Pro dan Kontra Sodium Fluoride dalam Produk Perawatan Gigi

Beberapa tahun belakangan, para ahli melalui berbagai penelitian mulai mempertanyakan, apakah penambahan sodium fluoride dalam produk perawatan gigi aman dan efektif untuk mencegah gigi berlubang?

Bukan berarti sodium fluoride memang memiliki karakter yang berbahaya, penggunaannya dalam kadar yang sedikit diketahui aman. Namun, terlalu banyak sodium fluoride yang tertelan ternyata dapat menimbulkan berbagai gangguan medis.

Lalu, mengapa senyawa tersebut digunakan? Pada dasarnya, sodium fluoride memang memberikan manfaat perlindungan bagi gigi. Fluoride yang menempel pada gigi akan berikatan dengan kalsium atau magnesium di enamel gigi, dan melindungi gigi dari asam yang dapat menyebabkan gigi berlubang.

Manfaat sodium fluoride

Sekitar tahun 1930-an, sodium fluoride mulai diketahui manfaatnya untuk perlindungan gigi. Masa itu, dokter gigi menemukan bahwa kelompok orang yang mengonsumsi air dengan kandungan fluoride lebih jarang mengalami gigi berlubang.

Penelitian tentang sodium fluoride pun terus dilakukan sejak saat itu. Kebanyakan dari penelitian tersebut ditujukan untuk mengetahui, apakah sodium fluoride dapat digunakan untuk mengatasi gigi berlubang.

Kemudian diketahui bahwa sodium fluoride dapat mencegah gigi berlubang, walaupun ada paparan asam dan bakteri di dalam mulut. Hal ini dianggap sebagai sebuah terobosan di dalam dunia kesehatan gigi.

Sodium fluoride melindungi gigi dengan cara membunuh Streptococcus mutans dan Lactobacillus acidophilus yang menyebabkan gigi berlubang.

pH dalam sitoplasma sel juga akan diturunkan oleh ion di dalam sodium fluoride, sehingga keasaman berkurang dan risiko terjadinya gigi berlubang pun menurun. Sementara, pengaplikasiannya secara topikal akan membuat fluoride berinteraksi dengan air liur dan mencegah demineralisasi enamel gigi.

Sanggahan terhadap penggunaan sodium fluoride

Pada tahun 2015, Pelayanan Kesehatan Publik Amerika Serikat menurunkan rekomendasi  penggunaan sodium fluoride dari 1,2 mg/L menjadi 0,7 mg/L. Sementara Environmental Protection Agency memberlakukan batas yang boleh dikonsumsi oleh masyarakat ada angka 4,0 mg/L.

Sodium fluoride bukan hanya terkandung di dalam produk larutan perawatan gigi atau pasta gigi, melainkan juga dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi, termasuk susu. Melihat fakta ini, dalam waktu yang panjang, orang telah mengonsumsi fluoride dalam kadar yang lebih tinggi dari yang seharusnya.

Oleh karena itu, diduga banyak anak yang berpotensi mengalami fluorosis. Suatu kondisi di mana terdapat bercak atau cacat pada enamel akibat kelebihan asupan fluoride pada masa pertumbuhan gigi. Para dokter gigi pun mengakui bahwa fluorosis merupakan masalah gigi yang cukup serius dan patut mendapat perhatian.

Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa asupan sodium fluoride yang terlalu banyak dapat memicu terjadinya gangguan hormon, Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), melemahnya tulang, hingga munculnya efek yang tidak diinginkan dalam perkembangan saraf anak dan masalah tiroid.

Faktor-faktor di atas, membuat para ahli dan dokter gigi meninjau ulang penggunaan sodium fluoride dalam produk perawatan gigi, dalam rangka mencegah gigi berlubang. Sampai saat ini, hal ini masih menjadi kontroversi.

Masih dibutuhkan berbagai penelitian lanjutan untuk sampai pada kesimpulan perlu atau tidaknya penggunaan sodium fluoride. Saat ini, baik dari sisi manfaat maupun kerugian, terdapat penelitian ilmiah yang mendukung kedua klaim tersebut. Dan sulit sekali untuk menyimpulkan argumen mana yang lebih tepat.

Untuk sementara waktu, Anda bisa saja menggunakan produk yang mengandung sodium fluoride. Namun, usahakan untuk tidak menggunakannya secara berlebihan. 

Sayur Organik: Apakah Lebih Sehat Dari Sayur Biasa?

Untuk sayur organik, perbedaan utamanya ada pada proses penanaman, panen, serta pendistribusian kepada pembeli.

Banyak orang ingin mengkonsumsi makanan organik dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu makanan organik yang dapat dikonsumsi termasuk sayur organik. Orang-orang ingin mengkonsumsi makanan organik karena makanan jenis tersebut lebih sehat, aman dan memberikan kenyamanan di mulut. Meskipun demikian, harga makanan organik cenderung lebih mahal dibandingkan dengan makanan biasa.

Meskipun diklaim lebih sehat dari makanan biasa, para peneliti belum menemukan bukti yang menyatakan bahwa mengkonsumsi makanan organik dapat membuat manusia lebih sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak mengkonsumsi makanan tersebut.

Selain itu, tidak semua makanan organik dapat memberikan kesehatan bagi tubuh manusia. Untuk sayur organik, perbedaan utamanya ada pada proses penanaman, panen, serta pendistribusian kepada pembeli. Untuk makanan organik lainnya, masih ada jenis makanan organik yang memiliki kandungan gula, lemak, dan sodium.

Cara Mengetahui Sayur Organik

Pada saat berbelanja, Anda pasti akan merasa bingung untuk memilih antara sayur organik dan sayur biasa. Kedua jenis sayur tersebut memang memberikan manfaat bagi tubuh. Selain itu, kedua sayur tersebut bernutrisi dan mengandung serat.

Kata “organik” mengacu pada cara petani menanam dan memproses produk-produk agrikultur seperti sayur organik sebelum didistribusikan ke pasaran. Makanan yang disebut sebagai organik tentunya harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Proses makanan tersebut tidak menghasilkan polusi.
  • Menyediakan habitat yang sehat dan aman.
  • Dapat meningkatkan kualitas air dan tanah.
  • Memiliki siklus berkelanjutan pada sumber daya yang tersedia di perkebunan.

Selain itu, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan ketika memproses sayur organik:

  • Pupuk sintetis untuk menyuburkan tanah.
  • Pestisida sintetis untuk mengendalikan hama.
  • Pemaparan radiasi untuk mengusir hama atau membuat hasil panen awet.
  • Antibiotik atau hormon pertumbuhan pada ternak.

Yang dimaksud dengan pernyataan tersebut adalah perkebunan yang menanam bahan pangan organik tidak boleh melibatkan jenis pupuk atau pestisida sintetis. Semua bahan yang digunakan harus secara alami, untuk memastikan adanya kelanjutan pada siklus di perkebunan.

Perbedaan Antara Sayur Biasa dan Sayur Organik

Untuk membedakan antara sayur biasa dengan sayur organik, berikut adalah kriteria yang dapat Anda perhatikan ketika Anda membeli jenis sayur tersebut:

  • Nutrisi

Sayur organik memiliki jumlah nutrisi lebih sedikit dibandingkan dengan sayur biasa, khususnya pada jumlah flavonoid yang memiliki sifat antioksidan.

  • Metal beracun

Zat metal beracun yang ada di tanah secara alami dan dapat diserap tanaman adalah cadmium. Sebuah penelitian menyatakan bahwa jumlah cadmium yang terdapat pada makanan organik lebih sedikit dan tidak ada pada buah atau sayuran.

  • Residu pestisida

Jumlah residu pestisida yang ada pada sayur organik lebih sedikit dibandingkan dengan sayur biasa, karena tidak menggunakan pestisida sintetis. Meskipun demikian, para peneliti belum menemukan adanya dampak yang berbeda bagi kesehatan.

  • Harga

Harga makanan organik, termasuk sayur organik, cenderung lebih mahal dibandingkan dengan makanan biasa. Hal tersebut disebabkan karena proses pertanian organik memerlukan biaya yang tinggi untuk memproduksi makanan seperti ini.

Meskipun kedua jenis sayur tersebut memiliki perbedaan, Anda bisa membeli dan mengkonsumsi kedua jenis sayur tersebut. Kedua sayur ini dapat memberikan kesehatan bagi tubuh, meskipun secara ilmiah belum ada pernyataan terkait dengan jenis sayur mana yang lebih baik untuk dikonsumsi.

Cara Memilih Kualitas Makanan

Baik sayur biasa maupun sayur organik, kedua sayur tersebut aman untuk dikonsumsi. Meskipun demikian, ketika Anda membeli makanan biasa atau makanan organik, Anda sebaiknya perhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  • Memilih dari sumber beragam

Semakin beragam sumber makanan yang Anda pilih, semakin banyak nutrisi Anda dapatkan.

  • Beli sesuai musim

Anda sebaiknya beli makanan sesuai musim, karena makanan yang dijual ketika sedang ada pada musim tertentu, makanan tersebut terlihat segar.

  • Mencuci sayur dan buah

Sebelum mengkonsumsi, Anda sebaiknya mencuci sayur atau buah yang Anda beli. Mencuci makanan dapat membantu melindungi tubuh kotoran, bakteri, atau residu zat kimia di permukaannya.

Sel, Jenis, Fungsi, dan Organel Sel

Organel sel sama seperti organ dalam di tubuh manusia

Tubuh manusia terbuat dari triliunan sel-sel atau biasa disebut dengan unit dasar kehidupan di muka bumi. Pada dasarnya, sel bisa dianggap sebagai bungkusan kecil yang mengandung sistem transportasi, pabrik, dan sumber dayanya sendiri. Sel-sel tersebut berfungsi sesuai dengan tugasnya masing-masing, menciptakan energi dan berkembang biak (sel merupakan unit terkecil di dunia ini yang dapat melakukan replikasi diri). Sel juga membentuk jaringan, yang kemudian membentuk organ tubuh; dan organ akan bekerja sama satu sama lain agar organisme dapat tetap hidup. Nama sel sendiri diberikan oleh Robert Hook, sekaligus penemunya, pada tahun 1665. Nama sel diambil dari kata Latin cella yang berarti ruang-ruang kecil. Cukup masuk akal karena di dalam “ruangan” sel terdapat berbagai macam organel sel (organ mini). Artikel ini akan membahasnya dengan lebih mendetail.

Nukleus

Nukleus merupakan organel sel yang dapat dianggap sebagai “kantor pusat” para sel. Normalnya hanya ada satu nukleus di setiap sel, namun tidak selamanya demikian. Sel-sel otot rangka, misalnya, memiliki dua nukleus. Nukleus mengandung hampir semua DNA sel-sel (beberapa dalam jumlah sedikit terletak di mitochondria). Nukleus berperan untuk mengirimkan pesan ke pada sel agar tumbuh, membagi diri, ataupun mati. Nukleus dipisahkan dari bagian sel lain oleh selaput yang disebut amplop inti: pori nukleus di dalam selaput dapat mengizinkan molekul dan ion untuk menyeberang dengan mudah, sementara itu, molekul dengan ukuran yang lebih besar membutuhkan protein untuk mengantarnya. 

Selaput plasma

Guna memastikan setiap sel untuk tetap terpisah dari tetangga di sekitarnya, sel diselubungi oleh selaput khusus yang disebut dengan nama selaput plasma. Salah satu organel sel ini umumnya terbuat dari phospholipids, yang mencegah zat-zat terbuat dari air untuk masuk ke dalam sel. Selaput plasma juga terdiri dari beberapa reseptor, yang memiliki peran dan fungsinya masing-masing, termasuk:

  • Gatekeeper. Beberapa reseptor akan mengijinkan molekul-molekul untuk dapat lewat dan menghentikan molekul lain. 
  • Penanda. Reseptor jenis ini bertindak sebagai penanda, memberi informasi kepada sistem kekebalan tubuh bahwa mereka merupakan bagian dari organisme dan bukanlah penjajah asing.
  • Penghubung. Beberapa reseptor membantu sel agar dapat berkomunikasi dengan sel lain dan lingkungan di sekitarnya.
  • Pengencang. Beberapa reseptor bertugas untuk membantu mengencangkan sel dengan sel lain. 

Sitoplasma

Organel sel ini merupakan bagian dalam sel yang mengelilingi nukleus dan 80%-nya adalah air, yang terdiri dari organel sel dan cairan berbentuk seperti jelly yang bernama sitosol. Banyak reaksi penting yang terjadi di dalam sel terjadi di sitoplasma. 

Lysosomes dan peroxisomes

Baik lysosomes dan peroxisomes merupakan kantong enzim yang sangat penting. Lysosomes mengandung enzim yang dapat memecah molekul besar, termasuk bagian tua sel dan benda-benda asing. Sementara itu, peroxisomes mengandung enzim yang dapat menghancurkan material beracun, termasuk peroksida. 

Sitoskeleton

Organel sel ini dapat dianggap sebagai bangunan dari sel. Sitoskeleton membantu menjaga sel agar tetap dalam bentuk yang benar. Namun, berbeda dengan bangunan lain pada umumnya, sitoskeleton fleksibel. Sitoskeleton berperan dalam pembagian sel dan motilitas sel, yaitu kemampuan sel untuk bergerak (misalnya sel-sel sperma). 

Masih ada banyak organel sel lain yang memiliki peran pentingnya masing-masing. Sel merupakan sebuah hal yang sangat beragam dan sangat menarik. Bisa dibilang, sel bertindak seperti kota-kota mandiri yang berfungsi sendiri-sendiri, memproduksi energi dan protein. Namun, sel juga merupakan bagian dari jaringan yang lebih besar untuk menciptakan jaringan, organ, dan diri kita ini.

Tips Agar badan Tetap Bugar Selama Puasa

Berpuasa di bulan Ramadan menjadi suatu kewajiban bagi setiap Muslim di seluruh dunia baik itu laki-laki atau perempuan. Namun, aktivitas sehari-hari membuat banyak orang harus tetap menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dan bugar. Terdapat beberapa tips puasa agar kondisi badan tetap sehat meski sedang menjalankan puasa.

Dahulu, puasa merupakan bagian dari terapi dalam kedokteran kuno yang mana dalam kondisi medis tertentu menahan lapar dan minum dalam waktu tertentu dianjurkan agar proses penyembuhan suatu penyakit dapat berlangsung lebih cepat. Meski demikian, terdapat beberapa syarat yang harus dilakukan puasa tetap jalan dan kebugaran tubuh tetap terjaga.

Tips Puasa Sehat

Perlu diketahui puasa merupakan salah satu proses detoksifikasi atau juga pembuangan zat-zat beracun dari dalam tubuh secara alami. Namun, proses pembuangan racun ini tidak dapat berhasil maksimal apabila tidak diimbangi dengan penerapan gaya hidup sehat agar tubuh tetap berada dalam kondisi fit saat berpuasa.

  • Jangan Lewatkan Sahur

Cara sederhana pertama yang bisa dilakukan agar kondisi badan tetap fit saat berpuasa adalah jangan pernah melewatkan makan sahur. Sahur sama seperti sarapan pagi, merupakan bagian terpenting untuk menambah energi dalam tubuh selama satu hari berpuasa hingga waktu berbuka tiba, tetapi makan sahur juga harus memperhatikan asupan nutrisi seimbang.

Konsumsi jenis makanan seperti beras merah, gandum dan oat yang bisa membuat kenyang lebih lama. Konsumsi pula makanan yang mengandung serat tinggi, bisa berasal dari kurma, biji-bijian, kentang, sayuran dan hampir semua buah, khususnya buah seperti aprikot, plum, pepaya hingga pisang.

  • Penuhi Cairan Tubuh

Sebagian besar tubuh berisi cairan dan seseorang membutuhkan jumlah cairan yang terbuang selama berpuasa. Konsumsi air putih setidaknya delapan hingga 12 gelas putih dalam sehari, penuhi kebutuhan cairan ketika berbuka puasa hingga saat makan sahur, perlu diketahui agar menghindari kafein yang bersifat diuretik karena akan membuat lebih sering buang kecil.

  • Makan Secukupnya

Waktu berbuka merupakan momen yang paling ditunggu ketika melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Hal ini membuat banyak orang tak segan untuk banyak mengonsumsi makanan setelah berbuka bahkan hingga kalap. Padahal, langsung mengonsumsi banyak makanan di saat berbuka bisa membuat perut kembung dan begah.

  • Hindari Makanan Berminyak

Salah satu menu yang menarik dikonsumsi dan menjadi favorit banyak orang saat berbuka puasa adalah gorengan. Meski demikian, ada baiknya untuk menghindari semua jenis makanan yang digoreng ketika berbuka dalam jumlah yang banyak. Jenis makanan yang digoreng bisa meningkatkan risiko kenaikan kolesterol di dalam tubuh seseorang.

  • Kurangi Makanan dan Minuman Manis

Makanan dan minuman manis sangat berpengaruh bagi kondisi kebugaran tubuh, kurangi makanan jenis ini seta produk olahan agar tubuh tetap fit saat berpuasa. Namun, banyak orang yang justru keliru dengan maksud dari berbuka dengan yang manis.

Jenis makanan dan minuman yang manis memang penting dikonsumsi dengan tujuan membuat normal kembali gula darah di tubuh. Maka dari itu sangat penting untuk mengurangi jumlah makanan dan minuman yang satu ini.

  • Olahraga Ringan

Tips puasa dengan tubuh tetap sehat dan bugar adalah berolahraga, meski sedang menahan lapar dan haus bukan berarti tubuh tidak mampu digunakan untuk berolahraga, lakukan olahraga dengan intensitas ringan hingga setelah berbuka puasa. Setelah berbuka puasa.

Asupan energi tubuh sudah terpenuhi dengan energi, olahraga ringan bisa dilakukan selama 30 menit bisa dengan jalan kaki, bersepeda, jogging hingga latihan lain sesuai porsi yang dibutuhkan agar tubuh tetap fit.

Bagian dan Jaringan Gigi dalam Anatomi Gigi Manusia

Apabila diamati dengan seksama, gigi manusia pada dasarnya memiliki anatomi atau bagian-bagiannya tersendiri. Gigi dibagi menjadi mahkota, leher, dan akar gigi. Bagian mahkota gigi adalah bagian yang tidak tertutup gusi dan dapat dilihat secara jelas ketika membuka mulut. Sedangkan, leher gigi merupakan bagian antara mahkota dan akar gigi yang berada di pinggir gusi. Bagian akar gigi merupakan bagian dari gigi yang tertutup oleh gusi.

Apa saja yang ada dalam anatomi gigi?

Mahkota, leher, dan akar gigi pada dasarnya disusun oleh jaringan-jaringan pembentuk dan pendukung gigi, seperti yang dijelaskan berikut:

  1. Enamel adalah lapisan terluar dari gigi yang memiliki fungsi untuk memberikan warna pada gigi. Enamel merupakan lapisan yang sangat keras dan berada di lapisan terluar gigi. Ia juga berperan untuk melindungi lapisan-lapisan lain yang berada di bawahnya. Apabila enamel terkena infeksi yang mengakibatkan lapisannya rusak, pada umumnya dokter gigi akan memberikan tambalan gigi untuk mengembalikan enamel seperti semula.
  2. Dentin adalah lapisan yang berada di bawah enamel yang memiliki tekstur lebih lunak. Lapisan dentin sangat sensitif terhadap nyeri, rasa dingin, dan angin. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Lapisan dentin ini terhubung langsung dengan saraf-saraf gigi, oleh karena itu ia lebih peka terhadap rangsangan tersebut. Rasa ngilu atau nyeri pada gigi yang berlubang dapat menjadi tanda bahwa lubang pada gigi telah mencapai lapisan dentin ini.
  3. Pulpa adalah saraf gigi yang memanjang hingga mencapai bagian akar gigi. Jika lapisan pulpa ini mengalami kerusakan, maka tindakan pencabutan gigi atau perawatan saluran akar gigi perlu segera dilakukan.
  4. Gusi adalah jaringan pendukung gigi yang dapat kita lihat di dalam rongga mulut. Jaringan pendukung gigi yang satu ini memiliki fungsi untuk menutupi bagian bawah mahkota gigi yang tidak terlindungi oleh enamel. Gusi juga berfungsi untuk mencegah bakteri masuk sela-sela gigi dan merusak gigi dari dalam.
  5. Tulang alveolar adalah bagian dari jaringan yang turut menopang gigi untuk tetap tertanam dengan kuat pada gusi. Di dalam bagian ini, terdapat lamina dura yang merupakan lapisan padat menempel pada sementum di dasar akar gigi yang berdekatan dengan ligamen periodontal.
  6. Sementum merupakan lapisan yang menutupi akar gigi dan berfungsi memperkuat posisi akar gigi yang tertanam di tulang alveolar. Lapisan ini menempel pada ligamen periodontal.
  7. Ligamen periodontal merupakan jaringan ikat yang meliputi akar gigi. Jaringan ini berperan untuk menghubungkan sementum pada akar gigi. Di dalam jaringan ini terdapat serat-serat (fibre) yang memiliki fungsi untuk menahan gaya kunyah. 

Apa saja jenis dan peran gigi?

Tidak hanya jaringan dan bagian gigi yang beragam, namun gigi juga memiliki jenisnya tersendiri. Tiap jenis gigi memiliki peran dan fungsinya masing-masing:

  1. Gigi seri pada manusia pada umumnya terdiri atas empat gigi seri atas dan empat gigi seri bawah. Jenis gigi seri digunakan untuk memotong makanan.
  2. Gigi taring terletak persis di sebelah gigi seri. Jumlah gigi taring pada manusia ialah 4 buah, masing-masing terletak di bagian bawah dan atas mulut. Bentuk fisiknya berujung dan lancip berguna untuk merobek makanan.
  3. Gigi premolar pada manusia berjumlah delapan buah, terdiri atas masing-masing dua gigi premolar di bagian atas kanan dan kiri, serta dua pasang gigi premolar di bagian kanan bawah dan dua lainnya di kiri bawah. Lokasi gigi premolar berdekatan dengan gigi taring. Gigi premolar ini dikenal juga dengan gigi geraham kecil yang berfungsi untuk menghancurkan makanan menjadi ukuran yang lebih kecil lagi.
  4. Gigi geraham terletak di paling belakang susunan gigi manusia. Ia merupakan gigi yang paling besar dan kuat di antara jenis gigi lainnya. Jumlah gigi geraham pada manusia dapat mencapai 12 buah apabila gigi geraham bungsu tumbuh. Fungsi dari gigi geraham antara lain untuk mengunyah dan menghaluskan makanan sehingga mudah untuk ditelan dan dicerna.

Penting bagi kita untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi sebelum bakteri merusak lapisan dan jaringan pada anatomi gigi. Hal sederhana seperti menggosok gigi minimal dua kali sehari dengan benar dapat mencegah kerusakan dan penyakit pada gigi. Anda juga dapat mengkonsultasikan dan memeriksakan kesehatan gigi ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

Cegah Gigi Keropos Sedari Dini Demi Optimalkan Fungsi Gigi

Kerusakan pada gigi, seperti gigi keropos dapat terjadi pada siapa saja, tidak terkecuali anak-anak dan orang dewasa. Penyebab gigi keropos dapat berasal dari banyak faktor, seperti gaya hidup dan kebiasaan tertentu. Nah, jika kamu ingin terhindar dari pengeroposan gigi, ada langkah mudah yang dapat kamu lakukan, nih.

Sebelum membahas cara pencegahan gigi keropos, ada baiknya kamu kenali dulu kebiasaan seperti apa yang menjadi penyebab gigi keropos. Hal-hal perlu kamu perhatikan:

  • konsumsi minuman bersoda secara berlebih: minuman bersoda mengandung asam sitrat yang tinggi, sementara paparan asam bisa merusak lapisan enamel (lapisan terkuat) gigi yang kemudian mengakibatkan gigi keropos.
  • Sering mengonsumsi minuman/jus buah: lho, bukannya jus buah itu baik untuk kesehatan, ya? Ya, mengkonsumsi buah memang bagus untuk tubuh, tapi ternyata jus buah mengandung asam yang dapat mengikis enamel gigi, terutama buah-buahan asam seperti apel dan jeruk.
  • Kebiasaan buruk: selain faktor makanan, kebiasaan kamu memperlakukan gigi juga bisa membuat gigi ‘ngambek’ dan keropos, lho. Enamel gigi dapat terkikis akibat gesekan antar gigi yang keras (pada bruxism), menggosok gigi terlalu keras, menggigit benda keras, seperti kuku, tutup botol, atau pulpen. Kebiasaan-kebiasaan tersebut juga dapat menyebabkan sakit gigi, ya.
  • Diet tinggi gula dan karbohidrat: gula dan karbohidrat bersifat asam serta memudahkan kuman dalam mulut untuk berkembang sehingga mempercepat pengeroposan gigi.

Apa yang bisa kamu lakukan untuk mencegah gigi keropos? Perhatikan langkah-langkah berikut ini apabila kamu ingin memiliki gigi yang sehat dan tidak keropos!

  • Batasi konsumsi minuman bersoda dan minuman/jus buah yang asam, termasuk juga mengkonsumsi permen yang mengandung asam sitrat.
  • Gunakan sedotan saat minum minuman yang asam untuk menghindari kontak langsung gigi dengan zat asam.
  • Batasi camilan karena ternyata kebiasaan ngemil dapat meningkatkan risiko karies gigi.
  • Setelah makan atau ngemil, berkumurlah dengan air putih untuk membiarkan air liur melarutkan asam dan mengeraskan enamel terlebih dulu.
  • Kunyah permen karet yang tidak mengandung gula di sela-sela waktu makan.
  • Minumlah lebih banyak.
  • Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.
  • Hindari konsumsi alkohol, merokok, dan makan sekitar 3 jam sebelum tidur untuk mencegah refluks asam lambung.
  • Konsumsi makanan yang kaya akan kalsium untuk memperkuat enamel, misalnya susu, sarden atau ikan bandeng yang memiliki tulang lunak dan lazim untuk dimakan. Sekadar info nih. Tulang ikan itu tempat untuk menyimpan kalsium lho.
  • Perbanyak makan kacang-kacangan (kacang hijau, kacang merah, kacang kedelai, dan lain-lain) dan sayuran berwarna hijau tua.

Nah, bagaimana? Tips pencegahan gigi keropos yang telah disampaikan cukup mudah untuk dipraktekkan, bukan? Mari jaga kesehatan gigi selalu sebelum terlambat!

Atasi Rasa Ngilu pada Gigi Karena Gigi Sensitif

Apakah kamu sering merasakan ngilu pada gigi ketika mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu panas atau dingin? Hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa kamu menderita gigi sensitif. Kondisi ini menandakan bahwa gigi kamu lebih peka terhadap suatu rangsang. Beberapa orang mengalami gigi sensitif secara permanen, yang mana kondisi ini akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Namun, ada juga beberapa orang yang mengalami gigi sensitif sementara, di mana ia akan merasakan rasa ngilu pada saat-saat tertentu saja.

Kondisi gigi sensitif dapat terjadi pada seseorang di rentang usia 20-40 tahun, yang sebagian besar penderitanya merupakan wanita.

Penyebab gigi sensitif

Adapun penyebab timbulnya gigi sensitif:

  • Terbukanya lapisan gigi bagian dalam (dentin)
  • Terkikisnya lapisan terluar mahkota gigi (enamel)
  • Menggosok gigi terlalu kencang
  • Grinding atau kebiasaan menggertakkan gigi
  • Gigi patah
  • Kadar asam berlebih di mulut karena konsumsi makanan dan minuman asam
  • Bulimia
  • GERD
  • Bleaching atau proses pemutihan gigi
  • Penuaan sehingga gusi mengkerut sehingga tidak melindungi bagian gigi

Pengobatan gigi sensitif

Agar tidak menjadi masalah yang berkelanjutan dan mengganggu aktivitas bahkan dapat mengurangi nafsu makan, gigi sensitif perlu diatasi dengan cara-cara tertentu. Di bawah ini merupakan cara yang umumnya dilakukan untuk mengatasi gigi sensitif:

  • Gunakanlah pasta gigi khusus gigi sensitif
  • Gunakanlah sikat gigi dengan bulu halus
  • Jangan menggosok gigi terlalu kencang
  • Pilihlah obat kumur bebas alkohol
  • Perawatan bedah mulut jika gusi mengkerut atau menurun
  • Melapisi permukaan gigi oleh dokter gigi

Jika Anda tetap mengalami keluhan gigi ngilu setelah melakukan cara-cara di atas, maka segera konsultasikan kondisi kesehatan gigi Anda ke dokter gigi. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan penanganan yang tepat untuk mengatasi gigi sensitif Anda.

Tanyakan dan sampaikan kepada dokter gigi kondisi yang Anda. Dengan menyampaikan kebiasaan dan pengobatan apa saja yang telah Anda lakukan, dokter gigi dapat menganalisis kondisi kesehatan gigi Anda dan mampu memberikan solusi untuk permasalahan gigi Anda tersebut.

Adapun diagnosis yang pada umumnya dilakukan oleh dokter gigi antara lain pemeriksaan secara visual, yang mana dokter akan melihat keadaan gigi dan meraba permukaan gigi Anda serta memeriksa tingkat sensitivitas gigi dengan alat kedokteran gigi, ataupun dengan bantuan rontgen.

Beberapa orang mungkin masih dapat untuk menahan rasa ngilu pada gigi karena hanya terjadi pada saat tertentu. Namun, apabila Anda ragu dengan kondisi kesehatan Anda dan masalah gigi Anda telah mengganggu banyak aktivitas sehari-hari, segera periksakan kondisi gigi Anda ke dokter gigi.

Di sisi lain, kondisi gigi sensitif dapat dicegah dengan menjaga kesehatan serta kebersihan rongga mulut dan menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan berserat ataupun yang mengandung kalsium.