Apa Itu Pseudogout, Gejala dan Penyebabnya

Pseudogout

Pseudogout adalah kondisi pembengkakan pada artritis yang terasa menyakitkan di beberapa sendi. Rasa sakit karena pseudogout bisa terjadi selama berhari-hari hingga berminggu-minggu. 

Pseudogout juga bisa disebut sebagai penyakit karena pengendapan kalsium pirofosfat. Pengendapan ini menyebabkan rasa sakit pada area persendian. 

Sendi yang biasanya terasa sakit yakni sendi lutut, pergelangan tangan dan tak jarang terjadi juga di area pinggul, bahu siku, jari kaki, hingga pergelangan kaki. Hal ini biasa terjadi pada lansia usia 60 tahun ke atas. 

Gejala pseudogout

Dalam beberapa kasus, tidak ada gejala sama sekali, namun lebih sering sendi terasa sakit di bagian lutut dan pergelangan tangan. Pseudogout paling sering memengaruhi satu sampai empat sendi. 

Berikut ini beberapa gejala pseudogout yang biasanya menyerang sendi. 

  • Nyeri sendi secara tiba-tiba dan intens
  • Sendi mengalami bengkak dan terasa hangat serta lembut saat disentuh
  • Kulit memerah di sekitar sendi yang sakit
  • Pseudogout juga menyebabkan pembengkakan yang terus menerus
  • Sendi terasa sulit ditekuk atau dilenturkan
  • Merasakan demam, merasa badan tidak enak, menggigil. Gejala ini karena reaksi peradangan pada sendi

Berbeda dengan penyakit asam urat yang biasanya menyerang pada malam hari, gejala pseudogout bisa terjadi kapan saja. Namun, dilihat dari rasa sakit, biasanya pseudogout tidak sesakit penyakit asam urat. 

Rasa sakit pada sendi sebaiknya jangan dibiarkan berlarut-larut sebab bisa menyebabkan kerusakan sendi permanen. 

Penyebab pseudogout

Pseudogout terjadi karena adanya kristal kalsium pirofosfat pada sendi yang terkena. Biasanya kristal ini akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. 

Berdasarkan penelitian, kristal kalsium pirofosfat ini muncul pada lansia dengan usia lebih dari 85 tahun. Namun, tak jarang juga terjadi pada lansia mulai dari usia 60 tahun. 

Beberapa penelitian menyebut, jika kristal kalsium pirofosfat ini dilepaskan jika tulang rawan terganggu, seperti cedera, trauma, pembedahan, atau juga infeksi.

Kristal yang dilepaskan ini akan masuk dan menempel ke jaringan sendi lunak, seperti lapisan sinovial sendi, brusa, ligamen, dan tendon.

Setelah kristal bersarang di sendi lunak, maka akan memicu sistem kekebalan dimana respon sistem kekebalan akan menghasilkan peradangan, nyeri, bengkak, serta kemerahan.

Beberapa faktor di bawah ini juga turut memengaruhi terjadinya pseudogout:

  • Usia

Semakin bertambahnya usia, maka risiko terkena pseudogout juga semakin tinggi. Biasanya pseudogout menyerang seseorang dengan usia 60 tahun ke atas.

  • Trauma sendi

Seseorang yang pernah mengalami trauma sendi juga menyebabkan tulang rawan melepaskan kristal kalsium pirofosfat sehingga memicu terjadinya pseudogout.

  • Sejarah keluarga

Masalah genetika juga berperan yang membuat seseorang rentan mengalami penumpukan kristal kalsium pirofosfat pada persendian. Penelitian terbaru menunjukkan jika mutasi gen ANKH yang membantu mengatur metabolisme bisa meningkatkan risiko terkena pseudogout

  • Penyakit gout atau encok

Orang yang memiliki penyakit gout atau encok ini bisa 2,5 kali lebih berisiko terkena pseudogout

  • Osteoartritis

Penelitian menunjukkan jika pengendapan kristal kalsium pirofosfat ini bisa meningkat pada seseorang yang mengidap osteoartritis

  • Ketidakseimbangan mineral

Seseorang dengan kadar kalsium dan besi yang berlebih atau sedikit magnesium berisiko lebih besar terkena pseudogout

  • Kondisi medis lainnya

Pseudogout bisa terjadi karena kelenjar paratiroid yang terlalu aktif

Efek samping pseudogout

Peradangan pada pseudogout dapat menyebabkan kerusakan sendi secara permanen.  Kerusakan sendi ini didiagnosis sebagai osteoartritis. 

Seseorang yang menderita osteoartritis juga berisiko tiga kali lebih tinggi untuk memiliki endapan kristal kalsium pirofosfat

Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa melakukan konsultasi dengan dokter spesialis. 

Cara mengobati pseudogout

Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang bisa menghilangkan atau mencegah pembentukan kristal kalsium pirofosfat pada kasus pseudogout, namun terdapat perawatan yang bisa mengurangi nyeri dan bengkak, seperti:

  • Injeksi sendi, dengan memasukkan jarum ke bagian sendi yang terasa nyeri dan mengeluarkan kristal di dalamnya
  • Mengonsumsi obat seperti NSAID, prednisone, dan colchicine untuk mengurangi peradangan 
  • Imobilisasi sendi dilakukan untuk menghindari beban yang terlalu berat pada area tungkai, sehingga bisa meminimalisir rasa sakit dan bengkak. 

Tips Terhindar dari Komplikasi Strongyloidiasis

Mungkin Anda mengapa kondisi cacingan tidak pernah dianggap sepele hingga harus mengonsumsi obat cacing tiap 6 bulan sekali di waktu kecil? Soalnya, infeksi cacingan dapat memicu berbagai komplikasi yang dapat menurunkan kualitas kehidupan Anda. 

Salah satu jenis cacingan yang terparah adalah strongyloidiasis. Ini merupakan infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang berjenis Strongyloides stercoralis. Ketika cacing gelang ini masuk ke tubuh Anda dan melakukan infeksi, bersiap-siaplah mengalami berbagai keluhan kesehatan yang dapat berujung ke komplikasi yang cukup serius. 

Jangan bayangkan gejala orang cacingan hanyalah berat badan yang kurus. Gejala lain dari strongyloidiasis, antara lain demam, batuk, gatal-gatal, juga diare. Itu baru gejala awal. Jika dibiarkan berlanjut, berbagai komplikasi di bawah ini menanti Anda. 

  • Malnutrisi

Malnutrisi merupakan kondisi kekurangan gizi kronis pada tubuh yang bisa berakibat menurunnya kemampuan kognitif maupun meredupnya imunitas tubuh. Malnutrisi karena strongyloidiasis terjadi karena usus tidak dapat menyerap nutrisi makanan yang Anda konsumsi dengan baik karena terserap oleh cacing-cacing parasit. Gejala diare dan tidak nafsu makan pada penderita strongyloidiasis semakin memperparah komplikasi ini. 

  • Pneumonia Eosinofilik 

Pneumonia eosinofilik merupakan kondisi ketika paru-paru membengkak karena peningkatan sejenis sel darah putih yang diproduksi tubuh. Peningkatan sel darah putih yang berjenis eosinofilik ini terjadi saat cacing sudah memasuki dan menginfeksi paru-paru Anda.

  • Penyebaran Strongyloidiasis 

Wajarnya cacing parasit penyebab strongyloidiasis bermukim di usus Anda dan merusak sistem pencernaan. Namun, imunitas tubuh yang lemah serta pengonsumsian obat-obatan imunosupresif bisa membuat cacing tersebut kembali memasuki aliran darah dan menimbulkan keluhan parah, seperti syok, komplikasi paru, dan masalah neurologis. 

Cara Mencegah 

Strongyloidiasis lebih mudah dialami oleh orang Indonesia. Soalnya, cacing yang menjadi parasitnya hidup di kawasan tropis dan subtropis. Sejumlah langkah preventif sebenarnya bisa Anda lakukan alih-alih harus bergelut dengan berbagai pengobatan cacingan yang lebih merepotkan. Berikut ini adalah beberapa tips simpel untuk bisa meminimalkan risiko terkena strongyloidiasis. 

  1. Selalu Memakai Alas Kaki 

Cacing penyebab strongyloidiasis awalnya memasuki tubuh lewat bagian telapak kaki Anda. Ia lebih mudah menginfeksi ketika Anda berjalan tanpa alas kaki, khususnya di daerah yang bertanah. Karena itu, pastikan Anda selalu memakai alas kaki ke manapun jika bepergian guna mencegah infeksi dari Strongyloides stercoralis. 

  1. Bangun Sanitasi Baik

Tahu tidak, infeksi cacing penyebab strongyloidiasis banyak terjadi di kawasan yang memiliki sistem sanitasi buruk. Semakin baik Anda membangun sanitasi di wilayah rumah Anda maka semakin mungkin Anda bisa terhindar dari infeksi cacing gelang yang satu ini. Ini karena sanitasi yang baik dapat menghindarkan Anda dari kontak dengan kotoran. Pembuangan limbah yang tepat dan pengelolaan feses memang menjadi kunci pencegahan penyakit tersebut.

  1.  Rajin Cuci Tangan dan Kaki 

Jangan malas untuk mencuci tangan dan kaki setiap kali habis keluar rumah atau memegang suatu benda asing. Gerakan mencuci tangan dan kaki bisa membuat mikroorganisme dan organisme, tidak terkecuali cacing parasit, yang sudah menempel di tubuh menjadi mati karena penggunaan sabun antibakteri. 

  1. Tingkatkan Daya Tahan 

Semakin lemah daya tahan tubuh Anda, infeksi cacing gelang penyebab strongyloidiasis bisa menimbulkan gejala yang kian parah, dari pneumonia sampai syok. Sebaliknya ketika imunitas tubuh terjaga, cacing-cacing tersebut akan mendapatkan perlawanan dari daya tahan tubuh Anda. Rutinlah mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, aktif berolahraga, serta cukup beristirahat untuk bisa meningkatkan daya tahan tubuh Anda. 

***

Jangan biarkan strongyloidiasis membuat Anda tidak produktif karena berbagai keluhan gejala yang parah. Melakukan tips pencegahan memang tidak 100 persen menghalangi Anda dari infeksi cacing gelang, namun setidaknya mampu menurunkan tingkat risiko dan keparahan infeksinya.

Vaksin DPT, Hindari Anak dari Difteri, Pertussis, dan Tetanus

Vaksin DPT

Vaksin DPT merupakan salah satu jenis vaksin yang wajib diberikan pada anak sebelum berusia satu tahun. Vaksin DPT ini diberikan dalam lima dosis, yaitu pada usia 2, 4, 6, dan 15-18 bulan, lalu diulang pada usia 4 hingga 6 tahun. 

Jika, anak Anda tidak diberikan imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus), beberapa penyakit tersebut dapat menyebabkan atau berisiko tinggi kematian. Pada artikel kali ini akan dibahas bagaimana vaksin DPT menghindari anak Anda dari beberapa penyakit tersebut. 

Apa itu vaksin DPT?

DPT adalah vaksin kombinasi yang melindungi dari tiga penyakit, yaitu difteri, tetanus, dan pertusis. Ketiga komponen vaksin “tidak aktif” artinya mereka mati dan tidak dapat menyebabkan penyakit. 

Vaksin DPT dapat melindungi anak Anda dari:

  • Difteri.  Infeksi tenggorokan yang serius yang dapat menyumbat saluran napas dan menyebabkan masalah pernapasan yang parah. 
  • Tetanus. Penyakit saraf yang dapat terjadi pada semua usia, yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun yang mencemari luka. 
  • Pertusis (batuk rejan). Penyakit pernapasan dengan gejala seperti pilek yang menyebabkan batuk parah (suara ‘rejan’ terjadi saat anak menarik napas dalam-dalam setelah batuk parah). Komplikasi serius dapat menyerang anak di bawah usia 1 tahun, dan mereka yang berusia di bawah 6 bulan memiliki risiko sangat tinggi. Remaja dan orang dewasa dnegan batuk yang berlangsung lama mungkin menderita pertusis dan tidak menyadarinya, dan dapat menularkannya kepada bayi yang rentan. 

Jadwal imunisasi DPT

Imunisasi DPT diberikan dalam rangkaian 5 kali suntikan, biasanya diberikan pada usia:

  • 2 bulan 
  • 4 bulan 
  • 6 bulan
  • 15-18 bulan
  • 4-6 tahun

Kemungkinan risiko dan efek samping imunisasi DPT

Vaksin ini dapat menyebabkan efek samping ringan, seperti:

  • Demam 
  • Rewel ringan 
  • Kelelahan
  • Kehilangan selera makan
  • Nyeri saat ditekan
  • Kemerahan
  • Bengkak di area tempat suntikan diberikan

Efek samping yang jarang terjadi, meliputi:

  • Kejang 
  • Demam tinggi 
  • Tangisan yang tidak terkendali setelah mendapatkan vaksin

Namun, efek samping tersebut sangat jarang terjadi sehingga para peneliti mempertanyakan apakah itu disebabkan oleh vaksin. Kebanyakan anak memiliki sedikit atau tanpa efek samping. 

Dapatkah menunda atau tidak melakukan imunisasi DPT?

Penyakit sederhana atau ringan lainnya seharusnya tidak mencegah imunisasi, tetapi dokter Anda mungkin memilih untuk menjadwalkan ulang vaksin jika anak Anda menderita penyakit yang lebih serius. 

Bicaralah dengan dokter jika anak mengalami gejala berikut setelah mendapatkan vaksinasi, seperti:

  • Sebuah reaksi alergi yang serius
  • Masalah otak atau sistem saraf, seperti koma atau kejang
  • Sindrom Guillain-Barre
  • Sakit parah atau bengkak di seluruh lengan atau tungkai

Bagaimana merawat si kecil setelah vaksin?

Anak Anda mungkin akan mengalami demam, nyeri, dan bengkak serta kemerahan di area tempat suntikan diberikan. Bergantung pada usia anak Anda, nyeri dan demam dapat diobati dengan asetaminofen atau ibuprofen. Tanyakan pada dokter Anda untuk mengetahui apakah Anda dapat memberikan salah satu obat tersebut, dan untuk mengetahui dosis yang sesuai. 

Kain hangat dan lembab atau bantalan hangat juga dapat membantu mengurangi rasa nyeri. Memindahkan atau menggunakan anggota tubuh yang telah menerima suntikan sering kali dapat mengurangi rasa sakit. 

Namun, Anda harus segera menghubungi dokter jika timbul gejala komplikasi yang parah setelah vaksin DPT, termasuk kejang, demam di atas 40 derajat celcius, kesulitan bernapas, atau tanda alergi lainnya, syok atau kolaps, atau tangisan yang tidak terkontrol selama lebih dari 3 jam. 

Setelah Anda mengetahui sebegitu pentingnya vaksin DPT, maka disarankan untuk tidak melewatkan jadwal imunisasi DPT.

Operasi Perut Bisa Jadi Penyebab Usus Lengket

Operasi yang menyebabkan usus lengket

Operasi perut bisa jadi salah satu penyebab usus lengket. Menurut penelitian, sebanyak 9 dari 10 orang yang mengalami usus lengket telah menjalani operasi yang melibatkan pembedahan perut.

Biasanya pembedahan ini meliputi saluran pencernaan bawah, seperti usus besar dan rektum, operasi panggul, atau operasi perut darurat lainnya. Meskipun seringkali tidak menimbulkan gejala, usus lengket berisiko menimbulkan penyumbatan usus sehingga nutrisi makanan tidak dapat diserap tubuh dengan optimal. 

Penyebab utama usus lengket

Operasi perut merupakan penyebab utama perlengketan usus, kemungkinannya sebesar 90%. Sisanya perlengketan usus disebabkan karena trauma, infeksi, inflamasi, dan beberapa kondisi lainnya. Kebanyakan kasus usus lengket tidak menimbulkan rasa sakit atau gejala khusus. Biasanya hanya berupa rasa tidak nyaman dan beberapa gangguan pencernaan. 

Sebesar 60% penderita mengalami gangguan usus halus terutama pada orang dewasa. Jika dibiarkan, perlengketan usus akan berkontribusi terhadap nyeri panggul kronis. 

Operasi perut dapat merusak jaringan peritoneum usus. Jaringan ini berfungsi melapisi organ di dalam perut serta membuat organ licin saat bergesekan dengan organ lainnya. Jaringan peritonium dapat rusak karena sayatan, cairan operasi, atau bahkan potongan kecil kain kasa. 

Usus lengket biasanya terjadi beberapa hari setelah penderita menjalani operasi, namun tidak ada gejala setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun berikutnya. Awalnya, terdapat luka pada usus sehingga usus pun saling menempel karena permukaannya menjadi sangat lengket. 

Lama kelamaan, luka akan menimbulkan jaringan parut sehingga membatasi gerak usus. Makanan yang melewati saluran pencernaan pun semakin sulit. Tidak menutup kemungkinan usus akan tersumbat atau disebut juga obstruksi usus. 

Gejala yang mungkin terjadi

Meskipun sebagian besar penderita tidak mengeluhkan gejala tertentu. Namun, jika telah menyumbat usus maka akan menimbulkan kram perut. Kondisi obstruksi usus ini menyebabkan gejala seperti:

  • Nyeri perut parah
  • Mual dan muntah
  • Pembengkakan perut karena kembung
  • Sulit buang angin dan jarang Buang Air Besar (BAB)
  • Dehidrasi yang ditandai dengan kulit, mulut, dan lidah kering, haus parah, jarang buang air kecil, detak jantung cepat, serta tekanan darah rendah

Perut akan terasa sakit bahkan hanya dengan sentuhan ringan. Gejala sistemik juga mungkin akan terjadi, seperti demam, detak jantung cepat, dan tekanan darah rendah. 

Bagaimana cara mencegah usus lengket? 

Operasi laparoskopi mengurangi risiko perlengketan usus karena tidak membutuhkan sayatan besar, melainkan hanya sayatan kecil dibuat di perut bagian bawah. Oleh karena itu, prosedur laparoskopi bisa mengurangi risiko usus lengket.

Akan tetapi, jika laparoskopi tidak memungkinkan untuk dilakukan dan memerlukan tindakan operasi sayatan perut besar, di akhir operasi dokter akan memasukkan bahan berupa film yang akan diserap oleh tubuh dalam waktu sekitar satu minggu. Cara ini digunakan untuk menghidrasi organ dan membantu mencegah perlekatan usus. 

Selain itu, terdapat langkah-langkah lain yang bisa dilakukan selama operasi untuk mengurangi risiko usus lengket, diantaranya:

  • Memakai sarung tangan lateks steril bebas bedak
  • Menggunakan larutan salin dalam kondisi tertentu
  • Menggunakan drapes dan swabs yang lembab 

Penyebab usus lengket lainnya

Selain pasca operasi, usus lengket juga bisa terjadi karena berbagai kondisi dan penyakit, seperti:

  • Penyakit Crohn
  • Penyakit divertikular
  • Peritonitis
  • Terapi radiasi untuk kanker
  • Bawaan sejak lahir

Apabila usus lengket tidak mengakibatkan ketidaknyamanan atau rasa sakit maka tidak dibutuhkan penanganan dan pengobatan tertentu. Namun, jika mengganggu bahkan terjadi sumbatan usus, dokter mungkin akan menyarankan prosedur operasi. 

Ini 5 Fakta Sindrom Hemolitik Uremik pada Anak

Sindrom hemolitik uremik (HUS) menyebabkan kadar sel darah merah menjadi rendah, rendahnya kadar trombosit dan cedera pada ginjal.

Penyakit ini ditimbulkan dari reaksi sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan kerusakan pada sel darah. 

Hal ini menyebabkan sel darah merah dan trombosit menjadi rendah serta cedera pada ginjal.

Tak hanya pada orang dewasa, sindrom hemolitik uremik juga bisa terjadi pada anak-anak.

Sindrom ini tentu perlu diwaspadai para orang tua. Yuk simak fakta sindrom hemolitik uremik pada anak berikut ini:

1. Seringkali menyerang anak di bawah 5 tahun

Sindrom uremik hemolitik terjadi pada sekitar dua dari setiap 100.000 anak.

Penyakit ini dapat menyerang anak-anak dengan faktor antara lain:

  • Berusia lebih muda dari 5 tahun 
  • Telah didiagnosis dengan infeksi E. coli O157: H7
  • Memiliki sistem kekebalan yang lemah
  • Memiliki riwayat keluarga dengan sindrom uremik hemolitik yang diturunkan

2. Disebabkan oleh infeksi bakteri  

Penyebab paling umum dari sindrom uremik hemolitik pada anak-anak adalah infeksi Escherichia coli (E. coli) tertentu pada sistem pencernaan. E. coli mengacu pada sekelompok bakteri yang biasanya ditemukan di usus manusia dan hewan yang sehat. 

Kebanyakan dari ratusan jenis E. coli adalah normal dan tidak berbahaya. Tetapi beberapa strain E. coli menyebabkan diare.

Selain itu, perairan yang terkontaminasi oleh feses juga dapat mengandung bakteri E.Coli. 

Penyebab lain dari HUS dapat meliputi:

  • Infeksi lain, seperti infeksi bakteri pneumokokus, human immunodeficiency virus (HIV) atau influenza
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, terutama beberapa obat yang digunakan untuk mengobati kanker dan beberapa obat yang digunakan untuk menekan sistem kekebalan penerima transplantasi organ
  • HUS dapat terjadi sebagai komplikasi kehamilan atau kondisi kesehatan seperti penyakit autoimun atau kanker
  • Jenis HUS yang tidak umum – dikenal sebagai atipikal HUS – dapat diturunkan secara genetik ke anak-anak.  

3. Konsumsi daging kurang matang hingga susu mentah tingkatkan risiko sindrom ini

Saat seorang anak terinfeksi E. coli strain O157: H7, bakteri tersebut akan menetap di saluran pencernaan dan menghasilkan racun yang dapat masuk ke aliran darah. Racun berjalan melalui aliran darah dan dapat menghancurkan sel darah merah. 

Mayoritas kasus HUS disebabkan oleh infeksi strain bakteri E. coli tertentu. Paparan E. coli dapat terjadi jika Anda:

  • Makan daging atau produk yang terkontaminasi
  • Daging kurang matang, paling sering daging giling
  • Berenang di kolam atau danau yang terkontaminasi kotoran
  • Melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, seperti di dalam keluarga atau di pusat penitipan anak.
  • Susu yang tidak dipasteurisasi, atau mentah
  • Buah dan sayuran mentah yang belum dicuci dan terkontaminasi
  • Jus yang terkontaminasi 

4. Gejala sindrom Hemolitik Uremik pada anak: Muntah hingga diare berdarah

Saat infeksi berlangsung, racun yang dilepaskan di usus mulai menghancurkan sel darah merah. Saat sel darah merah hancur, anak mungkin mengalami tanda dan gejala anemia, kondisi di mana sel darah merah lebih sedikit atau lebih kecil dari biasanya, yang membuat sel-sel tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen.

Tak hanya itu, seorang anak dengan sindrom uremik hemolitik dapat mengembangkan tanda dan gejala yang mirip dengan yang terlihat pada gastroenteritis atau peradangan pada lapisan lambung, usus kecil, dan usus besar.

Sama pada orang dewasa, anak-anak dengan sindrom hemolitik uremik memiliki gejala antara lain:

  • muntah
  • diare berdarah
  • sakit perut
  • demam dan menggigil
  • sakit kepala
  • kelelahan, atau merasa lelah
  • kelemahan
  • pingsan

Karena sel darah merah yang rusak menyumbat glomerulus, ginjal bisa rusak dan menghasilkan lebih sedikit urine. Saat rusak, ginjal bekerja lebih keras untuk membuang limbah dan cairan ekstra dari darah, terkadang menyebabkan cedera ginjal akut.

Ketika sindrom uremik hemolitik menyebabkan cedera ginjal akut, seorang anak mungkin memiliki tanda dan gejala berikut:

  • edema seperti bengkak, paling sering di tungkai, kaki, atau pergelangan kaki dan lebih jarang di tangan atau wajah
  • albuminuria yaitu ketika urine anak memiliki kadar albumin yang tinggi, protein utama dalam darah
  • penurunan keluaran urin
  • hipoalbuminemia yaitu ketika darah anak memiliki kadar albumin yang rendah
  • keluar darah dalam urine.

Pastikan Anda membawa si kecil kepada dokter saat menunjukkan gejala yang semakin parah.  

5. Dapat diagnosis lewat tes darah hingga biopsi ginjal

Sindrom hemolitik uremik dapat didiagnosis dengan beberapa cara, diantaranya:

Riwayat medis dan keluarga

Mengambil riwayat medis dan keluarga adalah salah satu hal pertama yang dapat dilakukan penyedia layanan kesehatan untuk membantu mendiagnosis sindrom uremik hemolitik.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dapat membantu mendiagnosis sindrom uremik hemolitik. Selama pemeriksaan fisik, penyedia layanan kesehatan akan memeriksa tubuh anak dan mengetuk area tertentu pada tubuhnya. 

Tes Urine

Tes urine dilakukan untuk menentukan apakah seorang anak mengalami kerusakan ginjal akibat sindrom uremik hemolitik.

 Dokter akan menguji darah atau protein yang terkandung dalam urine.

Tes darah lengkap

Cara mendeteksi sindrom hemolitik uremik selanjutnya dengan melakukan tes darah. Untuk tes darah memperkirakan berapa banyak darah yang disaring ginjal setiap menit, yang disebut perkiraan laju filtrasi glomerulus, atau eGFR. 

Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat jumlah dan kualitas sel darah merah dan trombosit didalam sampel darah. 

Dokter juga akan melakukan beberapa prosedur tes darah seperti:

  • periksa sel darah merah dan tingkat trombosit.
  • periksa fungsi hati dan ginjal.
  • menilai kadar protein dalam darah.

Tes Feses

Tes feses adalah analisis sampel tinja. Dokter akan memberikan wadah untuk menampung dan menyimpan tinja. Sampel kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk dianalisis. 

Tes feses dapat menunjukkan adanya E. coli O157: H7 .

Biopsi Ginjal

Biopsi adalah prosedur yang melibatkan pengambilan sepotong kecil jaringan ginjal untuk diperiksa dengan mikroskop

Dokter kemudian akan memeriksa jaringan di laboratorium. Ahli patologi mencari tanda-tanda penyakit ginjal dan infeksi. Tes ini dapat membantu mendiagnosis sindrom uremik hemolitik. 

Penggila Makanan Pedas, Ketahui Cara Mengatasi Perut Panas!

Salah satu rasa dominan dalam sebagian besar masakan khas Indonesia adalah pedas. Banyak pula masyarakat kita yang menggandrungi makanan pedas. Masalahnya, rasa pedas potensial membuat perut terasa panas. Bagi Anda yang senang makan makanan pedas, perlu sekali mengetahui cara mengatasi perut panas. 

Dengan mengetahui cara mengatasi perut panas, si penyuka pedas bisa tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. Pasalnya, perut panas mungkin sekali membuat aktivitas terganggu karena satu atau lebih masalah turunannya. 

Kondisi ini kerap terjadi karena makanan pedas akan merangsang sistem pencernaan dan meningkatkan suhu tubuh. Sebenarnya, sensasi ini disebabkan oleh zat capsaicin yang terkandung dalam cabai. Jadi, saat capsaicin bersentuhan dengan lapisan lambung, saraf yang ada di bagian tersebut langsung mengirimkan sinyal rasa sakit dan panas.

Selain perut terasa panas, mungkin sekali perut juga mengalami mulas setelah makan pedas. Akan tetapi, perlu diingat pula bahwa ada sebagian orang yang tidak merasakan apa-apa karena kondisi organ pencernaan mereka sudah terbiasa dengan zat-zat “pembuat masalah” tersebut. Walau demikian, buat berjaga-jaga, tiada salahnya Anda mengetahui cara mengatasi perut panas setelah makan pedas di bawah ini:

  • Makan buah dan sayur

Untuk mencegah dan mengatasi perut panas akibat makan pedas, disarankan untuk memperbanyak konsumsi buah dan sayur sebelum dan sesudah makan makanan pedas.

Hal ini karena buah dan sayur dapat meluruhkan capsaicin yang terdapat pada cabai, yaitu kandungan yang bisa menyebabkan rasa panas pada perut pasca-mengonsumsi makanan pedas.

  • Jeruk

Buah-buahan yang dapat Anda pilih untuk meredakan perut panas setelah makan pedas adalah jeruk limau atau lemon. Perasan jeruk limau atau lemon juga memiliki fungsi meluruhkan capsaicin si penyebab rasa pedas dengan cepat dan efektif.

  • Susu

Susu sudah terkenal ampuh mengatasi perut panas akibat makan pedas. Hal ini menjadj mungkin karena susu dapat menetralkan asam dari makanan pedas yang Anda konsumsi.

Namun perlu dicatat, jangan mengonsumsinya terlalu banyak karena hal tersebut bisa menyebabkan ketidaknyamanan pada perut. Cukup minum setengah cangkir susu dan duduk dalam posisi tegak selama 30 menit.

  • Yogurht

Produk olahan susu ini juga dapat dikonsumsi sebagai salah satu cara mengatasi perut panas akibat makanan pedas. Hal ini karena yogurt mampu membantu meningkatkan jumlah bakteri baik di usus yang mampu membantu melepaskan suhu panas dan membantu memperlancar pencernaan.

  • Teh pappermint

Kendati kurang populer di Indonesia, peppermint dapat membantu mengatasi masalah pencernaan, termasuk perut panas akibat makan pedas. Peppermint memiliki zat antinyeri yang dapat mengurangi rasa nyeri perut dan perut panas. Selain menggunakan teh, Anda bisa segera hirup aromaterapi peppermint.

  • Jahe

Jahe sudah terkenal sebagai tanaman herbal yang punya banyak fungsi. Salah satu fungsi yang bisa dilakukan jahe adalah menjaga kesehatan dan kondisi pencernaan. Sensasi panas yang ditimbulkan makanan pedas bisa pula diatasi dengan mengonsumsi jahe–utamanya air rebusan atau sari jahe. 

Kandungan phenolic dalam jahe berfungsi untuk meredakan gejala iritasi organ pencernaan, menstimulasi air liur, mencegah terjadinya kontraksi pada perut, hingga membantu pergerakan makanan dan minuman selama berada di pencernaan.

Jahe juga disebut sebagai carminative, suatu substansi yang dapat membantu mengeluarkan gas berlebih yang ada di sistem pencernaan Anda. Masalah pencernaan seperti kolik dan dispepsia dapat diatasi dengan jahe.

***

Makanan pedas memang menggugah selera dan menambah nafsu makan. Namun, Anda perlu untuk waspada dan berhati-hati karena makanan pedas juga punya efek samping negatif bagi kesehatan pencernaan secara keseluruhan. Perut terasa panas mungkin hanya salah satunya. 

Ketika suatu saat Anda merasakan sensasi perut panas setelah mengonsumsi masakan pedas, Anda bisa memilih satu atu beberapa cara mengatasi perut panas di atas. Namun, jika dalam waktu tertentu kondisi Anda tak kunjung membaik, disarankan untuk segera mencari bantuan medis. Dikhawatirkan ada masalah pencernaan serius yang sedang Anda derita.

Apakah Ada Cara untuk Mengobati Osteomielitis?

Merupakan infeksi tulang yang pada umumnya disebabkan karena bakteri staphylococcus disebut dengan osteomielitis. Kondisi ini termasuk penyakit yang jarang terjadi, namun pasien butuh segera ditangani karena bisa menimbulkan sejumlah komplikasi yang serius. Selain itu, penyakit ini juga bisa dialami oleh semua orang berbagai usia.

Pada anak-anak umumnya yang terjadi menyerang tulang panjang, seperti tungkai atau lengan, sementara untuk orang dewasa biasanya terjadi pada tulang pinggul, tungkai dan tulang belakang. Infeksi tulang ini bisa terjadi secara tiba-tiba dan berkembang dalam jangka waktu yang lama, jika tidak segera mendapat pengobatan maka bisa menyebabkan kerusakan tulang permanen.

Diagnosis Osteomielitis

Biasanya hanya berdasarkan tanda dan gejala yang dicurigai pada pemeriksaan fisik, seperti munculnya sakit pada tulang disertai dengan pembengkakan dan kemerahan. Kemudian pemeriksaan laboratorium untuk menentukan lokasi dan luasnya penyebaran infeksi, dokter akan mendiagnosa penyakit ini dengan pemeriksaan kombinasi, seperti berikut.

  • Tes Darah

Infeksi terjadi apabila kadar sel darah putih dalam pemeriksaan ini menunjukkan hasil yang meningkat, pemeriksaan ini juga dapat menentukan organisme yang menyebabkan infeksi. Pemeriksaan lain bisa dilakukan adalah apusan tenggorokan, serta kultur urine dan feses.

  • Test Pencitraan (Imaging Test)

Foto rontgen, bertujuan untuk melihat kerusakan pada tulang, meski demikian kerusakan mungkin baru akan terlihat setelah infeksi selama beberapa minggu. MRI, tujuannya untuk memberi gambaran secara teliti terhadap tulang dan jaringan lunak sekitarnya. Sementara itu, bone scan dilakukan untuk mengetahui aktivitas selular dan metabolik pada tulang.

  • Biopsi Tulang

Pemeriksaan terakhir adalah dengan melakukan biopsi tulang, tujuannya untuk mengetahui jenis kuman yang menginfeksi. Lakukan pemeriksaan ke dokter dengan segera jika mengalami nyeri pada tulang yang bertambah parah dan disertai dengan demam. Keadaan ini bisa memburuk dalam hitungan jam atau hari dan tentunya akan semakin sulit ditangani.

Pengobatan

Tujuan dari pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengatasi infeksi dan mempertahankan fungsi normal dari tulang. Metode pengobatan yang dilakukan pun diputuskan berdasarkan usia dan kondisi kesehatan pasien, tingkat keparahan penyakit dan jenis penyakit yang dialami. Penanganan utama yang diberikan adalah dengan pemberian antibiotik.

Antibiotik berfungsi untuk mengendalikan infeksi, awalnya diberikan melalui infus dan kemudian dilanjutkan dengan bentuk tablet untuk dikonsumsi. Pengobatan menggunakan antibiotik umumnya dilakukan selama enam minggu. Namun, untuk kasus infeksi yang lebih serius konsumsi antibiotik akan lebih lama lagi.

Selain antibiotik, obat antinyeri juga dapat digunakan untuk meredakan nyeri yang muncul, jika infeksi terjadi pada tulang berukuran panjang seperti lengan atau tungkai, kemungkinan besar penderita akan dipasangi bidai atau alat penyanggah lain pada tubuh untuk membatasi pergerakan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Untuk pasien yang memiliki kebiasaan merokok, dokter akan meminta pasien untuk berhenti merokok agar mempercepat proses penyembuhan. Pada kasus yang parah, dibutuhkan tindakan operasi untuk menangani kondisi dan mencegah penyebaran infeksi. Berikut beberapa tindakan operasi yang dilakukan untuk mengobati osteomielitis:

  • Mengangkat tulang dan jaringan yang terinfeksi atau debridement, semua tulang dan jaringan yang terkena infeksi akan diangkat termasuk sedikit tulang dan jaringan sehat yang ada di sekitarnya.
  • Mengeluarkan cairan dari area yang terinfeksi, cairan yang ada pada area terinfeksi ini biasanya berupa nanah yang menumpuk.
  • Mengembalikan aliran darah pada tulang, dokter akan mengisi tempat yang kosong setelah debridement dengan tulang atau jaringan dari bagian tubuh yang lain.

Mengenal Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan subarachnoid adalah pendarahan di ruang antara otak Anda dan membran sekitarnya (ruang subarachnoid). Gejala utamanya adalah sakit kepala parah yang tiba-tiba. Sakit kepala kadang-kadang dikaitkan dengan mual, muntah, dan kehilangan kesadaran singkat.

Ruang subarachnoid adalah area antara otak dan tengkorak, yang diisi dengan cairan serebrospinal (CSF), yang bertindak sebagai bantalan mengambang untuk melindungi otak Anda. Ketika darah dilepaskan ke ruang subarachnoid, hal itu akan mengiritasi lapisan otak, meningkatkan tekanan pada otak, dan merusak sel-sel otak. Pada saat yang sama, area otak yang sebelumnya menerima darah kaya oksigen dari arteri yang terkena sekarang kekurangan darah, sehingga menyebabkan stroke. 

Jika Anda atau orang yang dicintai mengalami gejala perdarahan subarachnoid, Anda harus segera mengunjungi UGD atau berkonsultasi dengan dokter. Berikut gejala dari perdarahan subarachnoid:

  • Tiba-tiba sakit kepala parah (sering digambarkan sebagai “sakit kepala terparah dalam hidup saya”)
  • Mual dan muntah
  • Leher kaku
  • Kepekaan terhadap cahaya (fotofobia)
  • Penglihatan kabur atau ganda
  • Hilang kesadaran
  • Kejang

Perdarahan subarachnoid sering kali merupakan tanda pecahnya aneurisma. Untuk mendiagnosis perdarahan subarachnoid, dokter Anda kemungkinan besar akan merekomendasikan:

  • CT scan. Tes pencitraan ini dapat mendeteksi pendarahan di otak Anda. Dokter Anda mungkin menyuntikkan pewarna kontras untuk melihat pembuluh darah Anda secara lebih rinci (CT angiogram).
  • MRI. Tes pencitraan ini juga dapat mendeteksi pendarahan di otak Anda. Dokter Anda mungkin menyuntikkan pewarna ke dalam pembuluh darah untuk melihat arteri dan vena secara lebih rinci (angiogram MR) dan untuk menyoroti aliran darah.
  • Angiografi serebral. Dokter Anda memasukkan tabung tipis dan panjang (kateter) ke dalam arteri di kaki Anda dan memasukkannya ke otak Anda. Pewarna disuntikkan ke dalam pembuluh darah otak Anda untuk membuatnya terlihat di bawah pencitraan sinar-X. Dokter Anda mungkin merekomendasikan angiografi serebral untuk mendapatkan gambar yang lebih detail atau jika diduga ada perdarahan subarachnoid tetapi penyebabnya tidak jelas atau tidak muncul pada pencitraan lain.

Hingga 22% dari perdarahan subarachnoid aneurysmal tidak muncul pada tes pencitraan awal. Jika tes awal Anda tidak menunjukkan perdarahan, dokter Anda mungkin merekomendasikan:

  • Pungsi lumbal. Dokter Anda memasukkan jarum ke punggung bawah Anda untuk menarik sejumlah kecil cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (cairan serebrospinal). Cairan diperiksa untuk mengetahui adanya darah, yang dapat mengindikasikan perdarahan subarachnoid.
  • Pencitraan berulang. Tes mungkin diulang beberapa hari setelah pengujian awal.

Pengobatan untuk perdarahan subarachnoid bervariasi, tergantung pada penyebab perdarahan dan tingkat kerusakan otak. Perawatan mungkin termasuk tindakan penyelamatan nyawa, pengurangan gejala, perbaikan pembuluh darah, dan pencegahan komplikasi.

Insufisiensi Adrenal: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Insufisiensi adrenal atau juga biasa disebut krisis adrenal adalah dimana kelenjar adrenal di dalam tubuh tidak memproduksi hormon kortisol dan/atau aldosteron dengan jumlah yang cukup. Kondisi ini dapat berbahaya karena hormon tersebut berperan penting dalam proses metabolisme tubuh dan menjaga kestabilan tekanan darah.

Insufisiensi adrenal juga terbagi dalam 3 tipe yaitu  primer, sekunder, atau tersier. Tipe ini tergantung dari dimana terjadinya masalah hormon yang menjadi penyebabnya.

Letak kelenjar adrenal adalah pada ginjal yang memproduksi hormon kortisol dan aldosteron. Fungsi dari hormon tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hormon Kortisol

Salah satu peran dari hormon kortisol adalah membantu tubuh untuk menghadapi stres, sehingga hormon ini juga disebut dengan hormon stres. Selain itu, hormon kortisol juga mempunyai peran untuk merespon tekanan darah, mengontrol kadar glukosa di dalam darah, membantu respon sistem imun, dan mengatur metabolisme.

  1. Hormon Aldosteron

Peran hormon aldosteron di dalam tubuh adalah untuk mengatur keseimbangan mineral di dalam darah dan kadar garam pada tubuh. Hal ini agar tekanan darah tetap stabil. Mineral seperti natrium dan kalium yang dihasilkan aldosteron juga berfungsi untuk sistem saraf dan otot serta menjaga irama jantung untuk tetap stabil.

Penderita insufisiensi umumnya sedikit karena kondisi ini menjangkit 1 dari 100.000 orang. Dari 3 tipe, insufisiensi adrenal sekunder lebih sering ditemui dengan jumlah rasio 100 hingga 140 orang dari 1 juta orang.

Gejala insufisiensi Adrenal

Gejala penyakit insufisiensi adrenal umumnya tidak spesifik dan terkadang pasien sendiri tidak menyadari. Namun, beberapa gejala atau tanda yang biasa terjadi pada penderita insufisiensi adrenal adalah seperti:

  • Otot lemah
  • Berat badan menurun
  • Nafsu makan menurun
  • Gampang lelah
  • Keinginan makan makanan yang asin meningkat
  • Muntah, mual, dan diare
  • Sakit perut
  • Mengalami tekanan darah rendah (saat berdiri terasa seperti akan pingsan)
  • Warna pada kulit bagian tertentu menghitam (terutama pada bekas luka, daerah lipatan, jari kaki, dan bibir)
  • Sering nyeri sendi
  • Siklus menstruasi pada wanita tidak teratur
  • Disfungsi seksual pada wanita
  • Gula darah rendah
  • Depresi

Gejala dapat semakin memburuk jika tidak diatasi dengan baik dan penderita mengalami peristiwa stres fisik. Kondisi ini disebut dengan krisis addison dengan gejala seperti nyeri pada punggung bagian bawah, diare dan muntah yang berat, hingga kehilangan kesadaran. Krisis addison perlu ditangani oleh medis secepatnya karena kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen jika terlambat ditangani.

Penyebab Insufisiensi Adrenal

Insufisiensi adrenal terjadi ketika terganggunya produksi hormon kortisol dan aldosteron karena kelenjar adrenal mengalami kerusakan. Beberapa kondisi atau penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan pada kelenjar adrenal adalah seperti:

  • Infeksi jamur, HIV, tuberkulosis
  • Penyebaran kanker hingga kelenjar adrenal
  • Autoimun
  • Penumpukan protein abnormal dalam tubuh 
  • Kelainan pada kelenjar pituitari
  • Kelainan pada hipotalamus
  • Operasi pengangkatan kelenjar adrenal

Risiko untuk menderita insufisiensi adrenal dapat meningkat pada wanita dengan usia 30 hingga 50 tahun yang menderita penyakit autoimun dan dengan kelainan kelenjar pituitari atau hipotalamus. 

Cara Mengobati Insufisiensi Adrenal

Memenuhi kebutuhan hormon kortisol dapat menjadi cara untuk mengobati insufisiensi adrenal. Hal ini dapat dilakukan dengan mengkonsumsi obat atau tablet dengan kandungan glukokortikoid sintetik.

Jika penderita juga mengalami penurunan hormon aldosteron, maka obat yang dapat dikonsumsi adalah fludrokortison asetat serta menambah asupan konsumsi garam. 

Apabila Anda merasakan gejala-gejala insufisiensi adrenal semakin memburuk, maka Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Melalui pengobatan yang tepat, pasien dengan insufisiensi adrenal dapat hidup dengan normal.

Lakukan Pemeriksaan PCR atau Rapid Tes dengan Promo Kesehatan agar Murah

Adanya virus covid-19 di tubuh seseorang bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan yang disebut PCR dan rapid tes. Belakangan, bahkan rapid tes dibedakan lagi menjadi 2, yaitu, rapid tes antibodi atau serologi dan rapid tes antigen. Harga tes ini pun beragam, untuk mendapatkan harga yang lebih murah, Anda bisa menggunakan promo kesehatan yang biasanya disediakan oleh berbagai jenis platform.

Namun, sebelum mencari berbagai promo kesehatan untuk diskon pemeriksaan covid-19 ini, ada baiknya Anda mengetahui jenis pemeriksaan mana yang akan Anda lakukan. Meskipun sama-sama bertujuan mendeteksi virus Corona, namun semua tes itu punya cara kerja masing-masing. Apa beda semua jenis tes yang sama-sama untuk mendeteksi virus corona ini? Berikut info selengkapnya.

Perbedaan Masing-masing Jenis Pemeriksaan Covid-19

Ketika Anda memiliki gejala-gejala yang mengarah pada Covid-19, seperti sesak napas, indera penciuman hilang, batuk, hingga demam, Anda disarankan untuk segera ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan atau tes Covid-19. Tes covid-19 yang bisa dilakukan adalah rapid tes antibodi, rapid tes antigen, dan PCR.

Berikut penjelasan lengkap untuk masing-masing tes yang berguna untuk mendiagnosis Covid-19 tersebut.

  1. PCR (Polymerase Chain Reaction)

Tes PCR ini adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan mendeteksi pola genetik (DNA dan RNA) dari virus Covid-19 atau jenis virus lainnya yang masuk ke tubuh. Tes PCR memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi sehingga merupakan tes yang direkomendasikan oleh WHO dalam mendeteksi adanya virus Covid-19 ini.

Meski begitu, hasil pemeriksaan tes PCR atau swab ini butuh waktu cukup lama, sekitar 1-7 hari. Tes PCR biasanya diperlukan bagi orang yang mengalami gejala seperti penderita Covid-19, apalagi orang tersebut memiliki riwayat pernah melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19.

  1. Rapid Tes Antigen

Selain swab atau PCR, biasanya pemeriksaan Covid-19 bisa dilakukan dengan rapid tes. Rapid tes ini bisa diketahui hasilnya dalam waktu yang singkat, hanya butuh beberapa menit hingga 1 jam menunggu hasilnya.

Hingga kini, rapid tes sendiri ada 2 jenisnya, salah satunya rapid tes antigen. Antigen adalah suatu zat atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Karena dianggap berbahaya, biasanya akan memicu sistem imunitas tubuh membentuk antibodi. 

Begitu juga dengan virus corona, jika masuk ke tubuh akan terdeteksi sebagai antigen oleh imun tubuh. Sehingga virus Covid-19 bisa dideteksi melalui pemeriksaan rapid tes antigen.

Melakukan rapid tes antigen untuk mendeteksi virus corona dilakukan dengan mengambil sampel lendir hidung atau pun tenggorokan melalui proses swab. Agar hasilnya akurat, tes antigen ini sebaiknya dilakukan maksimal 5 hari setelah gejala COvid-19 muncul.

Tingkat akurasi rapid tes antigen ini memang belum seakurat PCR, hanya saja sudah lebih baik dibanding rapid tes antibodi.

  1. Rapid Tes Antibodi

Virus Covid-19 yang masuk ke tubuh bisa terdeteksi oleh imunitas tubuh. Kemudian, sistem imun akan merespons dengan membentuk antibodi yang bertujuan memusnahkan antigen berupa virus Covid-19 tersebut. Antibodi untuk melawan virus Corona inilah yang dideteksi dengan rapid tes antibodi ini.

Rapid tes antibodi termasuk jenis pemeriksaan Covid-19 yang paling awal muncul. Pemeriksaan ini cukup cepat dan mudah dilakukan. Sayangnya, rapid tes antibodi ini tingkat akurasinya terbilang rendah dibanding 2 tes sebelumnya. Hasil pemeriksaan rapid tes antibodi ini dibaca sebagai reaktif dan nonreaktif.

Selain cara kerjanya, perbedaan ketiga jenis tes ini juga bisa dilihat dari segi harga. Rapid tes antibodi dibatasi maksimal harganya Rp 150.000, sedangkan rapid tes antigen maksimal Rp 275.000. Untuk tes PCR dibatasi maksimal seharga Rp 900.000.

Biasanya harga tersebut bisa lebih murah dengan memanfaatkan promo kesehatan di berbagai klinik maupun platform kesehatan lainnya. Sehingga harga tes Covid-19 yang akan Anda lakukan bisa lebih murah.