Tanda-tanda Kanker Ovarium yang Perlu Dipahami Wanita

Tanda-tanda Kanker Ovarium yang Perlu Dipahami Wanita

Menjadi penyakit yang selalu dikhawatirkan oleh para perempuan, kanker ovarium memang harus diwaspadai keberadaannya. Munculnya kanker ini diakibatkan kondisi tumor ganas yang berkembang di dalam indung telur, bagian yang khusus memproduksi hormon wanita. Jika diobati dengan tepat dan bisa terdeteksi lebih awal, maka bisa dicegah.

Kasus yang terjadi akibat penyakit ini di dunia diperkirakan sudah mencapai lebih dari 200 ribu dalam setiap tahunnya. Di Indonesia, data terkait kanker ini masih belum selengkap dari data penyakit kanker lainnya, seperti kanker payudara dan serviks. Meski demikian, jumlah kasus yang terjadi di setiap tahunnya diketahui selalu bertambah.

Tanda-tanda Kanker Ovarium

Pada umumnya semua jenis penyakit kanker memang sangat jarang menimbulkan gejala di awal kemunculannya. Hal inilah yang menyebabkan kanker jenis ini baru bisa terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut, namun demikian berikut ini terdapat beberapa tanda-tanda yang perlu diwaspadai untuk mengetahui kanker pada ovarium.

  • Mual dan perut terasa kembung hingga cepat merasa kenyang, bisa juga disertai sakit perut yang hebat hingga mengalami sembelit.
  • Munculnya pembengkakan pada perut, sering buang air kecil dan akhirnya mengalami penurunan berat badan.
  • Mengalami sakit di bagian vagina ketika melakukan hubungan seks hingga mengeluarkan darah dan berujung pada perubahan siklus menstruasi.

Indung telur yang terletak di dekat kandung kemih dan usus menjadi penyebab munculnya gejala masalah pencernaan yang berkaitan dengan tumor. Apabila gejala mengenai gangguan pencernaan berlangsung selama tiga minggu, maka dalam keadaan ini harus segera melakukan konsultasi dengan dokter ahli.

Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab munculnya kanker yang menyerang ovarium, perempuan yang terjangkit penyakit ini biasanya sudah memasuki masa menopause. Namun tidak hanya itu, riwayat keluarga juga bisa menjadi penyebab perempuan terkena penyakit kanker ini, berikut ini beberapa penyebab munculnya kanker pada ovarium.

  • Terapi Hormon Estrogen

Terapi ini biasanya dilakukan oleh para wanita yang hampir memasuki masa menopause, perempuan yang menjalani terapi ini sangat rentan terkena kanker. Maka dari itu, untuk menjalani terapi ini harus dengan sangat hati-hati.

  • Riwayat Keluarga

Seperti yang sudah dijelaskan sedikit di atas bahwa salah satu penyebab seseorang terkena kanker pada ovarium adalah riwayat keluarga. Untuk mengetahui hal ini bisa dengan melakukan tes darah, nantinya dapat dilihat lewat kadar CA-125 dalam tubuh.

  • Gaya Hidup Tak Sehat

Salah satu tanda gaya hidup tak sehat adalah mengalami obesitas, dalam mengatasi hal ini bisa dilakukan dengan diet. Konsumsi makanan sehat dan rutin dalam berolahraga setiap hari secara teratur.

  • Proses Ovulasi

Kerusakan pada ovarium juga bisa dipengaruhi pada proses pelepasan sel telur selama ovulasi di setiap bulannya. Risiko kemungkinan ovarium terkena kanker bisa menurun jika kondisi tersebut dapat dicegah, sementara itu ovulasi akan berhenti dengan sendirinya selama masa kehamilan dan menyusui.

Kanker ovarium menjadi salah satu penyakit yang sulit untuk dicegah, hal ini tak lepas dari apa yang penyebab pasti kemunculannya. Namun, secara umum ditandai ketika sel-sel sehat mengalami mutasi genetik, itulah yang membuat perubahan sel normal yang berubah menjadi abnormal di dalam tubuh.

Sementara sel-sel sehat yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya akan mati secara perlahan, sebaliknya sel abnormal yang ada justru tumbuh tanpa terkendali. Tumbuhnya sel-sel abnormal ini yang membentuk tumor dan bermetastasis.

Wanita Semakin Berumur, Perut Semakin Buncit?

Pernah nggak kamu perhatikan orang-orang yang berusia lanjut cenderung memiliki perut yang buncit, terutama para wanita yang sudah berumur? Ukuran pinggang yang makin melebar seiring pertambahan usia adalah hal yang umum terjadi. Keluhan umum dari para wanita adalah makin sulitnya menjaga berat badan ketika akan memasuki usia kepala tiga. Lalu, ketika periode menopause, pada umumnya berat badan tidak bertambah secara signifikan tetapi, bentuk perut semakin membuncit. Maka timbul pertanyaan, apa sih penyebab perut buncit pada perempuan yang mulai menopause?

Pada prinsipnya, ada tiga faktor yang mempengaruhi berat badan kita, yaitu jumlah kalori yang dikonsumsi tiap harinya, jumlah kalori yang terbakar oleh aktivitas organ tubuh dan aktivitas fisik setiap hari, serta usia kita. Konsumsi makanan terlalu banyak apabila tidak diimbangin dengan aktivitas fisik, akan menyebabkan kelebihan kalori yang diserap dalam tubuh sehingga, berat badan akan naik, termasuk lemak perut yang akan bertambah. Pertambahan usia akan mempengaruhi massa otot.

Makin tua usia kita, massa otot akan semakin berkurang. Di sisi lain, kadar lemak tubuh makin meningkat. Berkurangnya massa otot ini menyebabkan berkurangnya penggunaan kalori oleh tubuh, maka dari itu biasanya akan timbul banyak keluhan tentang betapa sulitnya menjaga berat badan di usia 35 dibanding saat berusia 25. Memasuki usia menopause, banyak perempuan mengeluhkan bentuk perut yang tampak membuncit walaupun mereka tidak banyak makan dan berat badannya tidak bertambah.

Penyebab perut buncit pada perempuan usia menopause adalah menurunnya kadar estrogen. Kondisi tersebut ternyata memengaruhi bagaimana lemak didistribusikan dan disimpan di dalam tubuh. Kecenderungan bertumpuknya lemak di perut juga dipengaruhi oleh faktor genetik.

Penyebab perut buncit dari faktor usia, hormonal dan genetik akan sulit untuk dicegah. Akan tetapi, kita tetap harus berupaya untuk menjaga ukuran perut agar tidak terlalu besar dengan mengubah gaya hidup.

Seiring bertambahnya usia, cobalah lebih memperhatikan pola makan sehari-hari, terutama dengan lebih banyak mengonsumsi makanan-makanan sehat. Perbanyak makan sayuran, buah-buahan, dan cobalah untuk mengganti asupan karbohidrat dengan pilihan seperti, nasi merah atau oatmeal. Kurangi konsumsi daging merah dan cukupi asupan protein dari daging putih tanpa lemak. Tidak lupa untuk membatasi konsumsi gula, garam dan lemak.

Dengan pola makan seperti ini, selain menjaga agar ukuran pinggang tidak melebar terlalu banyak, ia juga bermanfaat mengurangi risiko penyakit degeneratif lain yang umumnya diderita orang lanjut usia.

Jangan lupa untuk menyeimbangkan asupan makanan dengan aktivitas fisik, seperti olahraga rutin agar kalori yang disimpan di dalam tubuh dapat terbakar sempurna sehingga, lemak tidak terlalu banyak menumpuk di perut. Lakukan olahraga dengan intensitas sedang setidaknya 150 menit/minggu atau dengan melakukan olahraga intensitas tinggi sebanyak 75 menit/minggu. 

Plasenta Letak Rendah yang Berisiko Sebabkan Pendarahan pada Calon Ibu

Asupan nutrisi dan oksigen untuk janin ketika dalam kandungan dikirimkan melalui plasenta. Di kehidupan sehari-hari, plasenta dikenal sebagai ari-ari. Organ yang terbentuk cakram ini menempel pada dinding rahim dan akan terputus, lalu keluar mengikuti janin yang baru lahir.

Letak plasenta pada dasarnya berpindah-pindah, seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Normalnya, plasenta akan berada di bagian atas rahim ketika usia kehamilan memasuki trimester ketiga. Kondisi ini diperlukan untuk membuka jalan bagi janin agar mudah dilahirkan. Namun, terdapat juga peluang terjadinya kelainan, seperti plasenta letak rendah. Kelainan ini akan menyebabkan tertutupnya sebagian atau seluruh jalan lahir dan keluarnya janin, karena plasenta menempel di bagian rahim. Plasenta letak rendah ini dikenal dengan plasenta previa.

Efek dan risiko dari plasenta letak rendah

Dikarenakan posisi plasenta berada di bagian bawah rahim dan menyebabkan jalan keluarnya janin tertutup, kondisi ini berpeluang menyebabkan perdarahan berat, saat persalinan berlangsung ataupun sebelum persalinan. Perdarahan dari vagina ini dapat membahayakan nyawa ibu dan juga janin.

Ibu hamil dengan plasenta letak rendah juga berisiko untuk mengalami plasenta akreta, yang mana posisi plasenta akan menempel pada dinding rahim dan tidak dapat terlepas, walaupun telah melahirkan. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan hebat yang berisiko tinggi.

Kondisi plasenta letak rendah ini terjadi pada 1 dari 200 kehamilan. Di awal proses persalinan, serviks atau leher rahim akan membuka, sehingga janin dapat keluar. Namun, jika plasenta berada di bagian bawah rahim dan menempel pada jalan lahir tersebut, pembuluh darah yang menghubungkan plasenta dengan rahim akan robek, sehingga menghasilkan perdarahan yang hebat.

Bagaimana cara untuk mengetahui dan mengatasi plasenta letak rendah?

Pemeriksaan USG secara rutin dapat mendeteksi plasenta letak rendah. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk menjadwalkan pemeriksaan dan konsultasi rutin ini.

Jika ditemukan plasenta letak rendah pada trimester pertama dan kedua, umumnya dokter akan melakukan pengamatan dilanjut dengan pemeriksaan ulang pada trimester ketiga, apakah posisi plasenta berubah atau tidak. Selanjutnya, dokter akan menentukan prosedur persalinan yang tepat bagi kondisi kandungan Anda.

Ada beberapa kasus plasenta previa, yang mana gejala yang terjadi adanya perdarahan dari vagina pada trimester kedua kehamilan yang tidak disadari oleh sang ibu. Namun, beberapa kasus lainnya tidak terlihat gejala perdarahan sama sekali.

Penanganan plasenta rendah dilakukan dengan menyesuaikan kondisi tertentu, seperti usia kehamilan, kondisi janin dan posisi plasenta dan bayi, hingga jumlah perdarahan yang dialami sang ibu. Apabila terjadi perdarahan ringan, sang ibu akan dianjurkan untuk istirahat di rumah. Namun, apabila terjadi perdarahan berat, dokter akan memberikan transfusi darah dan obat pencegah kelahiran prematur. Pada kondisi ini, calon ibu juga akan dirawat di rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang optimal.

Kasus plasenta letak rendah yang mengakibatkan perdarahan berat, membutuhkan penanganan dengan operasi caesar. Penanganan ini dilakukan apabila bayi sudah memasuki usia minimal 37 minggu. Namun, apabila usia kandungan belum mencapai 37 minggu, dokter akan memberikan suntikan kortikosteroid yang berfungsi mempercepat pematangan paru-paru pada janin.