Penggila Makanan Pedas, Ketahui Cara Mengatasi Perut Panas!

Salah satu rasa dominan dalam sebagian besar masakan khas Indonesia adalah pedas. Banyak pula masyarakat kita yang menggandrungi makanan pedas. Masalahnya, rasa pedas potensial membuat perut terasa panas. Bagi Anda yang senang makan makanan pedas, perlu sekali mengetahui cara mengatasi perut panas. 

Dengan mengetahui cara mengatasi perut panas, si penyuka pedas bisa tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. Pasalnya, perut panas mungkin sekali membuat aktivitas terganggu karena satu atau lebih masalah turunannya. 

Kondisi ini kerap terjadi karena makanan pedas akan merangsang sistem pencernaan dan meningkatkan suhu tubuh. Sebenarnya, sensasi ini disebabkan oleh zat capsaicin yang terkandung dalam cabai. Jadi, saat capsaicin bersentuhan dengan lapisan lambung, saraf yang ada di bagian tersebut langsung mengirimkan sinyal rasa sakit dan panas.

Selain perut terasa panas, mungkin sekali perut juga mengalami mulas setelah makan pedas. Akan tetapi, perlu diingat pula bahwa ada sebagian orang yang tidak merasakan apa-apa karena kondisi organ pencernaan mereka sudah terbiasa dengan zat-zat “pembuat masalah” tersebut. Walau demikian, buat berjaga-jaga, tiada salahnya Anda mengetahui cara mengatasi perut panas setelah makan pedas di bawah ini:

  • Makan buah dan sayur

Untuk mencegah dan mengatasi perut panas akibat makan pedas, disarankan untuk memperbanyak konsumsi buah dan sayur sebelum dan sesudah makan makanan pedas.

Hal ini karena buah dan sayur dapat meluruhkan capsaicin yang terdapat pada cabai, yaitu kandungan yang bisa menyebabkan rasa panas pada perut pasca-mengonsumsi makanan pedas.

  • Jeruk

Buah-buahan yang dapat Anda pilih untuk meredakan perut panas setelah makan pedas adalah jeruk limau atau lemon. Perasan jeruk limau atau lemon juga memiliki fungsi meluruhkan capsaicin si penyebab rasa pedas dengan cepat dan efektif.

  • Susu

Susu sudah terkenal ampuh mengatasi perut panas akibat makan pedas. Hal ini menjadj mungkin karena susu dapat menetralkan asam dari makanan pedas yang Anda konsumsi.

Namun perlu dicatat, jangan mengonsumsinya terlalu banyak karena hal tersebut bisa menyebabkan ketidaknyamanan pada perut. Cukup minum setengah cangkir susu dan duduk dalam posisi tegak selama 30 menit.

  • Yogurht

Produk olahan susu ini juga dapat dikonsumsi sebagai salah satu cara mengatasi perut panas akibat makanan pedas. Hal ini karena yogurt mampu membantu meningkatkan jumlah bakteri baik di usus yang mampu membantu melepaskan suhu panas dan membantu memperlancar pencernaan.

  • Teh pappermint

Kendati kurang populer di Indonesia, peppermint dapat membantu mengatasi masalah pencernaan, termasuk perut panas akibat makan pedas. Peppermint memiliki zat antinyeri yang dapat mengurangi rasa nyeri perut dan perut panas. Selain menggunakan teh, Anda bisa segera hirup aromaterapi peppermint.

  • Jahe

Jahe sudah terkenal sebagai tanaman herbal yang punya banyak fungsi. Salah satu fungsi yang bisa dilakukan jahe adalah menjaga kesehatan dan kondisi pencernaan. Sensasi panas yang ditimbulkan makanan pedas bisa pula diatasi dengan mengonsumsi jahe–utamanya air rebusan atau sari jahe. 

Kandungan phenolic dalam jahe berfungsi untuk meredakan gejala iritasi organ pencernaan, menstimulasi air liur, mencegah terjadinya kontraksi pada perut, hingga membantu pergerakan makanan dan minuman selama berada di pencernaan.

Jahe juga disebut sebagai carminative, suatu substansi yang dapat membantu mengeluarkan gas berlebih yang ada di sistem pencernaan Anda. Masalah pencernaan seperti kolik dan dispepsia dapat diatasi dengan jahe.

***

Makanan pedas memang menggugah selera dan menambah nafsu makan. Namun, Anda perlu untuk waspada dan berhati-hati karena makanan pedas juga punya efek samping negatif bagi kesehatan pencernaan secara keseluruhan. Perut terasa panas mungkin hanya salah satunya. 

Ketika suatu saat Anda merasakan sensasi perut panas setelah mengonsumsi masakan pedas, Anda bisa memilih satu atu beberapa cara mengatasi perut panas di atas. Namun, jika dalam waktu tertentu kondisi Anda tak kunjung membaik, disarankan untuk segera mencari bantuan medis. Dikhawatirkan ada masalah pencernaan serius yang sedang Anda derita.

Apakah Ada Cara untuk Mengobati Osteomielitis?

Merupakan infeksi tulang yang pada umumnya disebabkan karena bakteri staphylococcus disebut dengan osteomielitis. Kondisi ini termasuk penyakit yang jarang terjadi, namun pasien butuh segera ditangani karena bisa menimbulkan sejumlah komplikasi yang serius. Selain itu, penyakit ini juga bisa dialami oleh semua orang berbagai usia.

Pada anak-anak umumnya yang terjadi menyerang tulang panjang, seperti tungkai atau lengan, sementara untuk orang dewasa biasanya terjadi pada tulang pinggul, tungkai dan tulang belakang. Infeksi tulang ini bisa terjadi secara tiba-tiba dan berkembang dalam jangka waktu yang lama, jika tidak segera mendapat pengobatan maka bisa menyebabkan kerusakan tulang permanen.

Diagnosis Osteomielitis

Biasanya hanya berdasarkan tanda dan gejala yang dicurigai pada pemeriksaan fisik, seperti munculnya sakit pada tulang disertai dengan pembengkakan dan kemerahan. Kemudian pemeriksaan laboratorium untuk menentukan lokasi dan luasnya penyebaran infeksi, dokter akan mendiagnosa penyakit ini dengan pemeriksaan kombinasi, seperti berikut.

  • Tes Darah

Infeksi terjadi apabila kadar sel darah putih dalam pemeriksaan ini menunjukkan hasil yang meningkat, pemeriksaan ini juga dapat menentukan organisme yang menyebabkan infeksi. Pemeriksaan lain bisa dilakukan adalah apusan tenggorokan, serta kultur urine dan feses.

  • Test Pencitraan (Imaging Test)

Foto rontgen, bertujuan untuk melihat kerusakan pada tulang, meski demikian kerusakan mungkin baru akan terlihat setelah infeksi selama beberapa minggu. MRI, tujuannya untuk memberi gambaran secara teliti terhadap tulang dan jaringan lunak sekitarnya. Sementara itu, bone scan dilakukan untuk mengetahui aktivitas selular dan metabolik pada tulang.

  • Biopsi Tulang

Pemeriksaan terakhir adalah dengan melakukan biopsi tulang, tujuannya untuk mengetahui jenis kuman yang menginfeksi. Lakukan pemeriksaan ke dokter dengan segera jika mengalami nyeri pada tulang yang bertambah parah dan disertai dengan demam. Keadaan ini bisa memburuk dalam hitungan jam atau hari dan tentunya akan semakin sulit ditangani.

Pengobatan

Tujuan dari pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengatasi infeksi dan mempertahankan fungsi normal dari tulang. Metode pengobatan yang dilakukan pun diputuskan berdasarkan usia dan kondisi kesehatan pasien, tingkat keparahan penyakit dan jenis penyakit yang dialami. Penanganan utama yang diberikan adalah dengan pemberian antibiotik.

Antibiotik berfungsi untuk mengendalikan infeksi, awalnya diberikan melalui infus dan kemudian dilanjutkan dengan bentuk tablet untuk dikonsumsi. Pengobatan menggunakan antibiotik umumnya dilakukan selama enam minggu. Namun, untuk kasus infeksi yang lebih serius konsumsi antibiotik akan lebih lama lagi.

Selain antibiotik, obat antinyeri juga dapat digunakan untuk meredakan nyeri yang muncul, jika infeksi terjadi pada tulang berukuran panjang seperti lengan atau tungkai, kemungkinan besar penderita akan dipasangi bidai atau alat penyanggah lain pada tubuh untuk membatasi pergerakan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Untuk pasien yang memiliki kebiasaan merokok, dokter akan meminta pasien untuk berhenti merokok agar mempercepat proses penyembuhan. Pada kasus yang parah, dibutuhkan tindakan operasi untuk menangani kondisi dan mencegah penyebaran infeksi. Berikut beberapa tindakan operasi yang dilakukan untuk mengobati osteomielitis:

  • Mengangkat tulang dan jaringan yang terinfeksi atau debridement, semua tulang dan jaringan yang terkena infeksi akan diangkat termasuk sedikit tulang dan jaringan sehat yang ada di sekitarnya.
  • Mengeluarkan cairan dari area yang terinfeksi, cairan yang ada pada area terinfeksi ini biasanya berupa nanah yang menumpuk.
  • Mengembalikan aliran darah pada tulang, dokter akan mengisi tempat yang kosong setelah debridement dengan tulang atau jaringan dari bagian tubuh yang lain.

Mengenal Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan subarachnoid adalah pendarahan di ruang antara otak Anda dan membran sekitarnya (ruang subarachnoid). Gejala utamanya adalah sakit kepala parah yang tiba-tiba. Sakit kepala kadang-kadang dikaitkan dengan mual, muntah, dan kehilangan kesadaran singkat.

Ruang subarachnoid adalah area antara otak dan tengkorak, yang diisi dengan cairan serebrospinal (CSF), yang bertindak sebagai bantalan mengambang untuk melindungi otak Anda. Ketika darah dilepaskan ke ruang subarachnoid, hal itu akan mengiritasi lapisan otak, meningkatkan tekanan pada otak, dan merusak sel-sel otak. Pada saat yang sama, area otak yang sebelumnya menerima darah kaya oksigen dari arteri yang terkena sekarang kekurangan darah, sehingga menyebabkan stroke. 

Jika Anda atau orang yang dicintai mengalami gejala perdarahan subarachnoid, Anda harus segera mengunjungi UGD atau berkonsultasi dengan dokter. Berikut gejala dari perdarahan subarachnoid:

  • Tiba-tiba sakit kepala parah (sering digambarkan sebagai “sakit kepala terparah dalam hidup saya”)
  • Mual dan muntah
  • Leher kaku
  • Kepekaan terhadap cahaya (fotofobia)
  • Penglihatan kabur atau ganda
  • Hilang kesadaran
  • Kejang

Perdarahan subarachnoid sering kali merupakan tanda pecahnya aneurisma. Untuk mendiagnosis perdarahan subarachnoid, dokter Anda kemungkinan besar akan merekomendasikan:

  • CT scan. Tes pencitraan ini dapat mendeteksi pendarahan di otak Anda. Dokter Anda mungkin menyuntikkan pewarna kontras untuk melihat pembuluh darah Anda secara lebih rinci (CT angiogram).
  • MRI. Tes pencitraan ini juga dapat mendeteksi pendarahan di otak Anda. Dokter Anda mungkin menyuntikkan pewarna ke dalam pembuluh darah untuk melihat arteri dan vena secara lebih rinci (angiogram MR) dan untuk menyoroti aliran darah.
  • Angiografi serebral. Dokter Anda memasukkan tabung tipis dan panjang (kateter) ke dalam arteri di kaki Anda dan memasukkannya ke otak Anda. Pewarna disuntikkan ke dalam pembuluh darah otak Anda untuk membuatnya terlihat di bawah pencitraan sinar-X. Dokter Anda mungkin merekomendasikan angiografi serebral untuk mendapatkan gambar yang lebih detail atau jika diduga ada perdarahan subarachnoid tetapi penyebabnya tidak jelas atau tidak muncul pada pencitraan lain.

Hingga 22% dari perdarahan subarachnoid aneurysmal tidak muncul pada tes pencitraan awal. Jika tes awal Anda tidak menunjukkan perdarahan, dokter Anda mungkin merekomendasikan:

  • Pungsi lumbal. Dokter Anda memasukkan jarum ke punggung bawah Anda untuk menarik sejumlah kecil cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (cairan serebrospinal). Cairan diperiksa untuk mengetahui adanya darah, yang dapat mengindikasikan perdarahan subarachnoid.
  • Pencitraan berulang. Tes mungkin diulang beberapa hari setelah pengujian awal.

Pengobatan untuk perdarahan subarachnoid bervariasi, tergantung pada penyebab perdarahan dan tingkat kerusakan otak. Perawatan mungkin termasuk tindakan penyelamatan nyawa, pengurangan gejala, perbaikan pembuluh darah, dan pencegahan komplikasi.

Insufisiensi Adrenal: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Insufisiensi adrenal atau juga biasa disebut krisis adrenal adalah dimana kelenjar adrenal di dalam tubuh tidak memproduksi hormon kortisol dan/atau aldosteron dengan jumlah yang cukup. Kondisi ini dapat berbahaya karena hormon tersebut berperan penting dalam proses metabolisme tubuh dan menjaga kestabilan tekanan darah.

Insufisiensi adrenal juga terbagi dalam 3 tipe yaitu  primer, sekunder, atau tersier. Tipe ini tergantung dari dimana terjadinya masalah hormon yang menjadi penyebabnya.

Letak kelenjar adrenal adalah pada ginjal yang memproduksi hormon kortisol dan aldosteron. Fungsi dari hormon tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hormon Kortisol

Salah satu peran dari hormon kortisol adalah membantu tubuh untuk menghadapi stres, sehingga hormon ini juga disebut dengan hormon stres. Selain itu, hormon kortisol juga mempunyai peran untuk merespon tekanan darah, mengontrol kadar glukosa di dalam darah, membantu respon sistem imun, dan mengatur metabolisme.

  1. Hormon Aldosteron

Peran hormon aldosteron di dalam tubuh adalah untuk mengatur keseimbangan mineral di dalam darah dan kadar garam pada tubuh. Hal ini agar tekanan darah tetap stabil. Mineral seperti natrium dan kalium yang dihasilkan aldosteron juga berfungsi untuk sistem saraf dan otot serta menjaga irama jantung untuk tetap stabil.

Penderita insufisiensi umumnya sedikit karena kondisi ini menjangkit 1 dari 100.000 orang. Dari 3 tipe, insufisiensi adrenal sekunder lebih sering ditemui dengan jumlah rasio 100 hingga 140 orang dari 1 juta orang.

Gejala insufisiensi Adrenal

Gejala penyakit insufisiensi adrenal umumnya tidak spesifik dan terkadang pasien sendiri tidak menyadari. Namun, beberapa gejala atau tanda yang biasa terjadi pada penderita insufisiensi adrenal adalah seperti:

  • Otot lemah
  • Berat badan menurun
  • Nafsu makan menurun
  • Gampang lelah
  • Keinginan makan makanan yang asin meningkat
  • Muntah, mual, dan diare
  • Sakit perut
  • Mengalami tekanan darah rendah (saat berdiri terasa seperti akan pingsan)
  • Warna pada kulit bagian tertentu menghitam (terutama pada bekas luka, daerah lipatan, jari kaki, dan bibir)
  • Sering nyeri sendi
  • Siklus menstruasi pada wanita tidak teratur
  • Disfungsi seksual pada wanita
  • Gula darah rendah
  • Depresi

Gejala dapat semakin memburuk jika tidak diatasi dengan baik dan penderita mengalami peristiwa stres fisik. Kondisi ini disebut dengan krisis addison dengan gejala seperti nyeri pada punggung bagian bawah, diare dan muntah yang berat, hingga kehilangan kesadaran. Krisis addison perlu ditangani oleh medis secepatnya karena kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen jika terlambat ditangani.

Penyebab Insufisiensi Adrenal

Insufisiensi adrenal terjadi ketika terganggunya produksi hormon kortisol dan aldosteron karena kelenjar adrenal mengalami kerusakan. Beberapa kondisi atau penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan pada kelenjar adrenal adalah seperti:

  • Infeksi jamur, HIV, tuberkulosis
  • Penyebaran kanker hingga kelenjar adrenal
  • Autoimun
  • Penumpukan protein abnormal dalam tubuh 
  • Kelainan pada kelenjar pituitari
  • Kelainan pada hipotalamus
  • Operasi pengangkatan kelenjar adrenal

Risiko untuk menderita insufisiensi adrenal dapat meningkat pada wanita dengan usia 30 hingga 50 tahun yang menderita penyakit autoimun dan dengan kelainan kelenjar pituitari atau hipotalamus. 

Cara Mengobati Insufisiensi Adrenal

Memenuhi kebutuhan hormon kortisol dapat menjadi cara untuk mengobati insufisiensi adrenal. Hal ini dapat dilakukan dengan mengkonsumsi obat atau tablet dengan kandungan glukokortikoid sintetik.

Jika penderita juga mengalami penurunan hormon aldosteron, maka obat yang dapat dikonsumsi adalah fludrokortison asetat serta menambah asupan konsumsi garam. 

Apabila Anda merasakan gejala-gejala insufisiensi adrenal semakin memburuk, maka Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Melalui pengobatan yang tepat, pasien dengan insufisiensi adrenal dapat hidup dengan normal.

Lakukan Pemeriksaan PCR atau Rapid Tes dengan Promo Kesehatan agar Murah

Adanya virus covid-19 di tubuh seseorang bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan yang disebut PCR dan rapid tes. Belakangan, bahkan rapid tes dibedakan lagi menjadi 2, yaitu, rapid tes antibodi atau serologi dan rapid tes antigen. Harga tes ini pun beragam, untuk mendapatkan harga yang lebih murah, Anda bisa menggunakan promo kesehatan yang biasanya disediakan oleh berbagai jenis platform.

Namun, sebelum mencari berbagai promo kesehatan untuk diskon pemeriksaan covid-19 ini, ada baiknya Anda mengetahui jenis pemeriksaan mana yang akan Anda lakukan. Meskipun sama-sama bertujuan mendeteksi virus Corona, namun semua tes itu punya cara kerja masing-masing. Apa beda semua jenis tes yang sama-sama untuk mendeteksi virus corona ini? Berikut info selengkapnya.

Perbedaan Masing-masing Jenis Pemeriksaan Covid-19

Ketika Anda memiliki gejala-gejala yang mengarah pada Covid-19, seperti sesak napas, indera penciuman hilang, batuk, hingga demam, Anda disarankan untuk segera ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan atau tes Covid-19. Tes covid-19 yang bisa dilakukan adalah rapid tes antibodi, rapid tes antigen, dan PCR.

Berikut penjelasan lengkap untuk masing-masing tes yang berguna untuk mendiagnosis Covid-19 tersebut.

  1. PCR (Polymerase Chain Reaction)

Tes PCR ini adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan mendeteksi pola genetik (DNA dan RNA) dari virus Covid-19 atau jenis virus lainnya yang masuk ke tubuh. Tes PCR memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi sehingga merupakan tes yang direkomendasikan oleh WHO dalam mendeteksi adanya virus Covid-19 ini.

Meski begitu, hasil pemeriksaan tes PCR atau swab ini butuh waktu cukup lama, sekitar 1-7 hari. Tes PCR biasanya diperlukan bagi orang yang mengalami gejala seperti penderita Covid-19, apalagi orang tersebut memiliki riwayat pernah melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19.

  1. Rapid Tes Antigen

Selain swab atau PCR, biasanya pemeriksaan Covid-19 bisa dilakukan dengan rapid tes. Rapid tes ini bisa diketahui hasilnya dalam waktu yang singkat, hanya butuh beberapa menit hingga 1 jam menunggu hasilnya.

Hingga kini, rapid tes sendiri ada 2 jenisnya, salah satunya rapid tes antigen. Antigen adalah suatu zat atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Karena dianggap berbahaya, biasanya akan memicu sistem imunitas tubuh membentuk antibodi. 

Begitu juga dengan virus corona, jika masuk ke tubuh akan terdeteksi sebagai antigen oleh imun tubuh. Sehingga virus Covid-19 bisa dideteksi melalui pemeriksaan rapid tes antigen.

Melakukan rapid tes antigen untuk mendeteksi virus corona dilakukan dengan mengambil sampel lendir hidung atau pun tenggorokan melalui proses swab. Agar hasilnya akurat, tes antigen ini sebaiknya dilakukan maksimal 5 hari setelah gejala COvid-19 muncul.

Tingkat akurasi rapid tes antigen ini memang belum seakurat PCR, hanya saja sudah lebih baik dibanding rapid tes antibodi.

  1. Rapid Tes Antibodi

Virus Covid-19 yang masuk ke tubuh bisa terdeteksi oleh imunitas tubuh. Kemudian, sistem imun akan merespons dengan membentuk antibodi yang bertujuan memusnahkan antigen berupa virus Covid-19 tersebut. Antibodi untuk melawan virus Corona inilah yang dideteksi dengan rapid tes antibodi ini.

Rapid tes antibodi termasuk jenis pemeriksaan Covid-19 yang paling awal muncul. Pemeriksaan ini cukup cepat dan mudah dilakukan. Sayangnya, rapid tes antibodi ini tingkat akurasinya terbilang rendah dibanding 2 tes sebelumnya. Hasil pemeriksaan rapid tes antibodi ini dibaca sebagai reaktif dan nonreaktif.

Selain cara kerjanya, perbedaan ketiga jenis tes ini juga bisa dilihat dari segi harga. Rapid tes antibodi dibatasi maksimal harganya Rp 150.000, sedangkan rapid tes antigen maksimal Rp 275.000. Untuk tes PCR dibatasi maksimal seharga Rp 900.000.

Biasanya harga tersebut bisa lebih murah dengan memanfaatkan promo kesehatan di berbagai klinik maupun platform kesehatan lainnya. Sehingga harga tes Covid-19 yang akan Anda lakukan bisa lebih murah.

Mengenal Flu Hongkong dan Pandemi Influenza di Seluruh Dunia

Flu Hongkong, flu Mao, atau disebut juga dengan pandemi influenza 1968 termasuk dalam salah satu pandemi influenza terbesar dalam sejarah. Meski wabah ini tidak seseram flu Spanyol yang memakan korban tewas lebih dari 50 juta jiwa, flu Hong Kong menjadi sebab dilakukannya peningkatan kesiagaan dan percepatan produksi vaksin.

Awal mula flu Hong Kong

Pada awalnya wabah virus influenza muncul di China pada musim dingin tahun 1957. Virus ini menyebar dengan cepat ke belahan dunia lainnya dan memakan hampir 2 juta korban jiwa. Wabah ini kemudian dikenal dengan flu Asia.

Pada tahun 1968, muncul pandemi baru yang disebut flu Hongkong. Flu ini disebabkan oleh virus influenza A subtipe H3N2, yang merupakan mutasi dari virus Flu Asia, H2N2.

Meskipun tingkat kematiannya rendah, dua minggu setelah kasus pertama teridentifikasi di Hong Kong terjadi lonjakan pasien terinfeksi 15% populasi atau sekitar 500.000 orang. Karena tidak adanya peningkatan pencegahan dan penanganan epidemi yang dilakukan pasca flu Asia, pandemi baru ini dengan cepat mencapai India, Filipina, Australia Utara, dan Eropa, dan California pada bulan yang sama.

Pada tahun 1969, flu Hongkong menyebar ke Afrika, Jepang, dan Amerika Selatan. Gelombang kedua pandemi terjadi pada tahun-tahun berikutnya, yaitu 1969-1970, dengan jumlah kematian yang lebih banyak daripada gelombang pertama.

Seberapa mematikan flu Hong Kong?

Hampir sebagian besar pasien meninggal merupakan orang lanjut usia berusia di atas 65 tahun dan sangat berisiko bagi bayi. Ringannya wabah flu Hongkong diperkirakan karena kebanyakan orang menjadi lebih kebal dengan virus ini karena banyaknya kesamaan dengan virus flu Asia, dimana keduanya memiliki virus induk yang sama.

Momentum pandemi yang tidak pas membantu membatasi penyebaran infeksi. Selain itu paramedis sudah memiliki ketersediaan alat dan obat yang lebih efektif.

Meski begitu virus tersebut sangat menular. Mengetahui gejala flu Hongkong akan lebih baik agar bisa melakukan perawatan dengan cepat di kemudian harinya. Gejala ini biasanya bertahan antara empat dan enam hari, antara lain:

  • Infeksi saluran napas atas
  • Demam
  • Menggigil
  • Nyeri
  • Kelemahan otot

Sejak tahun 1968 sampai sekarang, virus H3N2 masih beredar dan dianggap sebagai virus musiman. Selain menular antar manusia, peneliti mencurigai peran hewan dalam penyebaran virus H3N2. Hal ini dikarenakan pada tahun 1990-an, virus yang berkerabat dekat dengan H3N2 ditemukan pada babi. Di kemudian hari, virus ini disebut dengan flu babi.

Catatan pandemi influenza di seluruh dunia

Influenza mungkin tidak selalu dianggap sebagai penyakit yang serius. Namun influenza musiman bisa membunuh banyak orang setiap tahunnya. Bahkan sejauh ini pandemi influenza menjadi salah satu penyebab berkurangnya sebagian besar populasi manusia di seluruh dunia.

Wabah influenza mematikan yang pernah terjadi yaitu:

  • Flu Rusia (1889-1890) dengan korban tewas 1 juta jiwa
  • Flu Spanyol (1918-1920) dengan korban tewas kurang lebih 50 juta jiwa
  • Flu Asia (1957-1958) dengan korban tewas kurang lebih hingga 2 juta jiwa
  • Flu Hong Kong (1968–1969) dengan korban tewas 1 juta jiwa
  • Flu babi (2009-2010) dengan korban tewas lebih dari 18.209

Flu Hong Kong atau jenis flu lainnya dapat menyerang secara tiba-tiba. Menjaga kondisi kesehatan menjadi satu-satunya kunci agar terhindar atau cepat pulih dari flu. Menjalani gaya hidup sehat, makan makanan bergizi, dan mencukupi kebutuhan nutrisi dengan multivitamin merupakan cara tepat meningkatkan kekebalan tubuh. Jika Anda memiliki pertanyaan terkait flu Hongkong, diskusikan langsung dengan dokter melalui aplikasi kesehatan SehatQ. Download sekarang di App Store atau Google Play Store.

Mengenal Oksidasi; Manfaat, Bahaya, dan Cara Mengontrolnya di Dalam Tubuh

Mungkin Anda sering mendengar istilah oksidasi dalam dunia medis atau kesehatan. Tapi tahukah Anda apa yang dimaksud dengan oksidasi? Oksidasi adalah suatu kondisi dimana terdapat jumlah radikal bebas yang terlalu banyak di dalam tubuh. Terlalu banyak jumlah kandungan radikal bebas akan membuat tubuh kesulitan untuk mengendalikannya.

Radikal bebas adalah molekul atau atom yang tidak memiliki pasangan, sehingga dapat menjadi sangat reaktif saat berinteraksi dengan molekul atau atom lainnya di dalam sel tubuh. Radikal bebas yang terlalu banyak di dalam tubuh dapat membuat perubahan yang merugikan pada lipid, protein dan DNA. Perubahan ini membuat beberapa fungsi fisiologis tubuh mengalami hambatan. 

Radikal bebas harus dikendalikan dan salah satu cara untuk mengatasi stres oksidasi ini adalah dengan mengkonsumsi sumber antioksidan alami.

Bagaimana Pengaruh Oksidasi bagi Tubuh?

Oksidasi tidak selalu berkaitan dengan hal negatif, karena dalam beberapa kondisi tertentu oksidasi dapat menguntungkan bagi tubuh. 

Stres oksidasi yang dihasilkan setelah melakukan aktivitas fisik dapat berguna bagi tubuh. Hal ini dikarenakan oksidasi dapat merangsang produksi antioksidan dan mengatur pertumbuhan jaringan sehingga melindungi diri dari infeksi dan penyakit.

Stres oksidasi yang dapat menimbulkan bahaya adalah jika dalam jangka panjang dan radikal bebas dalam jumlah yang banyak. Ketika di dalam tubuh terdapat radikal bebas dalam jumlah sedikit maka ia dapat berperan dalam proses pematangan struktur sel dan menjadi bagian dari sistem imun. Namun, jika dalam jumlah yang tinggi maka akan memicu fenomena stres oksidasi.

Bahaya yang dapat timbul akibat stres oksidasi diantaranya adalah:

  1. Kanker

Stres oksidasi dapat menimbulkan kerusakan pada DNA yang mana kerusakan tersebut adalah salah satu faktor munculnya perkembangan sel kanker. 

Hal-hal yang dapat menyebabkan oksidasi pengubah DNA dan menyebabkan pertumbuhan kanker adalah seperti kebiasaan merokok, polusi lingkungan, dan peradangan kronis.

  1. Penyakit Kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular adalah dimana terjadinya gangguan pada pembuluh darah dan jantung. Oksidasi dapat memicu terjadinya penyempitan pembuluh darah ketika lemak jalah dioksidasi oleh radikal bebas. Hal ini menyebabkan tumpukan lemak di dinding pembuluh darah.

  1. Gangguan Pernapasan

Oksidasi dapat menyebabkan gangguan pada pernapasan atau penyakit paru obstruktif kronis dan juga asma. Stres oksidasi meningkatkan peradangan kronis sistemik dan lokal yang menjadi pemicu gangguan pada sistem pernapasan.

  1. Pubertas yang Lambat

Remaja dalam usia pubertas yang terpapar senyawa kadmium dapat mengalami keterlambatan pubertas. Hal ini dikarenakan senyawa kadmium merupakan senyawa yang dianggap dapat memicu peningkatan radikal bebas dan menyebabkan stres oksidasi.

  1. Peradangan Kronis

Radikal bebas dapat menyebabkan rusaknya sel-sel didalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya peradangan kronis dan memicu beberapa penyakit seperti diabetes dan arthritis.

  1. Penyakit Neurodegeneratif

Penyakit neurodegeneratif yang dapat disebabkan oleh stres oksidasi adalah seperti Parkinson dan Alzheimer. Stres oksidasi bisa mempengaruhi fungsi otak karena otak membutuhkan oksigen dalam jumlah besar, bahkan mencapai 20 persen oksigen dari total kebutuhan keseluruh tubuh manusia.

Cara untuk Mencegah Stres Oksidasi

Untuk menghindari bahaya-bahaya yang disebabkan stres Oksidasi, Anda perlu menerapkan gaya hidup sehat. Anda dapat melakukan beberapa cara seperti berikut:

  • Olahraga secara rutin
  • Menghindari kebiasaan merokok
  • Menggunakan tabir surya
  • Mengurangi konsumsi minuman alkohol
  • Istirahat yang cukup
  • Makan secukupnya dan tidak berlebih
  • Menjauhi bahan kimia berbahaya

Selain itu, Anda juga dapat mencukupi kebutuhan antioksidan tubuh. Antioksidan merupakan zat yang dapat mengurangi kerusakan sel tubuh dikarenakan proses oksidasi. Beberapa jenis makanan yang mengandung banyak antioksidan adalah seperti tomat, jeruk, dan wortel. Antioksidan juga bisa didapatkan melalui suplemen seperti vitamin C, vitamin E, suplemen glutathione, dan beta karoten.

Waspada Jenis-Jenis Kontaminasi Makanan yang Membahayakan Kesehatan

Sadarkah Anda, makanan yang Anda konsumsi setiap harinya memiliki potensi terkena kontaminasi? Kontaminasi merupakan proses pemindahan bakteri atau mikroorganisme lainnya dari satu zat ke zat lainnya.

Pada makanan, kontaminasi umumnya terjadi saat ada perpindahan alergen, zat kimia, atau racun yang membuat makanan tersebut berpotensi mengganggu kesehatan Anda. Kontaminasi pada makanan ini bisa terjadi melalui apa saja dan dalam tahapan apa saja.

Jenis-jenis kontaminasi silang pada makanan

Ada tiga jenis utama kontaminasi silang yang bisa terjadi pada makanan. Jenis-jenis itu antara lain:

  • Kontaminasi dari makanan ke makanan

Jenis kontaminasi yang satu ini terjadi ketika Anda menambahkan atau mencampurkan makanan yang terkontaminasi ke makanan yang tidak terkontaminasi. Hal ini membuat makanan yang awalnya tidak terkontaminasi pun akhirnya ikut terkontaminasi.

Hal ini bisa terjadi karena bakteri berbahaya menyebar dan berkembang biak ke makanan yang awalnya tidak terkontaminasi. Bakteri ini akan lebih mungkin berkumpul pada makanan mentah, kurang matang, atau tidak dicuci dengan benar.

Ada beberapa makanan yang beresiko mengumpulkan bakteri kontaminasi tertinggi, yaitu sayuran hijau, tauge, keju lunak, sisa nasi, susu yang tidak dipasteurisasi, telur mentah, unggas, daging, serta makanan laut.

Selain itu, makanan sisa yang disimpan di kulkas terlalu lama juga bisa mengalami pertumbuhan bakteri. Karena itu, sebaiknya jangan simpan makanan sisa terlalu lama lebih dari 3-4 hari.

  • Kontaminasi dari peralatan ke makanan

Perpindahan bakteri dan virus penyebab kontaminasi juga bisa terjadi dari peralatan memasak ke makanan. Kondisi ini merupakan jenis kontaminasi yang paling umum, namun jarang disadari.

Bakteri bisa bertahan hidup cukup lama di permukaan meja dapur, perkakas, talenan, wadah penyimpanan, dan peralatan manufaktur makanan. Jika peralatan ini tidak dicuci dengan baik, tanpa disadari makanan yang berinteraksi dengan peralatan ini berpotensi terkontaminasi.

Tidak hanya itu, teknik mengawetkan makanan yang kuran tepat juga bisa memicu terjadinya kontaminasi silang. Hal ini bisa terjadi di perusahaan manufaktur yang mengelola makanan berpengawet, seperti sarden kaleng, daging maling, dan lain sebagainya. 

  • Kontaminasi dari orang ke makanan

Manusia bisa dengan mudah mentransfer bakteri dan virus dari tubuh atau pakaian ke makanan. Proses transfer ini bisa saja terjadi ketika Anda sedang mempersiapkan atau memasak makanan.

Salah satu bentuk kontaminasi yang umum terjadi adalah saat Anda batuk-batuk ketika memasak. Atau ketika Anda sudah memegang unggas mentah kemudian menyentuh bahan makanan lainnya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Inilah mengapa cuci tangan sangat penting sebelum memasak dan makan. Cuci tangan yang bersih dan teratur bisa menurunkan resiko kontaminasi makanan yang ditularkan dari orang. 

Apa yang terjadi saat mengonsumsi makanan terkontaminasi?

Untuk reaksi yang ringan, mengonsumsi makanan terkontaminasi bisa menyebabkan sakit perut, sakit kepala, mual, dan diare. Reaksi ini biasanya bisa timbul dalam waktu 24 jam setelah makanan dikonsumsi.

Apabila efek sampingnya lebih serius, Anda mengalami diare yang sangat parah selama lebih dari tiga hari, dengan adanya darah dalam kotoran yang dikeluarkan. Bila dibiarkan, hal ini bisa menyebabkan kerusakan organ dan kehilangan cairan yang parah.

Apabila efek samping yang dirasakan setelah mengonsumsi makanan dengan kontaminasi berlangsung lama, segera menghubungi dokter Anda untuk mendapatkan pertolongan yang tepat. Biasanya, efek samping ini bisa membaik setelah meminum obat dalam 1-2 hari.

Penyebab dan Gejala Graft Versus Host Disease

Graft Versus Host Disease (GvHD) merupakan kondisi komplikasi yang terjadi pada seseorang setelah menjalani transplantasi organ. Hal ini cukup sering terjadi pascatranspantasi organ bahkan jika pendonor memiliki hubungan darah, baik kerabat dekat maupun jauh. Risiko terjadinya GvHD bisa meningkat apabila pendonor transpantasi organ tidak memiliki hubungan darah dengan pasien. Spektrum GvHD terbagi menjadi 2 jenis yaitu tipe akut dan kronis. Pada tipe akut, GvHD terjadi dalam 100 hari pascatranspantasi, sedangkan GvHD kronis terjadi pada lebih dari 100 hari pascatransplantasi.

Penyebab graft versus host disease

Kondisi GvHD muncul akibat interaksi sel imun pendonor dengan sel imun penerima. Sel imun pendonor akan menyerang sel imun milik penderita karena terdeteksi sebagai bakteri atau virus. Hal itulah yang kemudian akan memicu munculnya gejala GvHD. Risiko GvHD akan meningkat karena beberapa faktor seperti:

  • Pendonor atau penerima sudah berusia tua
  • Pendonor atau penerima tdak memiliki hubungan darah dekat
  • Menjalani transplantasi sel punca
  • Pendonor pernah hamil
  • Pendonr dan penerima memiliki jenis kelamin berbeda

Gejala graft versus host disease

Graft versus host disease menyerang banyak sistem dan organ tubuh sehingga akan memunculnya banyak gejala yang beragam. Umumnya, organ yang memunculkan gejala adalah sistem pencernaan, hati, dan  kulit. Gejala awal GvHD adalah munculnya ruam gatal pada telapak tangan dan tumit kaki, diare, mual, dan muntah. Selain itu, gejala GvHD akan terbagi menurut jenis GvHD yang dialami seperti berikut ini.

  • Gejala GvHD akut

Berikut ini merupakan gejala GvHD akut yang dialami yaitu:

  • Demam
  • Turunnya nafsu makan
  • Kulit dan bagian putih mata menjadi kuning
  • Kadar se darah merah rendah
  • Nyeri perut
  • Gejala GvHDkronis

Berikut ini merupakan gejala GvHD kronis yang dialami yaitu:

  • Penebalan kulit
  • Nyeri sendi
  • Mata lebih sensitif terhadap cahaya
  • Mata kering dan sering iritasi
  • Mulut dan kerongkongan kering
  • Rambut rontok
  • Vagina kering dan sering iritasi
  • Kuku menjadi rapuh
  • Warna kulit lebih gelap
  • Sering mengalami mengi
  • Batuk terus menerus

Cara mengobati graft versus host disease

Berikut ini merupakan cara untuk mengobati graft versus host disease yang biasanya muncul pascatransplantasi.

  • Pemberian obat imunosupresan

Obat-obatan untuk menekan sistem imun atau imunosupresan dapat diberikan untuk menangani GvHD. Berbagai obat tersebut salah satunya adalah kortikosteroid.

  • Extracorporeal photophoresis (ECP)

ECP merupakan terapi yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi GvHD. ECP merupakan kombinasi terapi fotodinamik dengan leukoferensis. Pada terapi ini, darah pasien akan diambil kemudian diberi paparan sensitizing agent diikuti dengan radiasi ultraviolet. Setelahnya darah akan dimasukkan kembali melalui infus ke dalam tubuh pasien.

  • Penanganan lainnya

Gejala spesifik yang muncul karean GvHD juga perlu ditanani dengan beberapa langkah seperti:

  • Pemberian obat kumur khusus
  • Penggunaan tetes mata berisi air mata buatan atau obat steroid
  • Penggunaan krim steroid
  • Menjaga kulit selalu lembab
  • Pemberian cairan infus pada kasus dehidrasi

Pencegahan graft versus host disease terus diupayakan dari waktu ke waktu. Risiko terjadinya GvHD semakin menurun ketika semakin majunya teknologi transplantasi organ dalam dunia kesehatan. Apabila Anda baru selesai melakukan operasi transplantasi dan mengalami berbagai gejala GvHD maka segera konsultasikan dengan dokter. Serangkaian pemeriksaan akan dilakukan guna memastikan apakah seseorang terkena GvHD atau masalah medis lainnya. Konsultasi kesehatan lainnya juga dapat Anda lakukan melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.

8 Komplikasi Gagal Jantung yang Perlu Diwaspadai

Gagal jantung adalah bentuk dari gangguan jantung yang terjadi saat jantung sulit memompa darah ke seluruh tubuh. Ini membuat jantung akan membesar, melemah, dan memompa lebih cepat. Gagal jantung ini kondisi yang tidak boleh dibiarkan, sebab bisa memicu komplikasi gagal jantung.

Saat seseorang mengalami gagal jantung, harapan hidup pasien juga akan semakin menurun. Apa saja komplikasi gagal jantung yang mungkin dialami dna dapat menurunkan angka harapan hidup seseorang? Simak selengkapnya berikut ini.

Komplikasi Gagal Jantung

Berikut berbagai komplikasi gagal jantung yang harus Anda waspadai.

  • Kerusakan Katup Jantung

Perlu diketahui bahwa jantung manusia memiliki 4 katup yang bisa membuka dan menutup untuk menjaga aliran darah masuk dan keluar. Organ jantung mengalami perubahan ukuran karena bekerja lebih keras untuk memompa darah akibat gagal jantung yang dialami. Sehingga katup jantung mengalami kerusakan karena adanya perubahan ukuran jantung tersebut.

  • Atrial Fibrilasi

Komplikasi gagal jantung selanjutnya adalah irama jantung yang tidak normal atau atrial fibrilasi. Kondisi ini terjadi akibat gagal jantung sehingga jantung menjadi lemah dan bagian serambi sulit berkontraksi tepat pada waktunya.

Gagal jantung bisa semakin memburuk dengan apabila detak jantung tidak beraturan dan memicu palpilasi atau detak jantung menjadi kencang. Kondisi ini berisiko menimbulkan adanya gumpalan darah yang pindah ke otak dan juga memicu stroke.

  • Kerusakan Ginjal

Selain itu, komplikasi gagal jantung juga menyebabkan gagal ginjal, lho. Hal ini karena kurangnya suplai darah ke ginjal. Sehingga ginjal sulit bekerja normal untuk menyingkirkan berbagai racun atau zat sisa dalam darah. Lama kelamaan, kondisi ini memicu terjadinya gagal ginjal atau kerusakan ginjal.

Parahnya, gagal ginjal akan memperburuk kondisi gagal jantung yang dialami. Ginjal yang rusak tidak akan bisa menyingkirkan kelebihan air dalam darah sehingga air akan menumpuk dalam tubuh. Kemudian penumpukan air tersebut membuat tekanan darah menjadi naik. Efeknya akan menambah masalah yang baru di jantung.

  • Anemia

Komplikasi dari gagal jantung lainnya adalah anemia. Gagal jantung memicu kerusakan pada ginjal yang berfungsi memproduksi hormon protein (eritropoietin atau EPO).

EPO ini penting dalam produksi sel darah merah yang sehat dan baru. Ketika terjadi gagal jantung dan gagal ginjal, maka produksi EPO ini juga ikut terganggu dan menghambat produksi sel darah merah yang menyebabkan anemia.

  • Kerusakan Paru-paru

Komplikasi gagal jantung juga bisa menyerang paru-paru. Gagal jantung akan membuat jantung kesulitan mengalirkan darah dari paru-paru untuk keluar dan terjadi penumpukan di paru-paru.

Pasien yang mengalami gagal jantung akan sulit bernapas akibat adanya penumpukan cairan di dalam paru-paru. Jika tidak ditangani segera, kondisi ini berisiko fatal.

  • Kerusakan Organ Hati

Organ hati juga bisa terkena dampak akibat komplikasi gagal jantung ini. Sebab, gagal jantung memicu terjadinya penumpukan cairan dan tekanan pada pembuluh vena porta pun jadi meningkat. Sehingga menyebabkan terbentuknya jaringan parut di organ hati. Tentu saja ini dapat mengganggu aktivitas organ hati yang fungsinya vital bagi tubuh.

  •  Depresi

Pasien yang mengalami gagal jantung juga berisiko mengalami depresi yang berkepanjangan. Seseorang yang mengalami depresi akan menurunkan kualitas hidupnya. Selain itu, gagal ginjal juga menyebabkan fungsi tubuh menjadi terbatas, biaya perawatan yang mahal, serta kondisi kesehatan tubuh sendiri semakin memburuk. Tentu saja kondisi di atas meningkatkan potensi pasien mengalami depresi.

  • Berat Badan Menurun Drastis

Komplikasi gagal jantung lainnya adalah penurunan massa otot dan juga berat badan yang terbilang drastis bahkan ekstrem. Gagal jantung akan mengganggu metabolisme lemak yang berpengaruh pada otot. Pada kondisi yang lebih parah, otot dapat melemah bahkan mengecil dan berat badan bisa menurun secara drastis.