Transfusion Syndrome

Twin to twin transfusion syndrome (TTTS) merupakan kondisi yang langka dimana kondisi tersebut dapat membahayakan janin (kembar) karena terhubungnya pembuluh darah sehingga dapat menghambat persediaan nutrisi pada janin.

TTTS menyebabkan salah satu janin menjadi pendonor, dan yang lain sebagai penerima. Pendonor memberikan penerima jumlah darah yang lebih banyak dari persediaan darah yang diterima. Hal tersebut menyebabkan pendonor mengalami malnutrisi dan masalah pada organ-organ tubuhnya. Penerima bisa mengalami masalah jantung karena menerima jumlah darah secara berlebihan.

image Transfusion Syndrome

Gejala

Ibu hamil yang mengalami TTTS akan menunjukkan gejala berikut:

  • Merasa bahwa pertumbuhan di dalam rahim sangat cepat dan berlebihan.
  • Masalah pada perut (nyeri, perut terasa kencang, atau kontraksi).
  • Ukuran rahim terlalu besar untuk usia kehamilannya.
  • Berat badan meningkat secara tiba-tiba.
  • Pembengkakan pada tangan dan kaki yang terjadi pada masa awal kehamilan.

Penyebab

Para peneliti belum mengetahui dengan pasti apa yang menyebabkan ibu hamil mengalami twin to twin transfusion syndrome. Namun, para peneliti menduga bahwa ibu hamil mengalami gangguan pembelahan sel telur setelah pembuahan. Hal tersebut membuat plasenta menjadi tidak normal. Plasenta yang abnormal dapat memicu TTTS.

Jika Anda Mengalami TTTS

Jika Anda hamil kembar dan mengalami twin to twin transfusion syndrome, Anda sebaiknya hubungi dokter. Sebelum bertemu dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal di bawah:

  • Daftar pertanyaan yang berkaitan dengan TTTS.
  • Daftar gejala yang Anda alami karena sindrom tersebut.
  • Daftar riwayat medis (jika dokter membutuhkannya).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Berapa lama kondisi tersebut terjadi?
  • Apakah kondisi yang Anda alami parah atau tidak?

Diagnosis

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat melakukan diagnosis yang meliputi:

  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan memeriksa panjang jalur lahir dan leher rahim.

  • USG

USG digunakan untuk membantu mendeteksi adanya TTTS atau tidak.

  • Volume cairan amnion

Pengukuran volume cairan amnion dilakukan untuk mengetahui jika ibu hamil mengalami TTTS atau tidak. Jika volume cairan amnion di rahim banyak, maka jalur lahir juga akan membesar sehingga ibu hamil berisiko terhadap TTTS dan persalinan secara prematur.

  • Ekokardiografi

Ekokardiografi digunakan untuk memeriksa kondisi jantung janin kembar.

Pengobatan

Pengobatan TTTS ditentukan oleh usia kehamilan dan seberapa parah kondisi yang dialami ibu hamil. Berikut adalah beberapa pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi TTTS:

  • Memantau kondisi kehamilan

Jika kondisi yang dialami ibu hamil tidak parah, mereka tidak perlu menjalani operasi. Namun, kondisi kehamilannya perlu dipantau dengan menggunakan USG dan ekokardiografi.

  • Amnioreduksi

Jika kondisi yang dialami ibu hamil sedang, mereka perlu menggunakan amnioreduksi. Amnioreduksi merupakan cara untuk mengurangi cairan amniotik dimana cairan tersebut muncul secara berlebihan pada janin. Cara tersebut bertujuan untuk memperlancar aliran darah janin.

  • Operasi

Operasi merupakan pilihan lain yang perlu dijalani ibu hamil jika amnioreduksi tidak efektif. Operasi dilakukan dengan menggunakan laser yang disertai dengan kabel tipis yang akan dimasukkan ke dalam perut ibu hamil sehingga dapat mencapai kantung amniotik janin penerima. Laser tersebut akan memotong pembuluh darah penyebab TTTS.

Pencegahan

TTTS merupakan kondisi yang terjadi secara acak, namun tidak dapat dicegah.

Kesimpulan

Twin to twin transfusion syndrome merupakan kondisi yang dapat membahayakan janin, karena dapat menyebabkan malnutrisi pada janin pendonor dan masalah jantung pada janin penerima donor. Untuk mengatasi kondisi tersebut, dokter dapat mengobatinya dengan cara-cara yang disebutkan di atas. Untuk informasi lebih lanjut tentang TTTS, Anda bisa tanyakan persoalan tersebut ke dokter.

Perlukah Khawatir Jika Janin Belum Masuk Panggul?

Ketika Anda memasuki minggu terakhir kehamilan, mungkin akan ada hari ketika Anda bangun dan bertanya apakah bayi Anda sudah masuk panggul atau belum. Janin masuk panggul memainkan peran penting dalam kelahiran bayi Anda, lalu bagaimana jika belum?

Kebanyakan orang berpikir bahwa janin masuk panggul adalah tanda bahwa Anda akan segera melahirkan. Tetapi waktu janin masuk panggul sebenarnya bervariasi dari orang ke orang, sehingga mengetahui kapan hal itu terjadi dan apa artinya akan sangat membantu Anda. 

Anda bisa menganggap panggul Anda sebagai jembatan antara bayi Anda dan dunia luar, setidaknya dalam hal melahirkan. Selama kehamilan Anda, ligamen panggul Anda perlahan-lahan mengendur dan meregang untuk memberi ruang saat bayi Anda harus keluar dari jalan lahir. 

Saat ligamen mengendur dan Anda mendekati akhir kehamilan, kepala bayi Anda akan mulai bergerak ke bawah menuju panggul. Setelah bagian terluas dari kepala bayi Anda telah memasuki panggul, kepala bayi Anda secara resmi akan melakukan tugasnya. Namun bagaimana jika Anda memasuki minggu terakhir kehamilan dan janin masih belum masuk panggul?

Setiap kehamilan berbeda, dan janin masuk panggul tidak mengikuti jadwal tertentu. Namun, pada kehamilan pertama, biasanya terjadi beberapa minggu sebelum kelahiran, di antara usia kehamilan 34 minggu dan 38 minggu.

Pada kehamilan berikutnya, kepala bayi Anda atau janin mungkin tidak bergerak sampai persalinan Anda dimulai. Kedua skenario tersebut normal. Jika Anda mendekati akhir kehamilan, dan janin belum bergerak masuk panggul, Anda tidak melakukan kesalahan apa pun. Janin Anda mungkin dalam posisi yang tidak diinginkan, seperti menghadap posterior (punggung ke belakang) atau sungsang. Berikut beberapa alasan mengapa janin belum masuk panggul:

  • Brim overlap OP baby hits fetoscope Dagu bayi terangkat, membuat ukuran kepala lebih besar
  • Kepala bayi Occiput Posterior tumpang tindih dengan tulang kemaluan (diameter kurang baik)
  • Kelimpahan cairan ketuban yang sederhana (bayi terlalu banyak mengapung sebelum kontraksi membantu penurunan awal)
  • Kepala terlalu besar untuk panggul (jarang)
  • Skoliosis yang parah
  • Belum waktunya bayi untuk lahir
  • Sang ibu telah melahirkan sebelumnya dan bayi ini akan melahirkan
  • Plasenta menghalangi jalan bayi, sehingga janin belum masuk panggul
  • Segmen bawah rahim memiliki sedikit putaran yang mengurangi ruang untuk bayi

Atau mungkin juga masalah anatomi dengan plasenta, rahim, atau panggul Anda yang berarti bayi Anda tidak akan dapat bergerak sepenuhnya tanpa bantuan. Atau, kemungkinan besar, tidak ada yang salah sama sekali.

Sayangnya, beberapa elemen keterlibatan bayi Anda akan berada di luar kendali Anda sepenuhnya. Tidak ada yang dapat memberitahu Anda kapan tepatnya bayi Anda akan masuk panggul, tetapi seperti kebanyakan hal lain dalam kehamilan, persalinan, dan kelahiran, tidak banyak yang dapat Anda lakukan untuk mempercepat atau memperlambat prosesnya. 

Tetapi Anda biasanya dapat mengetahui jika dan kapan kepala bayi Anda bergerak dan merasakan janin masuk panggul. Jika Anda mendekati akhir kehamilan Anda (terutama jika ini adalah kehamilan pertama Anda), dan Anda masih merasa janin belum berpindah posisi untuk masuk panggul, bicarakan dengan dokter Anda.

Kista Payudara Apakah Berbahaya?

Kista payudara adalah kantung berisi cairan di dalam payudara. Kista payudara biasanya bersifat jinak dan bukan kanker. Anda bisa memiliki satu atau lebih kista payudara, dan dapat terbentuk di satu atau kedua payudara. Kista payudara umumnya terasa seperti buah anggur atau balon yang berisi air, namun terkadang dapat bertekstur keras. Kondisi ini tidak membutuhkan perawatan khusus, kecuali kista berukuran besar dan menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman. Dalam kasus tersebut, menguras cairan dari dalam kista payudara menjadi bentuk perawatan utama untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan. Kista payudara umum dijumpai pada wanita yang belum menopause, usia 35 hingga 50 tahun. Kista payudara juga dapat terjadi pada wanita pasca menopause yang mendapatkan terapi hormon.

Penyebab dan gejala

Masing-masing payudara Anda terdiri dari lobus jaringan kelenjar. Lobus tersebut terbagi menjadi lobules yang lebih kecil dan dapat memproduksi ASI pada masa kehamilan dan menyusui. Jaringan pendukung yang memberikan bentuk pada payudara terbuat dari jaringan lemak dan jaringan penghubung fibrosa. Kista payudara berkembang sebagai hasil dari penumpukan cairan di dalam kelenjar payudara. Kista payudara dapat dibedakan sesuai dengan ukurannya.

  • Microcyst berukuran sangat kecil dan tidak dapat dirasakan. Namun kondisi ini dapat terlihat pada saat tes pencitraan, misalnya mammography atau ultrasound.
  • Macrocyst berukuran besar dan dapat dirasakan dengan sentuhan. Ukurannya bisa mencapai diameter 2,5 hingga 5 cm. Kista payudara yang besar dapat memberikan tekanan pada jaringan payudara di dekatnya, sehingga menyebabkan rasa sakit atau rasa tidak nyaman pada daerah tersebut.

Para ahli tidak tahu secara pasti apa yang menyebabkan kista payudara. Namun, kondisi ini mungkin terbentuk sebagai akibat perubahan hormon di saat menstruasi bulanan. Beberapa bukti juga menunjukkan bahwa estrogen berlebih di dalam tubuh, yang mana dapat menstimulasi jaringan payudara, dapat menjadi alasan terbentuknya kista payudara.

Kista payudara dapat ditemukan di salah satu atau kedua payudara. Gejala adanya kista payudara adalah benjolan oval atau bulat yang lunak dan dapat digerakkan; cairan berwarna kuning atau coklat gelap yang keluar dari puting; rasa sakit pada daerah di sekitar kista; meningkatnya ukuran benjolan payudara sebelum menstruasi; dan menurunnya benjolan payudara dan gejala lain setelah menstruasi berakhir. Memiliki kista payudara tidak meningkatkan risiko Anda menderita kanker payudara.

Diagnosa

Setelah mendiskusikan gejala dan riwayat kesehatan Anda, dokter akan melakukan pemeriksaan payudara dan tes diagnosa lain, seperti mammogram atau ultrasound payudara. Berdasarkan temuan pada pemeriksaan payudara klinis dan tes pencitraan, Anda perlu mendapatkan aspirasi jarum halus atau biopsi payudara.

Dalam pemeriksaan payudara, dokter akan memeriksa benjolan dan melihat apakah ada ketidaknormalan payudara. Karena sulit membuat diagnosa hanya dengan pemeriksaan ini saja, dokter akan merekomendasikan ultrasound payudara atau aspirasi jarum halus. Ultrasound dapat membantu dokter menentukan apakah benjolan payudara berisi cairan atau berbentuk solid. Daerah yang berisi cairan mengindikasikan adanya kista payudara. Sementara benjolan yang padat mengindikasikan adanya kanker payudara. Dokter dapat merekomendasikan biopsi guna melakukan evaluasi lebih jauh pada masa yang terlihat padat. Pada pemeriksaan aspirasi jarum halus, dokter memasukkan jarum tipis pada benjolan payudara dan mencoba menguras cairan di dalamnya. Aspirasi jarum halus terkadang dilakukan dengan arahan dari ultrasound guna memastikan jarum ditempatkan pada daerah yang tepat. Apabila cairan keluar dan benjolan payudara berkurang, dokter Anda dapat membuat diagnosa kista payudara dengan segera.

Tanda-tanda Kanker Ovarium yang Perlu Dipahami Wanita

Tanda-tanda Kanker Ovarium yang Perlu Dipahami Wanita

Menjadi penyakit yang selalu dikhawatirkan oleh para perempuan, kanker ovarium memang harus diwaspadai keberadaannya. Munculnya kanker ini diakibatkan kondisi tumor ganas yang berkembang di dalam indung telur, bagian yang khusus memproduksi hormon wanita. Jika diobati dengan tepat dan bisa terdeteksi lebih awal, maka bisa dicegah.

Kasus yang terjadi akibat penyakit ini di dunia diperkirakan sudah mencapai lebih dari 200 ribu dalam setiap tahunnya. Di Indonesia, data terkait kanker ini masih belum selengkap dari data penyakit kanker lainnya, seperti kanker payudara dan serviks. Meski demikian, jumlah kasus yang terjadi di setiap tahunnya diketahui selalu bertambah.

Tanda-tanda Kanker Ovarium

Pada umumnya semua jenis penyakit kanker memang sangat jarang menimbulkan gejala di awal kemunculannya. Hal inilah yang menyebabkan kanker jenis ini baru bisa terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut, namun demikian berikut ini terdapat beberapa tanda-tanda yang perlu diwaspadai untuk mengetahui kanker pada ovarium.

  • Mual dan perut terasa kembung hingga cepat merasa kenyang, bisa juga disertai sakit perut yang hebat hingga mengalami sembelit.
  • Munculnya pembengkakan pada perut, sering buang air kecil dan akhirnya mengalami penurunan berat badan.
  • Mengalami sakit di bagian vagina ketika melakukan hubungan seks hingga mengeluarkan darah dan berujung pada perubahan siklus menstruasi.

Indung telur yang terletak di dekat kandung kemih dan usus menjadi penyebab munculnya gejala masalah pencernaan yang berkaitan dengan tumor. Apabila gejala mengenai gangguan pencernaan berlangsung selama tiga minggu, maka dalam keadaan ini harus segera melakukan konsultasi dengan dokter ahli.

Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab munculnya kanker yang menyerang ovarium, perempuan yang terjangkit penyakit ini biasanya sudah memasuki masa menopause. Namun tidak hanya itu, riwayat keluarga juga bisa menjadi penyebab perempuan terkena penyakit kanker ini, berikut ini beberapa penyebab munculnya kanker pada ovarium.

  • Terapi Hormon Estrogen

Terapi ini biasanya dilakukan oleh para wanita yang hampir memasuki masa menopause, perempuan yang menjalani terapi ini sangat rentan terkena kanker. Maka dari itu, untuk menjalani terapi ini harus dengan sangat hati-hati.

  • Riwayat Keluarga

Seperti yang sudah dijelaskan sedikit di atas bahwa salah satu penyebab seseorang terkena kanker pada ovarium adalah riwayat keluarga. Untuk mengetahui hal ini bisa dengan melakukan tes darah, nantinya dapat dilihat lewat kadar CA-125 dalam tubuh.

  • Gaya Hidup Tak Sehat

Salah satu tanda gaya hidup tak sehat adalah mengalami obesitas, dalam mengatasi hal ini bisa dilakukan dengan diet. Konsumsi makanan sehat dan rutin dalam berolahraga setiap hari secara teratur.

  • Proses Ovulasi

Kerusakan pada ovarium juga bisa dipengaruhi pada proses pelepasan sel telur selama ovulasi di setiap bulannya. Risiko kemungkinan ovarium terkena kanker bisa menurun jika kondisi tersebut dapat dicegah, sementara itu ovulasi akan berhenti dengan sendirinya selama masa kehamilan dan menyusui.

Kanker ovarium menjadi salah satu penyakit yang sulit untuk dicegah, hal ini tak lepas dari apa yang penyebab pasti kemunculannya. Namun, secara umum ditandai ketika sel-sel sehat mengalami mutasi genetik, itulah yang membuat perubahan sel normal yang berubah menjadi abnormal di dalam tubuh.

Sementara sel-sel sehat yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya akan mati secara perlahan, sebaliknya sel abnormal yang ada justru tumbuh tanpa terkendali. Tumbuhnya sel-sel abnormal ini yang membentuk tumor dan bermetastasis.

Wanita Semakin Berumur, Perut Semakin Buncit?

Pernah nggak kamu perhatikan orang-orang yang berusia lanjut cenderung memiliki perut yang buncit, terutama para wanita yang sudah berumur? Ukuran pinggang yang makin melebar seiring pertambahan usia adalah hal yang umum terjadi. Keluhan umum dari para wanita adalah makin sulitnya menjaga berat badan ketika akan memasuki usia kepala tiga. Lalu, ketika periode menopause, pada umumnya berat badan tidak bertambah secara signifikan tetapi, bentuk perut semakin membuncit. Maka timbul pertanyaan, apa sih penyebab perut buncit pada perempuan yang mulai menopause?

Pada prinsipnya, ada tiga faktor yang mempengaruhi berat badan kita, yaitu jumlah kalori yang dikonsumsi tiap harinya, jumlah kalori yang terbakar oleh aktivitas organ tubuh dan aktivitas fisik setiap hari, serta usia kita. Konsumsi makanan terlalu banyak apabila tidak diimbangin dengan aktivitas fisik, akan menyebabkan kelebihan kalori yang diserap dalam tubuh sehingga, berat badan akan naik, termasuk lemak perut yang akan bertambah. Pertambahan usia akan mempengaruhi massa otot.

Makin tua usia kita, massa otot akan semakin berkurang. Di sisi lain, kadar lemak tubuh makin meningkat. Berkurangnya massa otot ini menyebabkan berkurangnya penggunaan kalori oleh tubuh, maka dari itu biasanya akan timbul banyak keluhan tentang betapa sulitnya menjaga berat badan di usia 35 dibanding saat berusia 25. Memasuki usia menopause, banyak perempuan mengeluhkan bentuk perut yang tampak membuncit walaupun mereka tidak banyak makan dan berat badannya tidak bertambah.

Penyebab perut buncit pada perempuan usia menopause adalah menurunnya kadar estrogen. Kondisi tersebut ternyata memengaruhi bagaimana lemak didistribusikan dan disimpan di dalam tubuh. Kecenderungan bertumpuknya lemak di perut juga dipengaruhi oleh faktor genetik.

Penyebab perut buncit dari faktor usia, hormonal dan genetik akan sulit untuk dicegah. Akan tetapi, kita tetap harus berupaya untuk menjaga ukuran perut agar tidak terlalu besar dengan mengubah gaya hidup.

Seiring bertambahnya usia, cobalah lebih memperhatikan pola makan sehari-hari, terutama dengan lebih banyak mengonsumsi makanan-makanan sehat. Perbanyak makan sayuran, buah-buahan, dan cobalah untuk mengganti asupan karbohidrat dengan pilihan seperti, nasi merah atau oatmeal. Kurangi konsumsi daging merah dan cukupi asupan protein dari daging putih tanpa lemak. Tidak lupa untuk membatasi konsumsi gula, garam dan lemak.

Dengan pola makan seperti ini, selain menjaga agar ukuran pinggang tidak melebar terlalu banyak, ia juga bermanfaat mengurangi risiko penyakit degeneratif lain yang umumnya diderita orang lanjut usia.

Jangan lupa untuk menyeimbangkan asupan makanan dengan aktivitas fisik, seperti olahraga rutin agar kalori yang disimpan di dalam tubuh dapat terbakar sempurna sehingga, lemak tidak terlalu banyak menumpuk di perut. Lakukan olahraga dengan intensitas sedang setidaknya 150 menit/minggu atau dengan melakukan olahraga intensitas tinggi sebanyak 75 menit/minggu. 

Plasenta Letak Rendah yang Berisiko Sebabkan Pendarahan pada Calon Ibu

Asupan nutrisi dan oksigen untuk janin ketika dalam kandungan dikirimkan melalui plasenta. Di kehidupan sehari-hari, plasenta dikenal sebagai ari-ari. Organ yang terbentuk cakram ini menempel pada dinding rahim dan akan terputus, lalu keluar mengikuti janin yang baru lahir.

Letak plasenta pada dasarnya berpindah-pindah, seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Normalnya, plasenta akan berada di bagian atas rahim ketika usia kehamilan memasuki trimester ketiga. Kondisi ini diperlukan untuk membuka jalan bagi janin agar mudah dilahirkan. Namun, terdapat juga peluang terjadinya kelainan, seperti plasenta letak rendah. Kelainan ini akan menyebabkan tertutupnya sebagian atau seluruh jalan lahir dan keluarnya janin, karena plasenta menempel di bagian rahim. Plasenta letak rendah ini dikenal dengan plasenta previa.

Efek dan risiko dari plasenta letak rendah

Dikarenakan posisi plasenta berada di bagian bawah rahim dan menyebabkan jalan keluarnya janin tertutup, kondisi ini berpeluang menyebabkan perdarahan berat, saat persalinan berlangsung ataupun sebelum persalinan. Perdarahan dari vagina ini dapat membahayakan nyawa ibu dan juga janin.

Ibu hamil dengan plasenta letak rendah juga berisiko untuk mengalami plasenta akreta, yang mana posisi plasenta akan menempel pada dinding rahim dan tidak dapat terlepas, walaupun telah melahirkan. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan hebat yang berisiko tinggi.

Kondisi plasenta letak rendah ini terjadi pada 1 dari 200 kehamilan. Di awal proses persalinan, serviks atau leher rahim akan membuka, sehingga janin dapat keluar. Namun, jika plasenta berada di bagian bawah rahim dan menempel pada jalan lahir tersebut, pembuluh darah yang menghubungkan plasenta dengan rahim akan robek, sehingga menghasilkan perdarahan yang hebat.

Bagaimana cara untuk mengetahui dan mengatasi plasenta letak rendah?

Pemeriksaan USG secara rutin dapat mendeteksi plasenta letak rendah. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk menjadwalkan pemeriksaan dan konsultasi rutin ini.

Jika ditemukan plasenta letak rendah pada trimester pertama dan kedua, umumnya dokter akan melakukan pengamatan dilanjut dengan pemeriksaan ulang pada trimester ketiga, apakah posisi plasenta berubah atau tidak. Selanjutnya, dokter akan menentukan prosedur persalinan yang tepat bagi kondisi kandungan Anda.

Ada beberapa kasus plasenta previa, yang mana gejala yang terjadi adanya perdarahan dari vagina pada trimester kedua kehamilan yang tidak disadari oleh sang ibu. Namun, beberapa kasus lainnya tidak terlihat gejala perdarahan sama sekali.

Penanganan plasenta rendah dilakukan dengan menyesuaikan kondisi tertentu, seperti usia kehamilan, kondisi janin dan posisi plasenta dan bayi, hingga jumlah perdarahan yang dialami sang ibu. Apabila terjadi perdarahan ringan, sang ibu akan dianjurkan untuk istirahat di rumah. Namun, apabila terjadi perdarahan berat, dokter akan memberikan transfusi darah dan obat pencegah kelahiran prematur. Pada kondisi ini, calon ibu juga akan dirawat di rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang optimal.

Kasus plasenta letak rendah yang mengakibatkan perdarahan berat, membutuhkan penanganan dengan operasi caesar. Penanganan ini dilakukan apabila bayi sudah memasuki usia minimal 37 minggu. Namun, apabila usia kandungan belum mencapai 37 minggu, dokter akan memberikan suntikan kortikosteroid yang berfungsi mempercepat pematangan paru-paru pada janin.