Gejala & Pengobatan Kanker Usus Besar

Kanker usus besar merupakan jenis kanker yang melibatkan usus besar dimana gangguan tersebut terjadi karena adanya kumpulan sel yang disebut sebagai polip.

Stadium Kanker Usus Besar

Seseorang yang menderita kanker usus besar bisa terjadi dalam lima stadium. Kelima stadium kanker usus besar menentukan seberapa parah penyakit yang dialami penderita. Berikut adalah informasi lebih lanjut tentang stadium kanker usus:

  • Stadium 0

Stadium 0 merupakan stadium awal kanker usus besar dimana jenis kanker yang dialami penderita belum tumbuh lebih jauh dari lapisan dalam usus besar (rektum). Seseorang yang menderita kanker stadium 0 akan mudah diobati.

  • Stadium 1

Stadium 1 merupakan stadium dimana kanker telah tumbuh ke lapisan jaringan berikutnya, namun belum mencapai nodus limfa atau organ lain.

  • Stadium 2

Stadium 2 merupakan stadium dimana kanker telah mencapai lapisan luar usus besar, namun belum menyebar ke bagian luar usus besar.

  • Stadium 3

Stadium 3 merupakan stadium dimana kanker telah mencapai lapisan luar usus besar dan menyebar ke satu hingga tiga nodus limfa. Meskipun demikian, kanker belum menyebar ke bagian tubuh yang jauh.

  • Stadium 4

Stadium 4 merupakan stadium dimana kanker telah mencapai jaringan lain pada bagian luar dinding usus besar. Ketika penderita mencapai stadium 4, kanker usus besar mencapai bagian tubuh yang jauh.

Gejala

Pada awalnya, seseorang yang menderita kanker usus besar tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka akan mengalami gejala sebagai berikut:

  • Diare.
  • Sembelit.
  • Perut kembung.
  • Perubahan feses secara konsisten.
  • Feses berair.
  • Darah pada feses.
  • Tubuh terasa lelah.
  • Penurunan berat badan.
  • Sindrom iritasi usus.

Pengobatan

Jika Anda menderita kanker usus besar, Anda sebaiknya periksa diri ke dokter. Dokter dapat membantu Anda menentukan pengobatan yang tepat untuk Anda. Ada tiga pilihan yang dapat dilakukan untuk menangani kanker usus besar, antara lain:

  • Operasi

Salah satu cara yang efektif untuk mengatasi kanker usus besar adalah operasi. Operasi dilakukan dengan mengangkat sebagian atau seluruh usus besar yang disebut sebagai kolektomi. Dokter tidak hanya mengeluarkan bagian usus yang terdapat kanker, namun juga bagian lain seperti nodus limfa yang terdampak oleh kondisi serupa untuk mengurangi risiko penyebaran.

Setelah melakukan hal tersebut, dokter akan mengembalikan usus besar atau membuat stoma. Stoma merupakan lubang yang dibuat pada bagian dinding perut. Feses pasien akan dikeluarkan dari lubang tersebut. Prosedur ini disebut sebagai kolostomi.

  • Kemoterapi

Kemoterapi merupakan cara lain yang dapat dilakukan dokter dengan menggunakan obat-obatan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Kemoterapi diperlukan jika sel kanker usus besar sudah menyebar secara luas. Selain itu, obat-obatan kemoterapi dapat mengganggu protein dan merusak sel-sel sehat.

  • Terapi radiasi

Terapi radiasi juga dapat dilakukan dokter dengan menggunakan paparan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker. Terapi radiasi dapat dilakukan jika pasien mengalami kanker usus besar fase terakhir.

Pencegahan

Selain pengobatan, berikut adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah risiko kanker usus besar:

  • Mengkonsumsi makanan sehat seperti sayuran dan buah-buahan.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Hindari kebiasaan buruk seperti merokok atau mengkonsumsi alkohol.
  • Melakukan pemeriksaan secara rutin jika usia Anda di antara 50 hingga 75 tahun.

Kesimpulan

Kanker usus besar merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai, karena dapat menyebabkan berbagai gejala. Meskipun demikian, kanker usus besar dapat diatasi dengan cara-cara yang disebutkan di atas. Untuk informasi lebih lanjut tentang kanker usus besar, Anda bisa konsultasikan persoalan tersebut dengan dokter.

Sama-Sama Buat Pusing Berputar, Ini Perbedaan Dua Jenis Vertigo

Apakah Anda salah satu orang yang sering kali mengalami vertigo secara berulang? Tahukah Anda bahwa terdapat dua jenis vertigo yang dapat menyerang kesehatan Anda? Mengetahui jenis vertigo akan dapat membantu Anda dalam mencari penanganan yang tepat untuk rasa sakit kepala dan gejala vertigo lain yang Anda rasa.

Pada dasarnya, kedua jenis vertigo, baik itu vertigo perifer maupun vertigo sentral, sama-sama dapat menyebabkan rasa pusing dan sensasi berputar. Meski begitu, terdapat pula perbedaan di antara kedua, seperti perbedaan penyebab atau pemicu vertigo, ciri-ciri, hingga pengobatannya. Penjelasan lebih lanjut tentang perbedaan ini, dapat Anda simak berikut.

Apa perbedaan penyebab vertigo perifer dan vertigo sentral?

Kedua jenis vertigo dipicu oleh adanya gangguan pada organ yang mengatur keseimbangan. Vertigo perifer terjadi ketika adanya gangguan pada telinga bagian dalam yang berperan untuk menjaga keseimbangan. Sementara itu, vertigo sentral terjadi karena adanya gangguan di sekitar otak, khususnya bagian serebelum atau area otak yang berfungsi dalam mengontrol keseimbangan dan koordinasi tubuh.

Penyebab vertigo perifer

  • Cedera pada telinga atau area kepala
  • Adanya tekanan pada saraf vestibular, missal tumbuh tumor jinak
  • Konsumsi obat tertentu, seperti diuretik, salisilat, antibiotik, atau amiglikosida
  • Penyakit Meniere yang disebabkan adanya penumpukan cairan pada telinga bagian dalam
  • BPPV (benign paroxysmal positional vertigo) yang terjadi akibat adanya kristal kalsium yang mengambang di telinga bagian dalam
  • Neuronitis: peradangan saraf vestibular (saraf penghubung telinga bagian dalam dengan otak)
  • Labirinitis: iritasi atau pembengkakan pada telinga bagian dalam

Penyebab vertigo sentral

  • Tumor pada serebelum
  • Stroke
  • Kejang
  • Multiple sclerosis
  • Migrain
  • TIA (transient ischemic attacks)
  • Gangguan di area sekitar pembuluh darah
  • Konsumsi obat tertentu (aspirin dan antikejang) dan alkohol

Perbedaan ciri-ciri vertigo perifer dan vertigo sentral

Tidak hanya penyebab, namun juga terdapat perbedaan pada ciri-ciri vertigo perifer dan vertigo sentral.

Gejala atau tanda vertigo perifer

  • Mual, muntah, dan dehidrasi
  • Rasa nyeri pada telinga
  • Telinga berdenging
  • Pusing
  • Hilangnya pendengaran untuk sementara
  • Gangguan penglihatan akibat tidak fokus karena pergerakan mata yang tidak dapat dikontrol

Gejala atau tanda vertigo sentral

  • Kesulitan dalam menelan
  • Tungkai terasa lemas
  • Kesulitan dalam berbicara
  • Bagian wajah tertentu mengalami kelumpuhan
  • Sakit kepala
  • Hilangnya fokus penglihatan akibat pergerakan mata tidak terkontrol
  • Lemas pada tungkai
  • Pandangan berbayang dua

Sementara itu, durasi terjadinya vertigo perifer biasanya lebih singkat jika dibanding dengan vertigo sentral. Namun, gangguan pada telinga lebih sering terjadi.

Bagaimana cara mengobati vertigo perifer dan vertigo sentral?

Salah satu cara yang efektif dalam mengobati vertigo perifer dan vertigo sentral yaitu dengan mengatasi dari sumber penyebab vertigo itu sendiri. Contoh, jika vertigo perifer terjadi karena adanya neuronitis, penyakit Meniere, atau labirinitis, cara mengobatinya dapat dilakukan dengan mengonsumsi obat antiinflamasi. Sementara itu, vertigo sentral yang disebabkan migrain perlu diatasi dengan cara yang serupa dalam mengatasi migrain itu sendiri. Namun, jika vertigo sentral terjadi akibat tumor, maka pengangkatan tumor menjadi cara terbaik untuk mengobati vertigo tersebut.

Jika menilik perbedaan antara kedua jenis vertigo tersebut, diketahui bahwa vertigo perifer lebih sering terjadi jika dibanding dengan vertigo sentral. Gejala dan durasi vertigo sentral dikatakan lebih berat dan cukup serius jika dibanding vertigo perifer.

Mengenal tentang Kejang Parsial dan Gejalanya

Kejang parsial dapat berdampak pada bagian tubuh tertentu atau satu sisi tubuh saja. Tetapi kejang ini terkadang dapat berubah menjadi kejang yang menyeluruh. Kejang parsial adalah kejang yang berdampak hanya pada satu area otak dan kejang timbul akibat aktivitas listrik otak yang tidak normal.

Kajang yang disebut sebagai kejang fokal ini juga sering terjadi pada orang dewasa dengan epilepsi. Bentuk kejang yang muncul bergantung pada bagian otak yang terkena. Gejalanya bisa berupa gerakan motorik atau terasa sebagai sensasi pada panca indra.

Selain itu, terdapat dua tipe kejang parsial yaitu kejang parsial sederhana dan kompleks. Pada kejang parsial sederhana, tidak terjadi kehilangan kesadaran. Sedangkan pada kejang parsial kompleks, kejang disertai dengan hilangnya kesadaran. Pasalnya, aktivitas listrik yang tidak normal mengenai kedua sisi otak.

Gejala kejang parsial

Gejala parsial bergantung pada bagian otak yang terkena. Kejang ini dapat terjadi pada satu bagian tubuh saja atau satu sisi tubuh. Berikut gejala umum yang biasa terjadi pada penderitanya:

  • Mata bergerak ke satu sisi secara berulang-ulang
  • Penglihatan mata berkurang sebelah
  • Kesulitan berbicara
  • Mulut berkedut
  • Merasa ada sesuatu yang merayap di kulit
  • Berkeringat, merasa gelisah atau panik
  • Penurunan atensi
  • Satu sisi tubuh sulit digerakkan.

Sedangkan berdasarkan kategorinya kejang parsial dapat berdampak pada empat aspek, yaitu motorik, sensorik, psikis, dan autonomik, berikut penjelasannya:

  • Dampak motorik

Pada kejang parsial motorik, penderitanya akan kehilangan kendali atas gerak ototnya. Misalnya pada otot wajah, tangan, kaki, atau bagian tubuh lainnya.

  • Dampak sensorik

Kejang sensorik berdampak pada indera penglihatan, pendengaran, atau penciuman. Contohnya, penderitanya akan merasa mendengar suara atau mencium bau yang sebenarnya tidak ada.

  • Dampak autonomik

Dampak automik berpengaruh pada fungsi tubuh yang di luar kendali, seperti tekanan darah, denyut jantung, atau gerak usus.

  • Dampak psikis

Kejang tidak hanya ditandai dengan gejala gangguan pada gerak otot, tetapi juga dapat berupa perubahan perasaan. Seperti, muncul rasa ketakutan, panik, atau dejavu.

Kejang parsial umumnya berlangsung sekitar 1-2 menit saja. Setelahnya, penderita kejang ini bisa merasa bingung atau sulit berpikir jernih. Selain itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis kejang parsial.

Hernia Inguinal

Hernia inguinal merupakan gangguan yang terjadi di bagian perut. Kondisi tersebut terjadi ketika lemak atau jaringan usus terdorong melalui otot yang lemah pada dinding perut yang letaknya dekat dengan kanalis (saluran) inguinal kiri dan kanan. Semua kanalis inguinal berada di dasar perut.

Kanalis inguinal dimiliki baik pria maupun wanita. Jika seseorang mengalami hernia, maka akan muncul tonjolan di bagian yang terdampak. Tonjolan tersebut bisa menimbulkan rasa nyeri ketika manusia bergerak.

Banyak orang berpikir bahwa mereka tidak membutuhkan pengobatan untuk mengatasi hernia, karena hernia muncul dalam ukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala. Meskipun demikian, pengobatan akan dibutuhkan untuk mencegah penonjolan berikutnya dan mengurangi risiko komplikasi pada tubuh.

Gejala

Seseorang yang mengalami hernia inguinal bisa mengalami gejala sebagai berikut:

  • Tonjolan di area pada kedua sisi dari tulang kemaluan.
  • Merasa nyeri atau terbakar di bagian tonjolan.
  • Ketidaknyamanan di bagian paha, terutama ketika batuk, membungkuk, atau mengangkat barang.
  • Merasa tertarik di bagian paha.
  • Tekanan pada pangkal paha.
  • Merasa bengkak di bagian testis ketika usus yang menonjol turun ke dalam skrotum.

Penyebab

Penyebab hernia inguinal belum dapat ditentukan dengan pasti. Namun, bagian lemah di dalam otot perut dan otot pangkal bisa merupakan faktor yang dapat memicu terjadinya masalah tersebut.

Selain itu, berikut adalah faktor lain yang dapat memicu hernia inguinal:

  • Tekanan tambahan pada tubuh.
  • Riwayat hernia inguinal yang terjadi pada keluarga.
  • Pernah menjalani operasi hernia.
  • Jenis kelamin dimana pria mengalami risiko 8 kali lebih besar dibandingkan wanita.
  • Lahir secara prematur yang disertai dengan berat badan rendah.
  • Obesitas.
  • Kehamilan.
  • Fibrosis kistik.
  • Batuk kronik.
  • Konstipasi kronis.
  • Merokok.

Diagnosis

Jika Anda mengalami hernia inguinal, Anda sebaiknya konsultasikan masalah ini ke dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan melakukan diagnosis. Diagnosis yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik untuk mengetahui seberapa parah kondisi yang dialami pasien.

Pengobatan

Untuk mengobati hernia inguinal, cara yang dapat dilakukan adalah operasi. Dokter akan mendorong jaringan menonjol kembali dan menguatkan dinding perut dengan jahitan. Sayatan kecil juga perlu dilakukan di bagian perut dengan alat khusus. Prosedur ini disebut sebagai laparoskopi.

Dengan melakukan prosedur laparoskopi, penderita akan lebih cepat sembuh dan tidak mengalami luka. Cara ini lebih baik dibandingkan dengan operasi konvensional.

Pencegahan

Anda juga dianjurkan untuk melakukan beberapa hal di bawah untuk mencegah hernia inguinal:

  • Menjaga berat badan agar tetap ideal.
  • Mengkonsumsi makanan yang mengandung serat tinggi.
  • Jangan sering melakukan aktivitas yang terlalu berat seperti mengangkat beban yang berat.
  • Jangan merokok.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda menemukan tonjolan pada pangkal paha, Anda perlu konsultasikan masalah tersebut ke dokter. Sebelum Anda berkonsultasi dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Mencatat riwayat medis keluarga, termasuk Anda (jika ada).
  • Mencatat gejala yang Anda alami.
  • Mencatat obat yang Anda konsumsi.
  • Mencatat pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.

Selama Anda berkonsultasi dengan dokter, dokter akan menanyakan kepada Anda mengenai kondisi yang Anda alami seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Apakah gejala yang Anda alami membaik atau memburuk?
  • Apakah Anda memiliki riwayat medis?
  • Apakah Anda menggunakan obat-obatan?

Kesimpulan

Hernia inguinal merupakan gangguan medis yang serius dimana gejala yang dialami penderita membutuhkan pengobatan yang tepat seperti operasi. Oleh karena itu, jika Anda ingin menjaga kondisi dari hernia inguinal, Anda sebaiknya ikuti anjuran yang disebutkan di atas.

Kekurangan Enzim Tripsin Dapat Membahayakan Tubuh

Enzim tripsin adalah sebuah enzim yang membantu tubuh dalam mencerna protein. Di usus halus, tripsin mengurai protein, melanjutkan proses pencernaan yang dimulai di perut. Enzim tripsin diproduksi oleh pankreas dalam sebuah bentuk tidak aktif yang dikenal dengan nama trypsinogen. Trypsinogen masuk ke dalam usus kecil melalui saluran empedu umum dan diubah menjadi tripsin aktif. Tripsin aktif tersebut, bersama dengan proteinase pencernaan utama yaitu pepsin dan chymotrypsin, bekerja untuk mengurai protein diet menjadi asam amino dan peptida. Asam amino ini sangat penting untuk perkembangan otot, produksi hormon, dan fungsi tubuh penting lainnya. 

Komplikasi akibat kadar tripsin yang kurang

Apabila tubuh tidak memproduksi enzim tripsin dalam jumlah yang memadai, hal tersebut dapat menyebabkan beberapa kondisi komplikasi kesehatan, seperti:

  • Malabsorsi

Apabila pankreas Anda tidak memproduksi enzim tripsin dalam jumlah yang cukup, Anda akan menderita gangguan pencernaan yang dikenal dengan nama malabsorsi, atau menurunnya kemampuan untuk mencerna dan menyerap nutrisi dari makanan. Apabila dibiarkan, malabsorsi dapat menyebabkan defisiensi beberapa nutrisi penting esensial, yang nantinya akan berujung malnutrisi dan anemia.

  • Pankreatitis

Dokter akan memeriksa kadar enzim tripsin di dalam darah sebagai bentuk pemeriksaan diagnosa pankreatitis. Pankreatitis adalah sebuah kondisi peradangan pada pankreas yang dapat menyebabkan rasa sakit pada bagian tengah atau kanan atas perut, demam, detak jantung yang cepat, dan pusing. Meskipun kasus pankreatitis ringan dapat hilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa hari tanpa perawatan, kasus yang lebih parah dapat menyebabkan komplikasi serius seperti infeksi dan gagal ginjal, yang dapat menyebabkan kematian.

  • Fibrosis kistik

Dokter juag akan memeriksa jumlah tripsin dan chymotrypsin yang terdapat pada darah dan kotoran. Pada bayi, kadar kedua enzim pada darah yang tinggi mengindikasikan adanya gangguan genetik resesif yang disebut fibrosis kistik. Pada orang dewasa, kadar tripsin dan chymotrypsin yang rendah di kotoran merupakan indikasi fibrosis kistik dan penyakit-penyakit pankreas seperti pankreatitis.

Enzim tripsin dan penyakit kanker

Banyak penilitian dilakukan guna mengetahui hubungan antara enzim tripsin dan penyakit kanker. Beberapa studi mengindikasi bahwa enzim tripsin memilik peran menekan tumor dalam perkembangan kanker. Sementara itu, studi lain juga menunjukkan bahwa tripsin ikut meningkatkan proliferasi, invasi, dan metastasis pada banyak jenis kanker. Kesimpulan yang berbeda tersebut dapat dijelaskan pada asal enzim tripsin tersebut berasal. Penelitian yang menunukkan bahwa produksi tripsin pada jaringan selain pankreas dapat terlibat pada pertumbuhan tumor jinak sel-sel kanker.

Suplemen tripsin alami

Ada banyak jenis suplemen yang mengandung tripsin di pasaran. Kebanyakan dari produk-produk tersebut tidak membutuhkan resep dokter. Suplemen-suplemen ini mengkombinasikan enzim tripsin (yang diekstrak dari pankreas hewan) dalam beragam dosis dengan enzim-enzim lain. Adapun manfaat dari suplemen tersebut adalah merawat gangguan pencernaan, mengurangi rasa sakit dan peradangan osteoarthritis, dan mempercapat penyembuhan akibat cidera saat olahraga. Namun, penting untuk diingat bahwa sebelum Anda mengonsumsi suplemen apapun, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menghindari komplikasi dan efek samping yang dapat ditimbulkan.

Enzim tripsin penting dibutuhkan oleh tubuh untuk mencerna protein, komponen penting dalam membangun dan memperbaiki jaringan tubuh seperti tulang, otot, kulit, dan darah. Apabila dikombinasikan dengan chymotrypsin, enzim tripsin dapat membantu proses penyembuhan luka atau cidera. Mengukur jumlah enzim tripsin dalam tubuh dapat membantu mengidentifikasi adanya gangguan kesehatan seperti pankreatitis dan fibrosis kistik.

Tanda-tanda Kanker Ovarium yang Perlu Dipahami Wanita

Tanda-tanda Kanker Ovarium yang Perlu Dipahami Wanita

Menjadi penyakit yang selalu dikhawatirkan oleh para perempuan, kanker ovarium memang harus diwaspadai keberadaannya. Munculnya kanker ini diakibatkan kondisi tumor ganas yang berkembang di dalam indung telur, bagian yang khusus memproduksi hormon wanita. Jika diobati dengan tepat dan bisa terdeteksi lebih awal, maka bisa dicegah.

Kasus yang terjadi akibat penyakit ini di dunia diperkirakan sudah mencapai lebih dari 200 ribu dalam setiap tahunnya. Di Indonesia, data terkait kanker ini masih belum selengkap dari data penyakit kanker lainnya, seperti kanker payudara dan serviks. Meski demikian, jumlah kasus yang terjadi di setiap tahunnya diketahui selalu bertambah.

Tanda-tanda Kanker Ovarium

Pada umumnya semua jenis penyakit kanker memang sangat jarang menimbulkan gejala di awal kemunculannya. Hal inilah yang menyebabkan kanker jenis ini baru bisa terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut, namun demikian berikut ini terdapat beberapa tanda-tanda yang perlu diwaspadai untuk mengetahui kanker pada ovarium.

  • Mual dan perut terasa kembung hingga cepat merasa kenyang, bisa juga disertai sakit perut yang hebat hingga mengalami sembelit.
  • Munculnya pembengkakan pada perut, sering buang air kecil dan akhirnya mengalami penurunan berat badan.
  • Mengalami sakit di bagian vagina ketika melakukan hubungan seks hingga mengeluarkan darah dan berujung pada perubahan siklus menstruasi.

Indung telur yang terletak di dekat kandung kemih dan usus menjadi penyebab munculnya gejala masalah pencernaan yang berkaitan dengan tumor. Apabila gejala mengenai gangguan pencernaan berlangsung selama tiga minggu, maka dalam keadaan ini harus segera melakukan konsultasi dengan dokter ahli.

Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab munculnya kanker yang menyerang ovarium, perempuan yang terjangkit penyakit ini biasanya sudah memasuki masa menopause. Namun tidak hanya itu, riwayat keluarga juga bisa menjadi penyebab perempuan terkena penyakit kanker ini, berikut ini beberapa penyebab munculnya kanker pada ovarium.

  • Terapi Hormon Estrogen

Terapi ini biasanya dilakukan oleh para wanita yang hampir memasuki masa menopause, perempuan yang menjalani terapi ini sangat rentan terkena kanker. Maka dari itu, untuk menjalani terapi ini harus dengan sangat hati-hati.

  • Riwayat Keluarga

Seperti yang sudah dijelaskan sedikit di atas bahwa salah satu penyebab seseorang terkena kanker pada ovarium adalah riwayat keluarga. Untuk mengetahui hal ini bisa dengan melakukan tes darah, nantinya dapat dilihat lewat kadar CA-125 dalam tubuh.

  • Gaya Hidup Tak Sehat

Salah satu tanda gaya hidup tak sehat adalah mengalami obesitas, dalam mengatasi hal ini bisa dilakukan dengan diet. Konsumsi makanan sehat dan rutin dalam berolahraga setiap hari secara teratur.

  • Proses Ovulasi

Kerusakan pada ovarium juga bisa dipengaruhi pada proses pelepasan sel telur selama ovulasi di setiap bulannya. Risiko kemungkinan ovarium terkena kanker bisa menurun jika kondisi tersebut dapat dicegah, sementara itu ovulasi akan berhenti dengan sendirinya selama masa kehamilan dan menyusui.

Kanker ovarium menjadi salah satu penyakit yang sulit untuk dicegah, hal ini tak lepas dari apa yang penyebab pasti kemunculannya. Namun, secara umum ditandai ketika sel-sel sehat mengalami mutasi genetik, itulah yang membuat perubahan sel normal yang berubah menjadi abnormal di dalam tubuh.

Sementara sel-sel sehat yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya akan mati secara perlahan, sebaliknya sel abnormal yang ada justru tumbuh tanpa terkendali. Tumbuhnya sel-sel abnormal ini yang membentuk tumor dan bermetastasis.

Cara Efektif Mengatasi Perut Kembung agar Tak Jadi Masalah Berkelanjutan

Permasalahan seputar perut kembung sudah bukan hal yang asing lagi bagi orang Indonesia. Masalah perut kembung sudah umum di masyarakat. Walaupun kedengarannya sepele, namun permasalahan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Tenang! Tidak perlu sampai ke dokter apabila masalah ini berlangsung dalam sehari saja. Ada cara-cara alami yang efektif untuk mengatasi perut kembung lho. Yuk, simak penjelasannya berikut!

  1. Kurangi konsumsi makanan yang meningkatkan kadar gas dalam lambung, seperti kacang-kacangan, kol, bawang, brokoli, kembang kol, jamur, atau makanan yang terbuat dari gandum utuh. 
  2. Hindari makanan berlemak. Lambung memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna makanan berlemak. Ketika proses pencernaan, makanan berlemak akan berada lebih lama di dalam lambung dan mengakibatkan meningkatnya produksi gas dalam lambung.
  3. Hindari makanan berserat tinggi. Makanan-makanan dengan serat yang tinggi, pada umumnya memiliki kandungan gas yang relatif besar. 
  4. Kentut dan sendawa. Ketika perut kembung sedang melanda, jangan ragu untuk membuang bersendawa atau kentut. Kedua cara ini dapat mengeluarkan gas berlebih yang terperangkan terperangkap dalam lambung.
  5. Jangan tunda dan menahan hasrat untuk buang air. Siapa sangka bahwa kebiasaan menunda atau menahan buang air dapat mengganggu kinerja usus besar? Dengan tidak menahan dan menunda untuk buang air, usus besar dapat bekerja secara optimal sehingga, mampu membuang gas lebih cepat.
  6. Minum teh. Proses pembuangan gas yang tertumpuk dalam lambung dapat dilakukan dengan minum teh, khususnya yang terbuat dari jahe, peppermint, dan kembang lawang.
  7. Cobalah untuk mengompres perut dengan handuk hangat atau bantal pemanas. Hal ini dilakukan agar otot-otot di saluran pencernaan menjadi lebih rileks.
  8. Olahraga ringan rutin. Berolahraga secara rutin dapat membantu untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat penumpukan gas di lambung. Aktivitas olahraga secara rutin dapat membantu pencernaan kamu kok.
  9. Tarik napas secara teratur dengan menggunakan diafragma.
  10. Memijat perut secara perlahan ternyata dapat mengurangi rasa kembung, lho. Walaupun begitu, apabila sedang mengandung, lakukanlah secara hati-hati, ya.
  11. Buang kebiasaan makan sambil bicara. Kebiasaan berbicara ketika sedang makan ternyata dapat membawa masuk banyak gas ikut masuk ke dalam lambung.
  12. Konsumsi probiotik secara rutin. Minuman probiotik mengandung bakteri baik yang bermanfaat untuk melancarkan saluran pencernaan, seperti yogurt, tempe, kefir, dan kimchi.
  13. Konsumsi rempah-rempah, seperti jahe, daun basil, atau jintan dapat mengatasi perut kembung secara alami.
  14. Hindari makanan yang mengandung garam berlebih. Konsumsi makanan asin dan gurih ternyata merupakan salah satu faktor penyebab perut kembung. Hal ini terjadi karena sodium yang ada di dalam garam memaksa tubuh untuk menahan air secara berlebihan.
  15. Batasi kebiasaan mengunyah permen karet. Ketika mengunyah permen, secara tidak sadar kita mengonsumsi gula dan menelan udara pada saat yang bersamaan.
  16. Hindari minum soda. Kandungan karbon dioksida, gila, dan pemanis buatan lainnya, yang terkandung dalam minuman bersoda akan mengisi perut kita penuh dengan gas.
  17. Perhatikan porsi makan. Makan dengan porsi yang terlalu besar akan membuat kita merasa cepat kembung. Menyiasati porsi makan dengan mengatur porsi menjadi lebih kecil, namun dalam jeda waktu lebih sering, dianggap sebagai alternatif yang baik untuk mengurangi dan mencegah perut kembung.

Nah, apabila cara-cara di atas tidak berhasil dalam mengatasi perut kembung yang kamu alami, maka sudah sebaiknya untuk konsultasikan masalah tersebut dengan dokter.