Surfing Dianggap Olahraga Berbahaya, tetapi Mampu Mengatasi Kecemasan

Surfing butuh nyali dan mental kuat karena risiko yang akan didapatkan cukup besar. Di sisi lain, olahraga ini justru dipercaya mampu mengurangi tingkat kecemasan seseorang. Bagi pemula, surfing mungkin tidak mudah dilakukan karena membutuhkan latihan dasar yang intens serta perlengkapan super aman. Akan tetapi, melihat manfaatnya bagi kesehatan mental, surfing menjadi salah satu daftar olahraga yang perlu dicoba. 

Surfing dan kesehatan mental

Surfing tergolong sebagai olahraga berbahaya karena menantang lautan luas. Selain itu, Anda juga harus mengantisipasi ancaman ikan hiu atau ubur-ubur penyengat. Meskipun demikian, sebuah studi menunjukkan bahwa berolahraga di alam menimbulkan efek positif bagi kesehatan fisik dan mental, terutama jika dilakukan di dalam air. 

Bagi penderita Post-Traumatic Stres Disorder (PTSD), surfing diprediksi mampu dijadikan sebagai alternatif terapi. Olahraga ini memperkuat kemampuan hipokampus yang berfungsi merekam rangsangan dari luar untuk disimpan di otak. 

Berdasarkan International Journal of Environmental Research, peselancar melaporkan perasaan baik saat menghadapi ombak di laut. Perasaan ini membantu Anda mengelola kesehatan mental sehingga tingkat depresi dan kecemasan akan berkurang dibandingkan mereka yang tidak melakukan surfing. 

Surfing merupakan olahraga intensitas tinggi yang meliputi aktivitas mendayung di tengah arus laut, ketahanan saat mencoba berdiri dari papan selancar, membawa papan selancar ke bibir pantai, serta melatih keseimbangan. Olahraga intensitas tinggi mengubah aktivitas amigdala dan hipokampus di otak. Keduanya berperan dalam mengatasi stres.   

Risiko surfing terhadap keselamatan jiwa

Berdasarkan sebuah studi, surfing dinobatkan sebagai olahraga paling berbahaya kelima di dunia. Berikut ini berbagai risiko surfing yang perlu diantisipasi: 

  1. Ancaman ikan hiu

Peselancar berisiko diserang hiu terutama di lautan yang masih masih memiliki predator aktif. Akan tetapi, risiko ini tergolong sangat rendah meskipun harus tetap harus diwaspadai. Biasanya kasus serangan hiu banyak terjadi di Australia, Amerika Serikat, dan Afrika Selatan. Namun Anda tidak perlu khawatir berlebihan, saat ini peselancar telah dilengkapi dengan alat pemancar gelombang elektromagnetik sehingga mampu mendeteksi keberadaan hiu. 

  1. Terumbu karang

Seringkali keberadaan terumbu karang tidak disadari. Terumbu karang nampaknya terlihat jauh di bawah namun ternyata cukup dekat dan dapat melukai Anda. Terlebih jika peselancar terjebak pusaran gelombang laut yang cukup kuat sehingga menyeretnya ke dasar dan badan berisiko terbentur ke terumbu karang. 

  1. Tabrakan

Potensi tabrakan biasanya sering dialami oleh peselancar pemula. Saat ombak memiliki banyak puncak gelombang, laut lebih diminati untuk dijadikan tempat surfing. Sebaiknya gunakan tali pengikat yang tersedia di papan seluncur untuk mencegah kecelakaan saat kondisi laut ramai. Hindari meninggalkan papan di tengah laut, biasanya peselancar asik menyelam ke dasar laut. Papan yang terombang-ambing dapat melukai peselancar lain.

  1. Ombak

Bagi peselancar berpengalaman, ombak tinggi justru menjadi spot terbaik. Namun hal ini tidak dianjurkan bagi peselancar baru. Ombak tinggi berisiko menenggelamkan dan membuat patah tulang meskipun dari bibir pantai terlihat kecil dan menenangkan. Jangan sampai terjadi wipeout atau terlempar dari papan karena ombak. 

Untuk menghindari risiko terluka saat surfing, ketahui area laut yang akan dijadikan tempat surfing. Pastikan aman dari ancaman biota laut yang berbahaya maupun ombak yang terlalu tinggi. Patuhi aturan yang berkaitan dengan keamanan peselancar lain, seperti “satu gelombang untuk satu orang” serta jangan mendayung di dekat peselancar lain. Anda sebaiknya juga tidak meninggalkan papan seluncur di tengah laut karena akan mengganggu aktivitas surfing orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *