Amlodipine: Obat Andalan Penderita Hipertensi

Tahukah kamu bahwa penderita hipertensi di Indonesia mencapai lebih dari 63 juta orang? Menurut pers rilis yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia, angka kematian di Indonesia yang disebabkan oleh hipertensi mencapai lebih dari 400 ribu kematian. Lebih dari 50% penderita hipertensi merupakan kelompok umur 55-64 tahun, yang mana merupakan orang-orang berusia lanjut.

Tidak jarang, ketika kita pergi ke rumah sakit, puskesmas, atau klinik kesahatan, banyak ditemui kelompok usia tersebut menderita penyakit degeneratif. Mereka rela mengantri untuk melakukan kontrol dan mendapat obat secara rutin. Salah satu masalah kesehatan yang sering dikeluhkan adalah hipertensi.

Bila ditanya apa saja obat hipertensi yang mereka dapatkan, kebanyakan dari mereka akan menjawab obat amlodipine.

Apakah terdapat anggota keluarga kamu yang juga rutin mendapat amlodipine ini? Apabila ia, kamu perlu untuk memperhatikan artikel berikut ini agar semakin paham dengan obat amlodipine.

Apa itu Obat Amlodipine?

Amlodipine termasuk dalam golongan obat penyekat kanal kalsium yang bekerja dengan cara melemaskan pembuluh darah, sehingga aliran darah dapat mengalir dengan mudah. Selain untuk mengatasi hipertensi, amlodipine juga berfungsi mengatasi nyeri dada pada pasien penyakit jantung koroner.

Amlodipine tersedia dalam bentuk obat minum yang bisa dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Penggunaan obat amlodipine ini memerlukan dosis yang sesuai dengan anjuran dokter. Alasan amlodipine sering diresepkan dokter untuk mengatasi amlodipine adalah karena obat ini aman dan efek sampingnya  relatif jarang terjadi. Efek samping yang mungkin dapat ditimbulkan akibat mengkonsumsi amlodipine antara lain: bengkak pada kedua kaki, rasa pusing, muka merah, dan jantung berdebar cepat.

Perlu diingat bahwa obat ini membutuhkan perhatian khusus, terutama untuk ibu hamil atau seseorang yang sedang merencanakan kehamilan. Hingga saat ini, belum terdapat informasi yang jelas mengenai dampak obat amlodipine pada janin.

Haruskah Obat Amlodipine Dikonsumsi Seumur Hidup?

Perlu diingat, bila dokter sudah memberikan resep amlodipine untuk mengatasi hipertensi, artinya obat ini tetap harus diminum, walaupun kondisi tekanan darah sudah terkontrol atau dalam keadaan normal, serta tidak merasakan gejala tertentu.

Konsumsi obat amlodipine ini berpeluang untuk menimbulkan efek samping, seperti menurunnya kesadaran, pusing dan sakit kepala, kemerahan pada wajah, hingga mual dan sakit perut.

Namun, alasan mengapa obat hipertensi, termasuk amlodipine disarankan untuk diminum secara rutin adalah karena manfaatnya penggunaannya lebih tinggi dibandingkan dengan resiko yang ditimbulkan apabila tidak mengkonsumsinya secara rutin.

Bila tidak terkontrol dengan baik, hipertensi dapat mengakibatkan berbagai komplikasi, meliputi: stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan aneurisma pembuluh darah.

Dalam suatu penelitian disebutkan bahwa orang yang mengalami hipertensi dan rutin mengkonsumsi obat hipertensi mampu untuk mencapai tekanan darah yang normal kembali. Resiko kematian dalam 9,5 tahun ke depan dari orang yang tekanan darahnya terkontrol dengan obat hipertensi lebih rendah dibandingkan dengan penderita hipertensi yang tekanan darahnya tidak terkontrol dengan baik.

Jelas bahwa penyakit hipertensi tidak dapat disepelekan begitu saja. Lakukanlah kontrol rutin dan jangan lupa minum obat sesuai anjuran dokter!

Cermati Cara Kerja Obat Timolol dan Kegunaannya

Bagi pasien yang mengalami angina (rasa nyeri pada dada), hipertensi, glaukoma (tekanan berat pada mata yang dapat mengakibatkan kebutaan), dan aritmia (detak jantung tidak beraturan) pada umumkan akan diresepkan obat timolol. Timolol tergolong ke dalam obat penghambat beta (beta blockers) yang bekerja untuk mengatur ritme jantung agar kembali normal dan mencegah terjadinya serangan jantung untuk yang kedua kali.

Kelainan atau penyakit yang dapat diatasi oleh timolol cukup beragam, sehingga menimbulkan pertanyaan bagaimana sebenarnya obat ini dapat mengatasi permasalahan seperti yang disebutkan di atas?

Pada dasarnya kelompok obat penghambat beta memiliki fungsi untuk mengurangi tekanan darah. Cara kerja obat ini mempengaruhi kinerja jantung dan saluran pernapasan, yang mana akan melonggarkan pembuluh darah dan menurunkan denyut jantung. Timolol akan menghambat hormon norepinefrin (dikenal dengan hormon adrenalin) dan hormon noradrenalin di sistem syaraf simpatik. Syaraf simpatik adalah bagian dari sistem syaraf otonom yang bekerja tanpa kita sadari atau kendalikan. Hormon adrenalin dan noradrenalin berperan dalam mempersiapkan otot untuk kerja keras dan pengerahan tenaga. Tujuan dari mempersiapkan otot untuk bekerja keras ini agar tubuh dapat memberi respons otomatis terhadap situasi berbahaya.

Tanpa disadari, apabila jumlah hormon adrenalin berlebih, situasi ini akan memberikan dampak negatif bagi tubuh. Hormon tersebut akan membuat jantung berdetak lebih cepat dan berdebar tak menentu, tekanan darah naik, produksi keringat berlebihan, dan timbul cemas.

Penggunaan timolol akan memblokir keluarnya hormon adrenalin dan noradrenalin, sehingga kebutuhan oksigen dan tekanan pada jantung menjadi tidak begitu besar. Selain itu, obat ini juga akan menurunkan kekuatan kontraksi pada otot pada jantung, pembuluh darah di jantung, otak, serta seluruh tubuh. Timolol juga akan menghambat produksi hormon angiotensin yang dilakukan oleh ginjal. Berkurangnya kadar hormon tersebut akan membuat pembuluh darah lebih rileks serta melebar, sehingga aliran darah akan berjalan lebih lancar.

Obat timolol hadir dalam dua bentuk, yaitu bentuk tetes atau drop yang digunakan khusus untuk mata dan bentuk tablet. Obat timolol tetes hingga kini digunakan sebagai pengobatan glaukoma. Obat ini akan mengurangi produksi cairan di bola mata yang nantinya akan mengurangi tekanan pada bola mata pada pasien glaukoma. Dengan begitu, ia mampu mencegah kerusakan syaraf mata dan mengurangi risiko buta permanen.

Selain untuk mengobati gangguan pada jantung, pembuluh darah dan glaukoma, timolol juga bermanfaat untuk pasien yang memiliki gangguan psikologis, seperti kecemasan berlebih. Beta-blockers akan menghalangi keluarnya hormon penyebab stres sehingga, efek samping dari stres berlebih, seperti gemetar dan berkeringat akan berkurang. Bagi pasien yang sering kali mengalami jantung berdebar akibat hipertiroid juga bias mendapatkan manfaat dari obat ini.

Pasien yang sedang menjalani pengobatan dengan timolol tidak diperbolehkan menghentikan penggunaan obat secara mendadak tanpa rekomendasi dan pengawasan dokter. Penghentian obat secara mendadak justru dapat memperparah kondisi setelah serangan jantung atau pada penderita angina. Penghentian konsumsi timolol harus dilakukan secara bertahap dalam 1-2 minggu.