Pro dan Kontra Sodium Fluoride dalam Produk Perawatan Gigi

Beberapa tahun belakangan, para ahli melalui berbagai penelitian mulai mempertanyakan, apakah penambahan sodium fluoride dalam produk perawatan gigi aman dan efektif untuk mencegah gigi berlubang?

Bukan berarti sodium fluoride memang memiliki karakter yang berbahaya, penggunaannya dalam kadar yang sedikit diketahui aman. Namun, terlalu banyak sodium fluoride yang tertelan ternyata dapat menimbulkan berbagai gangguan medis.

Lalu, mengapa senyawa tersebut digunakan? Pada dasarnya, sodium fluoride memang memberikan manfaat perlindungan bagi gigi. Fluoride yang menempel pada gigi akan berikatan dengan kalsium atau magnesium di enamel gigi, dan melindungi gigi dari asam yang dapat menyebabkan gigi berlubang.

Manfaat sodium fluoride

Sekitar tahun 1930-an, sodium fluoride mulai diketahui manfaatnya untuk perlindungan gigi. Masa itu, dokter gigi menemukan bahwa kelompok orang yang mengonsumsi air dengan kandungan fluoride lebih jarang mengalami gigi berlubang.

Penelitian tentang sodium fluoride pun terus dilakukan sejak saat itu. Kebanyakan dari penelitian tersebut ditujukan untuk mengetahui, apakah sodium fluoride dapat digunakan untuk mengatasi gigi berlubang.

Kemudian diketahui bahwa sodium fluoride dapat mencegah gigi berlubang, walaupun ada paparan asam dan bakteri di dalam mulut. Hal ini dianggap sebagai sebuah terobosan di dalam dunia kesehatan gigi.

Sodium fluoride melindungi gigi dengan cara membunuh Streptococcus mutans dan Lactobacillus acidophilus yang menyebabkan gigi berlubang.

pH dalam sitoplasma sel juga akan diturunkan oleh ion di dalam sodium fluoride, sehingga keasaman berkurang dan risiko terjadinya gigi berlubang pun menurun. Sementara, pengaplikasiannya secara topikal akan membuat fluoride berinteraksi dengan air liur dan mencegah demineralisasi enamel gigi.

Sanggahan terhadap penggunaan sodium fluoride

Pada tahun 2015, Pelayanan Kesehatan Publik Amerika Serikat menurunkan rekomendasi  penggunaan sodium fluoride dari 1,2 mg/L menjadi 0,7 mg/L. Sementara Environmental Protection Agency memberlakukan batas yang boleh dikonsumsi oleh masyarakat ada angka 4,0 mg/L.

Sodium fluoride bukan hanya terkandung di dalam produk larutan perawatan gigi atau pasta gigi, melainkan juga dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi, termasuk susu. Melihat fakta ini, dalam waktu yang panjang, orang telah mengonsumsi fluoride dalam kadar yang lebih tinggi dari yang seharusnya.

Oleh karena itu, diduga banyak anak yang berpotensi mengalami fluorosis. Suatu kondisi di mana terdapat bercak atau cacat pada enamel akibat kelebihan asupan fluoride pada masa pertumbuhan gigi. Para dokter gigi pun mengakui bahwa fluorosis merupakan masalah gigi yang cukup serius dan patut mendapat perhatian.

Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa asupan sodium fluoride yang terlalu banyak dapat memicu terjadinya gangguan hormon, Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), melemahnya tulang, hingga munculnya efek yang tidak diinginkan dalam perkembangan saraf anak dan masalah tiroid.

Faktor-faktor di atas, membuat para ahli dan dokter gigi meninjau ulang penggunaan sodium fluoride dalam produk perawatan gigi, dalam rangka mencegah gigi berlubang. Sampai saat ini, hal ini masih menjadi kontroversi.

Masih dibutuhkan berbagai penelitian lanjutan untuk sampai pada kesimpulan perlu atau tidaknya penggunaan sodium fluoride. Saat ini, baik dari sisi manfaat maupun kerugian, terdapat penelitian ilmiah yang mendukung kedua klaim tersebut. Dan sulit sekali untuk menyimpulkan argumen mana yang lebih tepat.

Untuk sementara waktu, Anda bisa saja menggunakan produk yang mengandung sodium fluoride. Namun, usahakan untuk tidak menggunakannya secara berlebihan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *