyebabkan masalah pernapasan yang parah. 
  • Tetanus. Penyakit saraf yang dapat terjadi pada semua usia, yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun yang mencemari luka. 
  • Pertusis (batuk rejan). Penyakit pernapasan dengan gejala seperti pilek yang menyebabkan batuk parah (suara ‘rejan’ terjadi saat anak menarik napas dalam-dalam setelah batuk parah). Komplikasi serius dapat menyerang anak di bawah usia 1 tahun, dan mereka yang berusia di bawah 6 bulan memiliki risiko sangat tinggi. Remaja dan orang dewasa dnegan batuk yang berlangsung lama mungkin menderita pertusis dan tidak menyadarinya, dan dapat menularkannya kepada bayi yang rentan. 

Jadwal imunisasi DPT

Imunisasi DPT diberikan dalam rangkaian 5 kali suntikan, biasanya diberikan pada usia:

  • 2 bulan 
  • 4 bulan 
  • 6 bulan
  • 15-18 bulan
  • 4-6 tahun

Kemungkinan risiko dan efek samping imunisasi DPT

Vaksin ini dapat menyebabkan efek samping ringan, seperti:

  • Demam 
  • Rewel ringan 
  • Kelelahan
  • Kehilangan selera makan
  • Nyeri saat ditekan
  • Kemerahan
  • Bengkak di area tempat suntikan diberikan

Efek samping yang jarang terjadi, meliputi:

  • Kejang 
  • Demam tinggi 
  • Tangisan yang tidak terkendali setelah mendapatkan vaksin

Namun, efek samping tersebut sangat jarang terjadi sehingga para peneliti mempertanyakan apakah itu disebabkan oleh vaksin. Kebanyakan anak memiliki sedikit atau tanpa efek samping. 

Dapatkah menunda atau tidak melakukan imunisasi DPT?

Penyakit sederhana atau ringan lainnya seharusnya tidak mencegah imunisasi, tetapi dokter Anda mungkin memilih untuk menjadwalkan ulang vaksin jika anak Anda menderita penyakit yang lebih serius. 

Bicaralah dengan dokter jika anak mengalami gejala berikut setelah mendapatkan vaksinasi, seperti:

  • Sebuah reaksi alergi yang serius
  • Masalah otak atau sistem saraf, seperti koma atau kejang
  • Sindrom Guillain-Barre
  • Sakit parah atau bengkak di seluruh lengan atau tungkai

Bagaimana merawat si kecil setelah vaksin?

Anak Anda mungkin akan mengalami demam, nyeri, dan bengkak serta kemerahan di area tempat suntikan diberikan. Bergantung pada usia anak Anda, nyeri dan demam dapat diobati dengan asetaminofen atau ibuprofen. Tanyakan pada dokter Anda untuk mengetahui apakah Anda dapat memberikan salah satu obat tersebut, dan untuk mengetahui dosis yang sesuai. 

Kain hangat dan lembab atau bantalan hangat juga dapat membantu mengurangi rasa nyeri. Memindahkan atau menggunakan anggota tubuh yang telah menerima suntikan sering kali dapat mengurangi rasa sakit. 

Namun, Anda harus segera menghubungi dokter jika timbul gejala komplikasi yang parah setelah vaksin DPT, termasuk kejang, demam di atas 40 derajat celcius, kesulitan bernapas, atau tanda alergi lainnya, syok atau kolaps, atau tangisan yang tidak terkontrol selama lebih dari 3 jam. 

Setelah Anda mengetahui sebegitu pentingnya vaksin DPT, maka disarankan untuk tidak melewatkan jadwal imunisasi DPT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *