Posisi Bercinta Saat Hamil yang Aman, Apa Saja?

Tahukah Anda bahwa saat hamil, Anda tetap diperbolehkan untuk berhubungan seksual dengan pasangan? Meski demikian, Anda tetap perlu memerhatikan posisi bercinta saat hamil karena akan memengaruhi kondisi bayi di dalam kandungan.

Tidak masalah jika ingin melakukan aktivitas seksual di tengah masa kehamilan. Tapi, pastikan Anda mengetahui apa saja perubahan yang akan Anda alami dan apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan. 

Rekomendasi posisi bercinta saat hamil

Supaya aktivitas seksual Anda tetap aman bagi bayi dalam kandungan, maka ada beberapa posisi bercinta yang bisa Anda coba, yaitu: 

Posisi berbaring miring

Posisi pertama yang bisa Anda coba adalah posisi berbaring miring. Anda bisa berbaring dengan posisi miring, dengan pasangan berada di depan maupun di belakang Anda. 

Posisi ini akan melindungi punggung Anda, karena tidak perlu menjaga beban di perut Anda. Posisi ini akan membuat Anda lebih nyaman serta lebih aman bagi kesehatan tubuh Anda secara fisik. 

Posisi misionaris

Untuk melakukan posisi ini, sebaiknya Anda menyelipkan bantal di bawah punggung Anda. Pastikan tubuh Anda ada dalam posisi miring, bukan menelungkup. 

Kemudian, pastikan juga pada pasangan Anda agar tidak menaruh beban sepenuhnya ketika melakukan posisi ini. Hal ini penting agar beban dari pasangan Anda tidak menekan perut Anda dan membahayakan janin. 

Di tepi tempat tidur

Anda bisa melakukan posisi bercinta saat hamil berikutnya di tepi tempat tidur. Geser pantat Anda ke sisi ujung kiri atau ujung kanan tempat tidur dengan tubuh berbaring telentang dan lutut ditekuk.

Pasangan Anda bisa berada dalam posisi berlutut ataupun berdiri di lantai. Jika Anda ingin melakukan posisi ini saat sudah melewati trimester pertama, sebaiknya selipkan bantal di bawah punggung agar tidak membahayakan punggung Anda. 

Woman on top

Posisi woman on top juga bisa menjadi posisi bercinta saat hamil yang Anda dan pasangan coba. Posisi ini baik untuk kesehatan Anda, karena tidak memberikan tekanan pada perut Anda saat hamil.

Selain itu, ketika melakukan posisi woman on top, calon ibu bisa mengendalikan sendiri kedalaman penetrasi dan stimulasi klitoris. Akan tetapi, di akhir masa kehamilan, mungkin akan sulit untuk melakukan posisi ini karena ukuran perut Anda sudah sangat membesar. 

Menghindari risiko berhubungan seksual saat hamil

Meskipun bercinta aman dilakukan selama masa kehamilan, beberapa posisi juga bisa menyebabkan dampak negatif bagi kandungan Anda. Oleh sebab itu, sebaiknya lakukan upaya pencegahan dengan cara berikut: 

Hindari posisi man on top

Sebenarnya, posisi man on top masih boleh dilakukan, namun hanya pada masa awal kehamilan. Di posisi tersebut, pasangan Anda harus bisa mengontrol berat badannya agar tidak menindih perut Anda. 

Sebaiknya, kurangi melakukan posisi bercinta saat hamil man on top saat kehamilan sudah memasuki usia 20 minggu. Karena, di usia ini, Anda harus sangat berhati-hati ketika berbaring telentang. 

Menjaga kebersihan 

Sebelum berhubungan seksual, pastikan Anda dan pasangan sama-sama sudah menjaga kebersihan dengan maksimal. Hal ini penting, karena kotoran ataupun bakteri yang masuk melalui vagina berpotensi terpaparkan ke janin dalam kandungan.

Anda bisa mencoba berbagai posisi bercinta saat hamil, selama semua posisi tersebut dilakukan secara hati-hati dan dengan bijak. Konsultasikan dengan dokter Anda apabila Anda ingin melakukan hubungan seksual yang lebih aman selama hamil.

Lakukan 6 Hal Ini Untuk Cegah Infeksi Menular Seksual!

Kuman-kuman penyebab penyakit menular seksual dapat menginfeksi manusia melalui berbagai cara, seperti melalui darah, air mani, cairan vagina, air liur, bahkan kontak kulit. Infeksi menular seksual dapat dihindari dengan menjalani hubungan seks yang aman dan gaya hidup sehat.

Penis keluar darah dapat terjadi karena infeksi menular seksual

Penyakit menular seksual atau infeksi menular seksual dapat disebabkan oleh virus, bakteri, maupun parasit. HIV/AIDS, herpes, kanker serviks, kutil kelamin, dan hepatitis B adalah bentuk penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus. Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri antara lain adalah gonore, sifilis, dan klamidia. Sedangkan yang disebabkan oleh parasit adalah trikomoniasis.

Segala bentuk penularan penyakit ini dapat dicegah. Beberapa cara untuk mencegah penularan infeksi menular seksual, antara lain.

  1. Berhubungan seks hanya dengan satu orang

Hindari berganti-ganti pasangan, semakin banyak jumlah pasangan seksual maka semakin besar risiko terkena penyakit menular seksual. Sebaiknya juga tidak berhubungan seksual dengan seseorang yang sering berganti pasangan, atau tidak diketahui riwayat seksualnya. Pada beberapa kondisi, tidak berhubungan seksual sama sekali (abstinensia) bisa dianggap sebagai cara paling efektif dalam mencegah terkena penyakit menular seksual. Langkah ini bisa diterapkan, terutama saat pasangan sedang menderita infeksi menular seksual.

  1. Gunakan kondom

Gunakan kondom lateks tiap kali berhubungan seks. Kondom memang tidak dapat mencegah penularan penyakit sepenuhnya, tetapi akan sangat efektif jika pemakaiannya benar. Kondom lateks memiliki tingkat proteksi paling tinggi. Sedangkan kondom yang berbahan non lateks, terdapat risiko robek sehingga tetap berisiko menularkan infeksi menular seksual. Sebelum menggunakan kondom, pastikan kondom aman dan bisa efektif digunakan dengan cara

  • Periksa tanggal kadaluarsa
  • Memastikan kondom tidak robek atau bolong
  • Gunakan kondisi dengan cara yang benar, misalnya tidak terbalik
  • Selalu pastikan ada jarang pada bagian ujung kondom
  • Gunakan pelumas kondom yang aman sebelum berhubungan
  • Memegang kondom setelah berhubungan seks agar tidak lepas
  • Jangan menggunakan kondom bekas
  1. Vaksinasi

Beberapa penyakit menular seksual dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi dewasa. Misalnya hepatitis B, dan kutil kelamin serta kanker serviks yang disebabkan oleh human papilloma virus (HPV).  Vaksinasi HPV ini direkomendasikan bagi anak perempuan berusia 9-13 tahun. Namun, wanita dewasa berusia di bawah 26 tahun yang belum mendapatkan vaksinasi juga disarankan untuk melakukannya segera, mengingat kanker serviks merupakan pembunuh nomor 2 pada wanita. Vaksin hepatitis B diberikan tiga kali, dengan jadwal pada bulan 0, 1 dan 6 (untuk bivalen) atau bulan 0, 2 dan 6 (untuk kuadrivalen). Anak dan remaja yang belum mendapatkannya, dianjurkan untuk melakukan rangkaian vaksinasi hepatitis B.

  1. Sunat pada laki-laki

Sunat pada laki-laki terbukti dapat mengurangi risiko laki-laki terkena penyakit HIV dari hubungan seksual sebanyak 60 persen. Dampak positif lainnya adalah dapat membantu mencegah penularan herpes dan infeksi HPV.

  1. Hindari narkoba dan alkohol

Saat berada di bawah pengaruh narkoba dan alkohol, perilaku seksual seseorang menjadi lebih sulit dikendalikan. Dampaknya, risiko melakukan hubungan seksual yang berisko juga lebih tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan narkoba, terutama narkoba suntik, erat kaitannya dengan peningkatan risiko terkena penyakit menular seksual.

  1. Memeriksakan diri

Apabila Anda aktif secara seksual, terutama jika sering gonta-ganti atau punya banyak pasangan, atau memiliki partner seks yang berisiko mengalami infeksi menular seksual, sebaiknya Anda rutin melakukan pemeriksaan ke dokter.

Deteksi infeksi menular seksual, sangat penting untuk mencegah terjadinya penularan, baik untuk pasangan atau bakal janin. Jika Anda terdiagnosa infeksi menular seksual,, berhenti dulu melakukan hubungan seks dan fokus pada pengobatan. Jika Anda punya infeksi menular seksual, jangan lupa untuk memeriksakan diri dan pasangan.

Hal – hal itulah yang bisa mencegah Anda dari infeksi menular seksual. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya. Anda tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Suami Tidak Bergairah? Coba Lakukan Hal Ini

Dalam berumah tangga, aktivitas seksual juga menjadi salah satu cara penting untuk mempertahankan hubungan. Tapi, bagi Anda para wanita, Anda mungkin mengalami kendala ketika suami tidak bergairah.

Sebenarnya, tidak adanya gairah bisa disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari masalah psikologis, sampai adanya kondisi medis tertentu. Apa pun penyebabnya, Anda dan pasangan harus bisa bekerja sama untuk menyelesaikannya agar hubungan seksual Anda menjadi lebih sehat. 

Apa yang harus dilakukan jika suami tidak bergairah?

Pembicaraan mengenai aktivitas seksual bisa menjadi sangat sensitif bagi sebagian orang, bahkan dalam hubungan rumah tangga sekalipun. Sebaiknya, carilah momen yang tepat untuk membicarakan hal ini dengan serius bersama suami Anda.

Berikut ini beberapa cara yang bisa menjadi solusi Anda ketika suami tidak bergairah:

  • Jangan bersikap menuntut

Kesalahan terbesar ketika membicarakan masalah hambatan aktivitas seksual adalah menuntut. Anda mungkin merasa lelah atau jengah dengan sikap pasangan, tapi usahakan untuk tetap mempertimbangkan perasaan suami Anda. 

Menuntut suami untuk berhubungan seksual akan membuat suami Anda merasa seolah-olah mereka memiliki masalah. Sebaiknya, katakan pada pasangan Anda mengenai perasaan Anda dan tanyakan dengan baik apa yang membuat mereka tidak lagi bergairah.

Berikan waktu pada pasangan Anda untuk memikirkan apa yang sebenarnya menjadi masalahnya. Bersikap sabarlah, tunjukan pada pasangan bahwa Anda siap menerima mereka apa adanya dan bersedia menanti sampai ia mau berhubungan seksual lagi.

  • Mengajak pasangan berkonsultasi dengan dokter

Adanya penyakit atau kondisi medis tertentu tidak jarang menjadi penyebab hilangnya gairah untuk berhubungan seksual. Suami Anda bisa saja menderita penyakit yang menyebabkan hal ini.

Ajak suami Anda untuk berkonsultasi dengan dokter. Kalau suami Anda tidak bersedia, Anda bisa mencoba berkorban dan mengajaknya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bersama-sama.

Dengan begitu, pasangan Anda akan merasa bahwa Anda mengajaknya untuk memeriksa kesehatan secara keseluruhan, bukan sekedar untuk mencari tahu penyebab suami tidak bergairah. 

  • Bantu pasangan menghindari stres

Tidak jarang, stres juga menjadi pemicu utama tidak adanya gairah untuk berhubungan seksual. Stres bisa datang dari mana saja, entah itu masalah pekerjaan, masalah dalam mengurus anak, bahkan masalah rumah tangga.

Anda harus bisa memposisikan diri sebagai pasangan yang baik bagi suami Anda. Buktikan pada mereka bahwa Anda sungguh-sungguh ingin membantu mereka dalam mengatasi stres itu.

Stres terkadang bisa juga menyebabkan masalah kesehatan mental lainnya, seperti depresi. Bila hal ini terjadi, gairah suami akan semakin menurun. Jadi, sebagai pasangan Anda perlu memastikan bahwa suami Anda bisa terhindar dari stres.

  • Mengikuti konseling pernikahan

Banyak pasangan mencoba mengikuti konseling pernikahan untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka. Tapi, perlu diingat, konseling pernikahan ditujukan untuk membantu mengatasi masalah dalam hubungan secara keseluruhan, termasuk masalah yang memicu kehilangan gairah pada suami.

Jadi, solusi ini tepat dilakukan apabila masalah gairah pada suami Anda disebabkan oleh faktor psikologis yang dipicu oleh masalah dalam rumah tangga. Nantinya, terapis akan membantu Anda dan pasangan untuk meningkatkan kualitas hubungan yang lebih baik, dan memperbaiki masalah dalam berhubungan seksual juga.

Meskipun hubungan seksual seringkali dianggap penting bagi banyak pasangan, perlu diingat bahwa hal itu bukanlah satu-satunya unsur terpenting dalam berumah tangga. Suami tidak bergairah tidak harus menjadi alasan kerusakan hubungan, karena ada hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan, khususnya dalam hal keintiman secara emosional.