Lakukan Pemeriksaan PCR atau Rapid Tes dengan Promo Kesehatan agar Murah

Adanya virus covid-19 di tubuh seseorang bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan yang disebut PCR dan rapid tes. Belakangan, bahkan rapid tes dibedakan lagi menjadi 2, yaitu, rapid tes antibodi atau serologi dan rapid tes antigen. Harga tes ini pun beragam, untuk mendapatkan harga yang lebih murah, Anda bisa menggunakan promo kesehatan yang biasanya disediakan oleh berbagai jenis platform.

Namun, sebelum mencari berbagai promo kesehatan untuk diskon pemeriksaan covid-19 ini, ada baiknya Anda mengetahui jenis pemeriksaan mana yang akan Anda lakukan. Meskipun sama-sama bertujuan mendeteksi virus Corona, namun semua tes itu punya cara kerja masing-masing. Apa beda semua jenis tes yang sama-sama untuk mendeteksi virus corona ini? Berikut info selengkapnya.

Perbedaan Masing-masing Jenis Pemeriksaan Covid-19

Ketika Anda memiliki gejala-gejala yang mengarah pada Covid-19, seperti sesak napas, indera penciuman hilang, batuk, hingga demam, Anda disarankan untuk segera ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan atau tes Covid-19. Tes covid-19 yang bisa dilakukan adalah rapid tes antibodi, rapid tes antigen, dan PCR.

Berikut penjelasan lengkap untuk masing-masing tes yang berguna untuk mendiagnosis Covid-19 tersebut.

  1. PCR (Polymerase Chain Reaction)

Tes PCR ini adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan mendeteksi pola genetik (DNA dan RNA) dari virus Covid-19 atau jenis virus lainnya yang masuk ke tubuh. Tes PCR memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi sehingga merupakan tes yang direkomendasikan oleh WHO dalam mendeteksi adanya virus Covid-19 ini.

Meski begitu, hasil pemeriksaan tes PCR atau swab ini butuh waktu cukup lama, sekitar 1-7 hari. Tes PCR biasanya diperlukan bagi orang yang mengalami gejala seperti penderita Covid-19, apalagi orang tersebut memiliki riwayat pernah melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19.

  1. Rapid Tes Antigen

Selain swab atau PCR, biasanya pemeriksaan Covid-19 bisa dilakukan dengan rapid tes. Rapid tes ini bisa diketahui hasilnya dalam waktu yang singkat, hanya butuh beberapa menit hingga 1 jam menunggu hasilnya.

Hingga kini, rapid tes sendiri ada 2 jenisnya, salah satunya rapid tes antigen. Antigen adalah suatu zat atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Karena dianggap berbahaya, biasanya akan memicu sistem imunitas tubuh membentuk antibodi. 

Begitu juga dengan virus corona, jika masuk ke tubuh akan terdeteksi sebagai antigen oleh imun tubuh. Sehingga virus Covid-19 bisa dideteksi melalui pemeriksaan rapid tes antigen.

Melakukan rapid tes antigen untuk mendeteksi virus corona dilakukan dengan mengambil sampel lendir hidung atau pun tenggorokan melalui proses swab. Agar hasilnya akurat, tes antigen ini sebaiknya dilakukan maksimal 5 hari setelah gejala COvid-19 muncul.

Tingkat akurasi rapid tes antigen ini memang belum seakurat PCR, hanya saja sudah lebih baik dibanding rapid tes antibodi.

  1. Rapid Tes Antibodi

Virus Covid-19 yang masuk ke tubuh bisa terdeteksi oleh imunitas tubuh. Kemudian, sistem imun akan merespons dengan membentuk antibodi yang bertujuan memusnahkan antigen berupa virus Covid-19 tersebut. Antibodi untuk melawan virus Corona inilah yang dideteksi dengan rapid tes antibodi ini.

Rapid tes antibodi termasuk jenis pemeriksaan Covid-19 yang paling awal muncul. Pemeriksaan ini cukup cepat dan mudah dilakukan. Sayangnya, rapid tes antibodi ini tingkat akurasinya terbilang rendah dibanding 2 tes sebelumnya. Hasil pemeriksaan rapid tes antibodi ini dibaca sebagai reaktif dan nonreaktif.

Selain cara kerjanya, perbedaan ketiga jenis tes ini juga bisa dilihat dari segi harga. Rapid tes antibodi dibatasi maksimal harganya Rp 150.000, sedangkan rapid tes antigen maksimal Rp 275.000. Untuk tes PCR dibatasi maksimal seharga Rp 900.000.

Biasanya harga tersebut bisa lebih murah dengan memanfaatkan promo kesehatan di berbagai klinik maupun platform kesehatan lainnya. Sehingga harga tes Covid-19 yang akan Anda lakukan bisa lebih murah.

Ruam Akibat Amoxicillin Apakah Bentuk Alergi?

Anda mungkin pernah mendengar bahwa ketika anak minum antibiotik, mereka akan menderita efek samping seperti diare. Namun beberapa antibiotik, seperti amoxicillin misalnya, dapat menyebabkan ruam. Kebanyakan antibiotik dapat menyebabkan ruam sebagai salah satu bentuk efek samping, dengan amoxicillin lebih sering menyebabkan efek samping tersebut dibandingkan dengan antibiotik jenis lain. Amoxicillin dan ampicillin keduanya berasal dari keluarga penicillin; dan penicillin merupakan obat-obatan yang banyak orang mudah sensitif dalam menggunakannya. Sekitar 10 persen orang melaporkan mereka alergi terhadap penicillin. 

Ada dua jenis ruam amoxicillin, satu yang biasanya disebabkan karena alergi dan satu yang tidak. 

  • Gatal-gatal

Apabila anak Anda menderita gatal-gatal, yang mana merupakan benjolan merah atau putih timbul dan terasa gatal pada kulit setelah minum satu atau dua dosis amoxicillin, anak mungkin memiliki alergi terhadap penicillin. Apabila Anda melihat anak menderita gatal-gatal setelah minum amoxicillin, hubungi dokter secepatnya, karena reaksi alergi dapat bertambah menjadi lebih parah. Jangan beri anak dosis tambahan lain sebelum berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Jika anak kesulitan bernapas atau menunjukkan tanda-tanda terjadi pembengkakan, hubungi layanan kegawatdaruratan. 

  • Ruam makulopapular

Ini adalah jenis ruam lain yang tampak berbeda. Ruam makulopapular biasanya terlihat seperti bercak kemerahan datar pada kulit. Bercak yang lebih kecil dan berwarna lebih pucat akan menemai bercak merah pada kulit. Ruam jenis ini sering berkembang dalam waktu 3 hingga 10 hari setelah konsumsi amoxicillin. Namun, ruam amoxicillin dapat tumbuh dan berkembang kapan saja pada masa anak mengonsumsi antibiotik. Sebuah obat-obatan dalam keluarga penicillin, termasuk antibiotik amoxicillin, dapat menyebabkan ruam yang cukup serius dan dapat menyebar ke seluruh tubuh. 

Apa yang menyebabkan ruam amoxicillin?

Meskipun gatal-gatal biasanya disebabkan karena alergi, dokter masih belum tahu secara pasti apa yang menyebabkan ruam makulopapular terbentuk. Apabila anak memiliki ruam kulit tanpa adanya gatal-gatal atau gejala lain, bukan berarti ia memiliki reaksi alergi terhadap amoxicillin. Ada kemungkinan hal tersebut adalah sedikit reaksi terhadap antibiotik ini tanpa memiliki alergi yang sesungguhnya. 

Lebih banyak anak perempuan dibandingkan anak laki-laki dalam memiliki reaksi terhadap antibiotik amoxicillin. Anak-anak yang memiliki mononucleosis (lebih biasa dikenal dengan sebutan mono) dan kemudian mengonsumsi antibiotik berpotensi lebih tinggi mendapatkan ruam. Faktanya, menurut Jurnal Dokter Anak, ruam amoxicillin pertama kali diperhatikan pada tahun 1960an pada anak-anak yang sedang dirawat menggunakan ampicillin untuk mengobati mono. Dilaporkan ruam terjadi hampir pada semua anak, antara 80 hingga 100 persen dari kasus tersebut. Saat ini, sangat sedikit anak yang mendapatkan perawatan amoxicillin untuk mengobati mono karena perawatan tersebut tidak efektif, mengikat mono adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. 

Apabila anak menderita gatal-gatal atau ruam setelah mengonsumsi amoxicillin, Anda bisa mengobati reaksi alergi tersebut dengan obat over-the-counter atau OTC, seperti Benadryl, dengan mengikuti instruksi anjuran dosis yang direkomendasikan. Jangan beri anak tambahan dosis antibiotik sebelum Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Ruam merupakan sebuah tanda yang cukup membingungkan. Terkadang, ruam yang muncul tidak berarti apa-apa, namun tidak jarang ruam merupakan reaksi alergi serius yang berisiko menyebabkan kematian. Dalam kebanyakan kasus ruam akan hilang dengan sendirinya setelah pengobatan dengan antibiotik dihentikan. Apabila masih ada sisa rasa gatal pada tubuh, dokter dapat merekomendasikan krim steroid untuk dioleskan langsung ke kulit.