9 Cara Menghadapi Bayi yang sedang Purple Crying

“Purple crying adalah bayi yang baru lahir lebih sering menangis dan ditenangkan. Kondisi ini biasanya akan berlangsung dari umur 2 minggu sampai 3 hingga 4 bulan kemudian.”

Selama berada di dalam rahim ibu, bayi selalu merasakan kehangatan dan rasa yang nyaman. Akan tetapi, ketika sudah lahir tentu mulai dari suhu, keadaan tempat, dan faktor eksternal lainnya akan memberikan rasa yang berbeda dan aneh untuk bayi. 

Maka itu, jika bayi sering menangis ini adalah hal yang sangat wajar dan orangtua tidak perlu khawatir kepada bayi secara berlebihan. Kondisi dimana bayi menangis secara terus menerus biasa disebut purple crying. Biasanya, bayi pada tahapan purple crying ini akan menangis tanpa henti selama 2-3,5 jam setiap harinya. Dan biasanya akan berlangsung mulai dari usianya 2 minggu hingga 3-4 bulan. 

Meski kondisi ini tidak akan berlangsung selamanya, tetapi orangtua tetap perlu mengetahui apa yang sedang diinginkan bayi, atau hal apa yang menjadi keresahannya untuk dapat menenangkan bayi dengan mudah.

Dikarenakan purple crying adalah hal yang sangat wajar terjadi pada bayi baru lahir, maka orangtua tidak perlu panik ya. Purple crying ini juga bisa diatasi dengan berbagai cara, berikut ulasannya :

1. Gendonglah bayi

Saat bayi terus menerus menangis, meskipun sudah diberi cukup ASI, maka ibu perlu mencoba menggendong bayi untuk menenangkannya. Taruhlah bayi di atas dada ibu, ini akan memberikan perasaan nyaman dan juga tenang kepada bayi.

2. Membersihkan bayi dengan air hangat 

Ibu bisa mencoba mengecek popok bayi, jika sudah terasa penuh. Maka segeralah mengganti popok dan membilas bagian yang kotor. Keringat maupun kotoran bayi bisa menyebabkan ruam popok dan rasa gatal yang membuat bayi risih. Ibu bisa memandikan bayi agar bayi lebih terasa bersih dan segar. Gunakan air hangat suam-suam kuku, kemudian keringkan bayi lalu gendong dan tidurkan bayi.

3. Melakukan skin to skin

Lakukanlah kontak kulit antara kulit. Hal ini sangatlah manjur untuk menenangkan bayi. Sentuhan ibu sambil memeluk bayi, mengusapi rambut bayi dengan posisi bayi di atas dada ibu, memberikan bayi kenyamanan, keamanan, dan rasa tenang.

4. Menyelimuti bayi

Ibu bisa menyelimuti bayi untuk menghangatkannya dengan selimut. Biasanya, bayi akan merasa nyaman saat berada di dalam selimut kesukaannya. Pastikan juga agar suhu ruangan sudah sesuai, sehingga bayi tidak akan merasa kepanasan maupun gerah ketika diselimuti.

5. Bawalah bayi keluar ruangan

Ajaklah bayi keluar ruangan atau bisa juga keluar rumah. Tidak perlu jauh, bisa juga berada di depan teras rumah. Berikan bayi udara segar yang berbeda dengan udara ruangan tempat ia tidur. Tak hanya orang dewasa saja, bayi juga membutuhkan udara baru yang segar untuk membuatnya lebih rileks dan tenang.

6. Memberi pijatan lembut pada bayi

Jika bayi memberi pertanda dirinya sedang merasa lelah dengan menangis terus menerus, ibu bisa memberikan pijatan lembut dengan menggunakan baby oil. Pijit dengan perlahan-lahan di bagian punggung, tangan, dan kaki bayi untuk meringankan rasa pegal maupun lelah pada bayi.

7. Bedonglah bayi

Jika bayi selalu terbangun dari tidurnya dikarenakan gerakan tubuhnya sendiri yang membuat bayi kaget dan terbangun, maka membedong bayi bisa ibu coba untuk dapat menenangkan bayi dan bisa kembali lelap dalam tidurnya. Karena bayi baru lahir sangatlah sensitif terhadap lingkungan sekitarnya, maka gerakan tubuh selama ia tidur yang tidak disadari bisa membuatnya kaget dan terbangun.

8. Memeriksa tubuh bayi

Periksalah tubuh bayi, buka semua pakaiannya. Lihat dan periksalah, apakah ada binatang yang menggigit tubuh bayi atau ada gatal-gatal maupun bentol yang ada di tubuh bayi sehingga membuatnya risih dan terus menangis.

9. Angkat sendawakan bayi

Bisa jadi bayi yang menangis terus menerus karena merasakan kembung pada perutnya, maka ibu bisa mengangkat bayi dan menaruhnya di pundak ibu, lalu tepuk-tepuk punggungnya untuk membuat bayi sendawa dan gas di perutnya pun bisa keluar. Jika bayi sudah merasa lega, maka ia akan kembali tenang dengan sendirinya.

Sangatlah penting bagi seorang ibu untuk dapat membedakan apakah tangisan bayi tersebut mengartikan bayi yang sedang merasa lapar, bosan, tidak nyaman dengan lingkungan maupun kondisinya, ataupun bayi yang merasa lelah, dengan peristiwa purple crying. Ibu bisa berkonsultasi dengan dokter anak untuk dapat mendapatkan solusi yang terbaik bagi bayi.

Manfaat Imunisasi BCG, Dosis, dan Efek Sampingnya

Imunisasi BCG mampu mencegah penyakit TBC atau Tuberkulosis. Dapat membentuk kekebalan tubuh terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis, vaksin ini juga memiliki beberapa efek samping. 

Disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, TBC atau tuberkulosis merupakan infeksi serius yang pada umumnya menyerang paru-paru. 

Namun infeksi ini juga dapat menyerang organ lainnya seperti tulang, sendi, ginjal, hingga memicu radang selaput otak. Untuk mencegah infeksi ini, kita bisa melakukan imunisasi BCG. 

Manfaat imunisasi BCG

Pemberian imunisasi BCG ini dapat memberikan manfaat yakni membantu tubuh mengenal dan juga membentuk kekebalan terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis tersebut. Imunisasi BCG ini berasal dari bakteri 

Mycobacterium tuberculosis yang telah dilemahkan. Bukan hanya kekebalan tubuh, vaksin ini juga akan melindungi tubuh dari penyakit TBC berat dan juga radang selaput otak yang diakibatkan oleh TBC.

Dosis Imunisasi BCG

Untuk mencegah tuberkulosis atau TBC, pemberian dosis akan diresepkan dokter sesuai usia dan  kondisi pasien. Berikut rincian dosis imunisasi BCG:

  • Untuk orang dewasa diberikan 0,2-0,3 ml yang disuntikan ke kulit. 
  • Pada anak usia > 1 bulan, obat sebanyak 0,2-0,3 ml dicampurkan dengan 1 ml air steril yang kemudian dimasukkan ke kulit melalui suntikan. 
  • Anak usia < 1 bulan digunakan sebanyak 0,2-0,3 ml obat yang dicampur dengan 2 ml cairan steril lalu disuntik pada kulit. 

Memiliki angka kejadian TBC yang tinggi, Indonesia menjadikan vaksin BCG ke dalam imunisasi dasar lengkap untuk bayi. 

Dianjurkan untuk diberikan vaksin ini sebelum usia 3 bulan dan paling optimal yakni sebelum di usia 2 bulan. Sementara itu perlu dilakukan uji tuberkulin sebelum imunisasi BCG diberikan pada bayi usia 3 bulan atau lebih.  

Masuk ke dalam bagian imunisasi dasar lengkap, vaksin BCG ini diberikan sebanyak 1 kali pada bayi dengan usia 1 bulan. Sementara itu, anak-anak dan dewasa pada umumnya juga diberikan sebanyak 1 kali untuk mencegah terjadinya TB. 

Meski demikian vaksin ini bisa dilakukan kembali dalam 2 hingga 3 bulan jika respon vaksin tidak baik dan hal ini bisa dinilai dengan tes tuberkulin.

Anak-anak dengan hasil tuberkulin negatif disarankan diberikan vaksin BCG. 

Tak hanya itu, dianjurkan juga diberikan pada anak yang sering terpapar dan tidak bisa dipisahkan dari orang dewasa dengan kondisi yang mengalami tuberkulosis tapi tidak berobat atau pengobatannya tidak tuntas dan juga orang dewasa yang mengalami tuberkulosis dengan bakteri yang resisten terhadap obat isoniazid dan juga rifampisin.

Efek samping imunisasi BCG

Setelah melakukan imunisasi BCG terdapat beberapa efek samping akan dialami oleh penerima vaksin. Pada umumnya akan muncul bisul atau luka bernanah pada kulit di area penyuntikan. 

Hal ini karena imunisasi BCG mengandung kuman hidup yang menimbulkan reaksi kekebalan di tubuh.  Bisul atau luka ini akan mengering setelah beberapa waktu dan kemudian akan muncul jaringan parut atau bekas luka. 

Biasanya bekas luka ini muncul dalam waktu 3 bulan setelah penyuntikan vaksin. 

Bisul yang muncul dalam 2-12 minggu setelah vaksin, biasanya terjadi pada pasien yang belum pernah terpapar bakteri pemicu TBC. 

Jika bisul atau luka ini muncul di waktu kurang dari 1 minggu, kemungkinan besar pasien pernah mengalami paparan bakteri penyebab TBC sehingga pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan. 

Namun bisa saja bisul tak terbentuk pada beberapa pasien, hal ini bukan berarti vaksin yang diberikan gagal dan tak perlu mengulangi penyuntikan vaksin. 

Selain itu efek samping yang akan dialami pasien setelah imunisasi BCG yakni terjadinya pembengkakan pada kelenjar getah bening, munculnya darah pada urin, muntah, nyeri perut, sering buang air kecil, dan nyeri saat buang air kecil. Jika pasien mengalami alergi setelah vaksin dengan tanda sulit bernapas atau menelan, munculnya suara “ngik” saat bernapas, dan ruam kulit yang parah sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.

Imunisasi BCG ini tidak dianjurkan bagi orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Seperti mereka yang mengidap HIV/AIDS, pasien yang tengah kemoterapi untuk pengobatan kanker, dan juga orang yang menjalani transplantasi organ. 

Selain itu, vaksin ini juga tak boleh diberikan pada wanita hamil.

Resep Enak Berbahan Keju untuk MPASI, Bikin Si Kecil Lahap

Apabila Si Kecil mulai bosan dengan menu MPASI yang itu-itu aja, kamu bisa coba menu dengan bahan keju untuk MPASI

Tambahan keju pada menu MPASI bisa membuat masakan jadi makin gurih dan creamy, sehingga membuat Si Kecil jadi lahap. 

Keju untuk MPASI adalah sumber kalsium untuk bayi

Selain itu, keju juga memiliki banyak kandungan nutrisi seperti kalsium dan vitamin A, D, dan K yang bagus untuk pertumbuhan tulang dan gigi Si Kecil. Apabila dipadukan dengan bahan makanan lain, tentu nutrisi MPASI akan semakin lengkap.

Berikut ini beberapa resep menu MPASi dengan keju yang bisa kamu coba di rumah. 

Puree jagung susu keju

Bahan-bahan:

  • 100 gram keju cheddar
  • 200 gram jagung pipil
  • ASI atau sufor secukupnya

Cara membuat:

  1. Kukus jagung hingga matang sempurna, angkat dan haluskan dengan blender.
  2. Haluskan atau parut keju dan campur dengan jagung yang sudah dihaluskan.
  3. Tambahkan ASI atau sufor hingga mendapatkan tekstur yang diinginkan.
  4. Puree jagung susu keju siap disajikan. 

Bubur kentang dori keju

Bahan-bahan:

  • 100 gram keju
  • 100 gram ikan dori
  • 1 buah kentang, potong kecil
  • 1 buah wortel, diparut
  • ½ iris tahu kuning
  • 1 siung bawang putih
  • Olive oil
  • Air secukupnya

Cara membuat:

  1. Bersihkan bahan-bahan seperti kentang, wortel, bawang putih, dan ikan dori.
  2. Kukus kentang, wortel, dan tahu hingga matang dengan sempurna.
  3. Tumis bawang putih menggunakan olive oil.
  4. Masukkan ikan dori dan masak hingga matang dan harum.
  5. Campurkan kukusan kentang, wortel, tahu, dan ikan dori, kemudian tambahkan air dan blender sesuai dengan tekstur yang diinginkan.
  6. Tambahkan sedikit olive oil.
  7. Bubur kentang dori keju siap disajikan untuk si kecil.

Puree Alpukat Keju

Bahan-bahan:

  • 1 buah alpukat
  • 1 kotak keju belcube

Cara membuat:

  1. Kupas buah alpukat dan ambil dagingnya, sebaiknya ambil daging berwarna kuning saja biar tidak pahit. 
  2. Blender alpukat hingga halus atau sesuai tekstur yang diinginkan.
  3. Parut keju dan campur dengan puree alpukat. 
  4. Puree alpukat keju siap disajikan untuk Si Kecil.

Mashed potato with broccoli and cheese

Bahan-bahan:

  • 1 buah kentang, potong menjadi beberapa bagian
  • Brokoli secukupnya
  • 1 buah keju belcube
  • ASI atau sufor

Cara membuat:

  1. Kukus kentang dan brokoli hingga matang, kira-kira 10-15 menit, angkat dan tiriskan hingga kadar air berkurang.
  2. Haluskan kentang dan brokoli menggunakan keju hingga mendapatkan tekstur yang diinginkan. 
  3. Tambahkan ASI atau sufor ke dalam kentang dan brokoli yang sudah dihaluskan.
  4. Tambahkan keju belcube dan aduk rata.
  5. MPASI untuk Si Kecil siap disajikan. 

Bubur ayam mozarella

Bahan-bahan:

  • 2 sdm daging ayam, potong kecil-kecil
  • 2 buah brokoli
  • 1 buah wortel, parut kasar
  • 5 sdmi putih
  • 2 sdm keju mozarella, parut kasar
  • Bawang bombay secukupnya
  • Bawang putih secukupnya

Cara membuat: 

  1. Campur nasi, daging ayam, bawang bombay, bawang putih, brokoli, dan wortel pada slow cooker, allu masak hingga matang. 
  2. Lelehkan keju mozarella dan campurkan pada bubur yang sudah matang tadi, campur merata.
  3. Bubur ayam mozzarella siap disantap Si Kecil. 

Potato cheese beef

Bahan-bahan: 

  • 1 buah kentang, potong menjadi beberapa bagian
  • 30 gram daging sapi
  • 1 buah wortel, potong kecil
  • 1 buah tempe, potong kecil
  • Bawang bombay secukupnya
  • Bawang putih secukupnya
  • Daun salam
  • Keju
  • Unsalted butter
  • ASI atau sufor

Cara membuat: 

  1. Kukus kentang dan wortel hingga matang
  2. Rebus daging hingga empuk
  3. Tumis bawang bombay dan bawang putih dengan unsalted butter
  4. Masukkan daging sapi, kentang, dan wortel yang sudah dikukus tadi
  5. Haluskan bahan-bahan di atas dan tambahkan ASI atau sufor, blender hingga mendapatkan tekstur yang diinginkan
  6. Taburkan keju parut dan campur hingga merata
  7. Potato cheese beef siap disajikan untuk Si Kecil

Itu dia beberapa inspirasi menu berbahan keju untuk MPASI yang bisa dicoba. Dijamin Si Kecil bakal lebih lahap. 

Aturan Memakai Pigeon Bedak untuk Bayi

pigeon bedak

Pigeon merupakan brand produk bayi dan anak yang sudah sangat dikenal di Indonesia. Ada begitu banyak produk yang ditawarkan brand satu ini. Seperti misalnya bedak bayi yang dikenal selalu cocok untuk segala jenis kulit bayi. Pigeon bedak bayi memiliki ciri khas baunya yang harum.

Kulit bayi memang lebih tipis dari orang dewasa. Itu sebabnya perawatan untuk kulit bayi membutuhkan perhatian khusus. Bedak bayi keluaran Pigeon bisa jadi pilihan untuk merawat kulit si kecil. 

Kendati terbilang aman, penggunaan bedak pada bayi tetap tidak boleh sembarangan. Pigeon bedak memiliki aturan pakai yang harus diikuti orang tua produk yang digunakan tidak mengganggu kesehatan atau aktivitas anak. 

Berikut beberapa aturan penting yang harus diikuti ketika ingin memakaikan bedak pada bayi:

  • Perhatikan kandungan yang ada dalam bedak dan sebaiknya pilih yang bebas talc;
  • Jika khawatir ada partikel bedak yang terhirup, maka sebaiknya ganti bedak tabur dengan bedak padat yang jauh lebih aman. Usapkan bedak dengan spons secara perlahan dan tidak perlu digunakan seluruh tubuh, hanya bagian lipatan saja;
  • Ketika ingin menggunakan bedak tabur, maka tuang lebih dulu di telapak tangan kemudian balurkan ke tubuh bayi dengan perlahan;
  • Jangan gunakan bedak pada wajah atau leher bayi sebab bisa menimbulkan bersin dan batuk pada bayi. Hindari juga menaburkan bedak di area vital bayi khususnya bayi perempuan supaya tidak terkena infeksi akibat bedak;
  • Pastikan kulit bayi sudah benar-benar kering sebelum menggunakan bedak. Jika bedak bercampur dengan keringat, maka bisa meningkatan pertumbuhan kuman serta bakteri;
  • Jangan sampai bedak mengumpul di lipatan kulit bayi karena bisa mengakibatkan iritasi. Sebaiknya, cukup aplikasikan bedak secara tipis dan bersihkan sisa bedak ketika mengganti pakaian atau popok;
  • Ketika membersihkan popok, biasakan untuk membersihkan area bokong bayi lebih dulu. Setelah itu, bisa dibalurkan kembali dengan bedak hingga area lipatan paha bayi. Jika tidak dibersihkan, maka dikhawatirkan bisa menyebabkan iritasi;
  • Pilih bedak yang mengandung tepung jagung, tepung tapioka, tepung oat, dan krim untuk ruam atau baking soda;
  • Hindari menggunakan bedak di sekitar area mata bayi;
  • Hindari menggunakan puff sebab kemungkinan debu dari bedak bisa terhirup dan mengganggu kesehatan pernapasan bayi.

Manfaat Pigeon Bedak pada Bayimu

Pigeon bedak bayi tidak hanya memiliki aroma yang  menyenangkan, tetapi juga dapat menjaga kelembapan kulit bayi. Kulit bayi yang masih sangat sensitif mungkin sekali menjadi sebab terjadinya masalah, seperti iritasi. Dengan penggunaan bedak, masalah itu bisa bisa dihindari.

Untuk itulah bedak bayi Pigeon sangat penting digunakan untuk mencegah beberapa masalah kulit yang mungkin muncul. Terdapat pula beberapa kandungan dalam bedak ini yang bisa menyejukkan kulit sekaligus menyerap keringat berlebih. Untuk penjelasan lebih lanjut, berikut beberapa manfaat lain dari bedak bayi Pigeon:

  • Mengurangi gejala gangguan kulit bayi yang ringan.
  • Memberikan keharuman bayi yang khas yang berasal dari bahan alami dalam bedak ini.
  • Mencegah masalah biang keringat akibat penyumbatan kelenjar keringat atau keringat berlebih.
  • Membuat tidur bayi semakin nyenyak karena keharuman lembut yang dihasilkan dari bedak Pigeon.
  • Mengatasi Bakteri yang ada di kulit: Bedak bayi Pigeon juga berguna untuk mengatasi dan mencegah bertumbuhnya bakteri di kulit.
  • Mengatasi iritasi kulit karena sinar matahari: Bedak bayi Pigeon juga bermanfaat untuk mengatasi iritasi kulit akibat sinar matahari. Sifat antibakteri dan juga antiinflamasi dalam bedak nantinya bisa membantu mengatasi kemerahan serta bengkak pada kulit bayi.
  • Melindungi kulit bayi dari sinar UV. Nantinya, kulit akan terlindungi dan bisa menjaga pertahanan alami dari kulit bayi

Meskipun Pigeon bedak bayi memiliki beberapa manfaat yang baik bagi bayi, seperti mencegah ruam akibat pemakaian popok, iritasi, dan alergi, penggunaan bedak harus diperhatikan. Tak sedikit dokter menyarankan para orang tua untuk mengurangi pemakaian bedak bayi demi mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan

5 Penyebab Bayi Susah BAB dan Gejalanya

Bagi orangtua yang baru memiliki bayi, tentu akan banyak kejutan yang dialami setiap harinya. Wajar jika merasa kaget, panik, bingung, dan khawatir. Seperti saat mengalami bayi susah BAB atau buang air besar. 

BAB yang tidak lancar jadi pertanda kalau pencernaan anak kurang sehat. Tentu perlu mengetahui apa saja penyebab bayi susah BAB untuk segera memberikan pertolongan untuk mengatasinya.

Tanda-tanda Bayi Susah Buang Air Besar atau Sembelit

Secara umum, saat bayi berusia 0-6 bulan, bayi memang tidak buang air besar setiap hari. Bayi juga masih mengonsumsi ASI eksklusif. Sedangkan bayi yang minum susu formula akan buang air besar hingga 3-4 kali sehari.

Pola buang air besar pada bayi memang beragam. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh jenis susu yang diminum, makanan padat yang dikonsumsi, serta kondisi kesehatan bayi. 

Terkadang, bayi susah BAB bukan hanya sebatas bayi jarang atau tidak bisa pup, tapi bisa saja karena sulit sekali bagi bayi untuk buang air besar. Jika feses bayi lunak, hal ini akan mudah dikeluarkan dna bayi biasanya dalam kondisi yang baik-baik saja.

Berikut gejala bila bayi mengalami susah buang air besar:

  • Perut bayi mengeras
  • Kentut bayi sangat bau
  • Berkurang nafsu makan
  • Bayi jadi lebih rewel dan sering menangis
  • Sulit mengejan dan tinja sulit keluar
  • Feses keras dan kering, berwarna hitam bahkan mungkin berdarah pada kasus yang parah
  • Tidak buang air besar kurang dari 2 kali dalam seminggu atau setidaknya sekali dalam 5-10 hari.

Penyebab Bayi Susa BAB

  1. Dehidrasi

Dehidrasi pada bayi akan membuat sistem tubuhnya menyerap lebih banyak cairan dari makanan dan minuman yang dikonsumsinya. 

Hal ini akan menyebabkan pup bayi jadi keras dan kering serta sulit dikeluarkan. Dehidrasi bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti sariawan di mulut bayi, gigi tumbuh, menyapih dari ASI, dan kondisi lainnya sehingga membuat tubuh tidak mendapat cukup cairan.

  1. Minum susu formula

ASI punya keseimbangan lemak dan protein yang sempurna. Sehingga bayi yang minum ASI biasanya akan memiliki pup yang lunak. Sedangkan susu formula tertentu mungkin saja mengandung zat yang sulit dicerna sehingga bayi mungkin mengalami sembelit. 

  1. Konsumsi makanan padat

Masa transisi dari konsumsi makanan cair ke makanan padat yang dikonsumsi bayi saat MPASI bisa membuat pencernaan bayi jadi kaget karena belum terbiasa.Sehingga pemberian makanan padat pada bayi bisa menyebabkan sulit buang air besar. 

Apalagi jika makanan yang dikonsumsi oleh bayi makanan rendah serat. Ini bisa membuat pup jadi padat dan keras, sehingga sulit dikeluarkan. 

  1. Adanya kondisi medis tertentu

Bayi yang mengalami gangguan medis bisa memengaruhi sistem pencernaannya. Sehingga bisa jadi penyebab bayi mengalami sembelit atau susah buang air besar. 

Gangguan medis yang mungkin dialami oleh bayi seperti kelainan organ pencernaan, bisa pada usus besar, lambung, usus halus, bahkan anus. Bisa juga karena bayi mengalami alergi susu sapi, kadar kalsium terlalu tinggi pada darah, menderita penyakit hirschsprung, adanya hipotiroid, atau mengalami kelainan sumsum tulang belakang.

Mengetahui kondisi ini dibutuhkan pemeriksaan pada dokter spesialis anak

  1. Bayi makan terlalu makan atau kurang makan

Bayi yang terlalu banyak makan atau kurang makan, bisa menyebabkan sembelit. Sebab, bayi yang masih dalam tahap belajar makan 1-2 sendok makan sudah cukup untuk memenuhi lambungnya yang masih kecil sehingga butuh penyesuaian setelah terbiasa mengonsumsi ASI saja. 

Jika bayi mengalami sembelit karena terlalu banyak makan atau kurang makan, maka perlu diatur jumlah makan bayi yang sesuai. 

Itulah beberapa penyebab bayi susah BAB yang mungkin terjadi. Perhatikan kondisi kesehatan bayi jika sudah menunjukkan hal yang tidak normal. Bila tak kunjung membaik, maka segera periksakan kondisi si kecil pada dokter.

Bayi Batuk Berdahak Hingga Stridor! Kenali Macam Jenisnya

Batuk adalah salah satu gejala penyakit yang paling umum. Batuk bisa terdengar mengerikan, tetapi biasanya bukan pertanda kondisi serius. Faktanya, batuk adalah refleks yang sehat dan penting yang membantu melindungi saluran udara di tenggorokan dan dada. Namun, terkadang batuk membutuhkan perawatan dokter. Penyakit ini sebenarnya tidak hanya memiliki satu jenis, mulai dari bayi batuk berdahak, kering, hingga sakit yang mengindikasi adanya kelainan paru. Oleh karena itu, penting untuk Anda mengetahui berbagai jenis batuk pada bayi berikut ini. 

1. Bayi batuk berdahak

Penyakit ini sering disebut batuk gonggongan, karena bunyinya yang kencang dan berat. Batuk berdahak biasanya disebabkan oleh pembengkakan di saluran napas bagian atas. Batuk berdahak berasal dari croup, pembengkakan laring (kotak suara) dan trakea (batang tenggorokan). Bayi umumnya memiliki saluran udara lebih kecil yang jika membengkak, dapat membuatnya kesulitan bernapas. Anak-anak di bawah 3 tahun paling berisiko terkena croup karena saluran udara mereka sangat sempit.

Batuk dari croup bisa muncul secara tiba-tiba, namun paling sering terjadi di tengah malam. Sebagian besar anak dengan croup juga akan mengalami stridor, yaitu pernapasan keras dan berisik yang terjadi saat anak menghirup (menarik napas).

2. Batuk rejan

Batuk rejan (pertusis) adalah infeksi saluran udara yang disebabkan oleh bakteri bordetella pertussis. Anak-anak dengan pertusis akan mengalami batuk terus menerus tanpa jeda. Pada akhir batuk, mereka akan menarik napas dalam-dalam yang menghasilkan suara “rejan”. Gejala lainnya adalah pilek, bersin, batuk ringan, dan demam ringan.

Batuk rejan dapat terjadi pada semua usia, namun paling parah terjadi pada bayi di bawah 1 tahun yang tidak mendapatkan vaksin pertusis, yang merupakan bagian dari vaksin DTaP (difteri, tetanus, pertusis aseluler). Batuk ini sangat menular, jadi semua anak harus mendapatkan suntikan pertusis pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 bulan, dan 4–6 tahun.

3. Batuk disertai mengi

Jika anak Anda mengeluarkan suara mengi (bersiul) saat menghembuskan napas, ini bisa berarti saluran udara bagian bawah di paru-paru bengkak. Hal ini bisa menandakan adanya asma atau infeksi virus bronchiolitis. Mengi juga dapat terjadi jika saluran napas bagian bawah terhalang oleh benda asing. Seorang anak yang mulai batuk setelah menghirup sesuatu seperti makanan atau mainan kecil harus segera menemui dokter.

4. Batuk saat malam hari

Banyak batuk bertambah parah di malam hari. Saat anak masuk angin, lendir dari hidung dan sinus bisa mengalir ke tenggorokan dan memicu batuk saat tidur. Ini hanya menjadi masalah jika batuk tidak membuat anak Anda tidur. Asma juga bisa memicu batuk malam hari karena saluran udara cenderung lebih sensitif dan mudah tersinggung di malam hari.

5. Batuk saat siang hari

Udara atau aktivitas dingin dapat memperparah batuk di siang hari. Cobalah untuk memastikan bahwa tidak ada apa pun di rumah Anda – seperti penyegar udara, hewan peliharaan, atau asap (terutama asap tembakau) yang membuat anak Anda batuk.

6. Batuk disertai demam

Seorang anak yang mengalami batuk, demam ringan, dan pilek kemungkinan besar menderita flu biasa. Tetapi batuk dengan demam 102°F (39°C) atau lebih tinggi kadang-kadang bisa disebabkan oleh pneumonia, terutama jika seorang anak lemah dan bernapas dengan cepat. Dalam kasus ini, segera hubungi dokter Anda.

7. Batuk disertai muntah

Anak-anak sering batuk hingga memicu refleks sehingga membuat mereka muntah. Selain itu, anak yang batuk pilek atau asma kambuh mungkin akan muntah jika banyak lendir mengalir ke perut dan menyebabkan mual. Biasanya, hal ini tidak perlu diwaspadai kecuali jika muntahnya tidak berhenti.

8. Batuk terus menerus

Batuk yang disebabkan oleh pilek akibat virus bisa berlangsung berminggu-minggu, terutama jika seorang anak terserang flu terus menerus. Asma, alergi, atau infeksi kronis pada sinus atau saluran udara juga dapat menyebabkan batuk berkepanjangan. Kondisi ini juga kerap mirip dengan bayi batuk berdahak. Jika anak Anda masih batuk setelah 3 minggu, hubungi dokter Anda.

Tips Cukur Rambut Bayi yang Aman dan Bikin Bayi Nyaman

Ada banyak alasan orangtua akhirnya memutuskan untuk mencukur rambut bayi. Selain memudahkan untuk membersihkan kulit kepala bayi, cukur rambut bayi penting dilakukan saat rambut tumbuh terlalu cepat hingga masuk ke dalam mata.

Selain itu, cukur rambut bayi juga dipercaya bisa merangsang pertumbuhan rambut jadi lebih sehat dan tebal.

Sebelum mencukur rambut bayi, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan, mengingat kepala bayi masih sensitif dan lunak, seperti penggunaan alat cukur yang aman, waktu mencukur, hingga posisi mencukur rambut bayi. 

Berikut ini tips mencukur rambut bayi yang aman dan tidak melukai bayi. 

Pilih alat cukur yang aman

Mengingat kepala bayi cukup lunak dan sensitif, pastikan kita memilih alat cukur khusus bayi yang aman. 

Pilih alat cukur atau biasa disebut trimmer dengan pisau cukur yang dibuat dari bahan ceramic dan berbentuk bulat (tidak runcing), sehingga aman dan tidak melukai kulit kepala bayi. 

Selain itu, pilih juga alat cukur yang mesinnya tidak berisik, sehingga kamu bisa mencukur rambut bayi saat mereka tidur. 

Paling penting, olesi pisau cukur dengan minyak pelumas agar proses mencukur rambut bayi tetap aman. 

Apabila kamu menggunakan gunting karena rambut bayi yang sudah terlalu panjang, lakukan secara hati-hari dan perlahan, ya. 

Pilih waktu yang tepat 

Saat akan mencukur rambut bayi, pastikan kamu memilih waktu yang tepat. Misalnya saat mood bayi sedang bagus atau saat bayi sedang tertidur pulas. 

Berikan juga makanan atau mainan kesukaan bayi, sehingga saat proses mencukur, bayi tetap tenang dan anteng. Di sini lah kerjasama antara suami dan istri sangat diperlukan untuk membuat bayi tetap tenang. 

Buat suasana yang menyenangkan

Mencukur rambut bayi memang sebuah tantangan yang cukup berat untuk orangtua. Namun, kamu bisa menyiasatinya dengan membuat suasana yang menyenangkan.

Misalnya dengan menyetel musik yang bisa membuat bayi senang, menyanyikan lagu bersama-sama, dan mengajak bermain. Dengan begitu, bayi akan lebih anteng dan tidak rewel. 

Basahi rambut bayi

Agar proses mencukur rambut bayi makin mudah, jangan lupa membasahi rambut bayi dengan semprotan yang berisi air.

Memotong rambut akan lebih mudah jika rambut dalam keadaan basah dan menggumpal. Jika bayi mulai rewel alihkan lagi perhatiannya dengan memberikan mainan atau makanan enak. 

Langsung mandikan bayi

Setelah proses mencukur rambut selesai, segera ajak bayi mandi dengan menggunakan air hangat. Hal ini untuk mencegah rasa gatal yang muncul karena banyak sisa-sisa rambut kecil menempel pada kulit bayi. 

Agar bayi merasa lebih segar, berikan juga pijatan pada bayi dengan menggunakan baby oil di bagian kepala. Metode ini cukup menenangkan dan membuat bayi jadi nyaman. 

Agar rambut bayi sehat

Seperti orang dewasa, rambut bayi juga harus dirawat agar tumbuh tebal dan sehat. Tak perlu mencuci rambut bayi setiap hari, mencuci rambut bayi beberapa kali dalam seminggu pun sudah cukup.

Pilih sampo dengan bahan-bahan yang aman dan tidak mengandung bahan pengawet atau pewangi. 

Apabila kulit kepala bayi tumbuh cradle cap atau dermatitis seboroik, tak perlu khawatir karena hal ini bisa diatasi dengan menggunakan sampo khusus yang aman dan cocok.

Sebaiknya, sisir rambut bayi menggunakan sisir khusus yang lembut. Hal ini sekaligus bisa untuk menghilangkan sisa-sisa cradle cap. 

Tak perlu khawatir karena cradle cap juga bisa hilang dengan sendirinya, seiring bertambahnya usia anak. Biasanya saat usia 1 tahun, cradle cap pada bayi akan menghilang dengan sendirinya.

Kenalilah Perkembangan Berat Badan Ideal Bayi Mulai dari Usia 0-24 Bulan!

Pertumbuhan fisik anak di tahun-tahun pertamanya bisa mempengaruhi pertumbuhan tubuh dan kehidupan hingga dewasa. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk memperhatikan perkembangan dan pertumbuhannya. Salah satunya adalah berat badan ideal bayi dan tinggi badan yang dijadikan sebagai tolak ukur.

Pemantauan secara berkala berat badan ideal bayi mulai dari lahir hingga usia 2 tahun sangat penting agar Anda bisa mengejar keterlambatan pertumbuhan atau menetralkan percepatan pertumbuhan. Di dalamnya termasuk juga dalam memperhatikan indeks massa tubuh yang merupakan ukuran lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan.

Dalam memantau perkembangan bayi, Anda perlu memiliki buku Kesehatan Ibu dan Anak yang bisa didapatkan di Puskesmas. Di dalamnya Anda bisa memantau tinggi dan berat badan sesuai dengan umur sehingga bisa dilihat sesuai dengan kurva yang telah ditetapkan tentang berat badan ideal dan tinggi badan ideal sesuai umurnya. Berikut ini pertumbuhan ideal bayi usia 0-24 bulan.

1. Bayi 1-3 Bulan

Di usia 1-3 bulan, perkembangan bayi begitu cepat. Hal ini dipengaruhi oleh asupan nutrisi ASI yang maksimal. Pada usia ini, bayi membutuhkan asupan ASI 8 kali sehari dengan durasi menyusui 10 menit atau hingga bayi merasa kenyang. Untuk bayi yang mengkonsumsi susu formula, takaran susu yang diperlukan adalah 180-200 ml untuk sekali menyusui dengan intensitas 6 kali sehari. Berat bayi di usia ini berkisar antara 5,8- 7 kg untuk bayi laki-laki dan 5,4 kg-6,5 kg untuk bayi perempuan. Sedangkan untuk panjang badan adalah 60-63 cm untuk bayi laki-laki dan 58-62 cm untuk bayi perempuan.

2. Bayi 4-6 Bulan

Pertumbuhan bayi di usia 4-6 bulan ini dipengaruhi oleh asupan ASI yang terus melonjak dibandingkan bulan sebelumnya. Di usia ini juga bayi bisa mendapatkan berat badan dua kali lipat dari berat lahirnya dan ini adalah kondisi yang normal. Disarankan untuk memenuhi kebutuhan ASI setiap 3-4 jam sekali hingga bayi kenyang. Untuk konsumsi susu formula bisa memberikan takaran 180-250 ml dalam setiap pemberian sebanyak 6 kali sehari. Pada usia ini juga makanan pendamping ASI atau MPASI juga sudah mulai dikenalkan. Anda bisa memberikan MPASI 3 kali sehari dengan takaran 28-85 gram setiap makan. Berat badan bayi laki-laki adalah 7,8-8,5 kg dengan panjang badan 66-70 cm, sedangkan untuk bayi perempuan adalah 6,8-8 kg dan panjang badan 63,5-67 cm.

3. Bayi 7-12 Bulan

Di usia 7-12 bulan, bayi akan mencapai 3 kali berat badan lahirnya. Pada usia 12 bulan, Ibu bisa mengenalkan susu murni atau susu sapi sebagai tambahan ASI. Untuk bayi yang mengkonsumsi susu formula, penambahan susu sapi bisa diberikan dengan takaran 230ml sebanyak 3 kali sehari.Bayi juga sudah bisa makan aneka jenis makanan seperti makanan orang dewasa dengan memperhatikan kandungan gizi dan tekstur makanannya. Anda bisa memberikan makan berat 3 kali sehari dan juga tambahan cemilan di sela-selanya. Berat badan ideal bayi laki-laki di usia 7-12 bulan ini adalah 9-10,3 kg dengan tinggi badan 74-77 cm. Sedangkan untuk bayi perempuan adalah 8,2-9,7 kg dengan tinggi badan 72-76 cm.

4. Balita 2 Tahun

Pada usia 2 tahun, pertumbuhan anak sudah tidak terlalu pesat namun bisa dikatakan ideal jika mengalami kenaikan sekitar 1,8 kg setiap tahunnya. Anda bisa membandingkan berat badan usia 2 tahun ini dengan berat badannya di usia 1 tahun. Kegiatan anak usia 2 tahun juga sudah semakin aktif dalam kemampuan motorik kasarnya namun bukan berarti nafsu makannya juga semakin bertambah. Pada usia ini anak sudah memiliki nafsu makan dan merasa bosan dengan makanan yang disajikan. Ini adalah kondisi yang normal dimana anak sudah mengenali makanan yang disukainya. Untuk menjaga berat badan tetap ideal, berikan asupan gizi dari makanan tambahan seperti jajanan sehat dan susu. Di usia 24 bulan ini berat badan idealnya adalah 10,6-13,7 kg dengan tinggi badan 84,6-91 cm.

Itulah tahapan perkembangan dari berat badan ideal bayi yang harus Anda ketahui. Hal ini agar bayi dapat terhindar masalah kesehatan dan tidak mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangannya.

SIDS, Ketahui Hal yang Mengancam Bayi Baru Lahir

Sindrom kematian bayi mendadak (SIDS) merupakan sebuah kondisi ketika bayi baru lahir yang sehat tiba-tiba meninggal, dan tidak ada penjelasan apa yang menjadi penyebab kematian mereka. Bahkan setelah investigasi yang menyeluruh, penjelasan mengenai penyebab kematian bayi mungkin tidak ditemukan. SIDS, juga dikenal dengan sebutan crib death atau kematian di tempat tidur bayi, biasanya terjadi ketika bayi sedang tidur.

Meskipun SIDS dianggap sebagai sebuah kondisi yang langka, ini adalah penyebab utama kematian anak-anak usia 1 bulan hingga 1 tahun. Kondisi ini paling sering terjadi pada usia 2 hingga 4 bulan. Pada tahun 2018, di Amerika Serikat diperkirakan terdapat 1300 bayi yang meninggal akibat SIDS. 

SIDS tidak memiliki gejala apapun yang terlihat. SIDS terjadi secara mendadak dan tidak disangka-sangka pada bayi baru lahir yang terlihat sehat. Penyebab SIDS tidak diketahui, namun para ilmuwan sedang mencari tahu beberapa potensi penyebab. Beberapa kemungkinan yang sedang diinvestigasi meliputi sebuah bentuk apnea (periode berhenti bernapas saat tidur) dan ketidaknormalan pada otak di daerah yang mengatur pernapasan. Meskipun penyebab masih belum diketahui, SIDS memiliki beberapa faktor risiko. Kebanyakan dari faktor risiko berikut ini dapat dihindari, sehingga sangat penting bagi orang tua yang memiliki bayi baru lahir untuk memahami dan menyadarinya. 

Beberapa faktor risiko tersebut di antaranya:

  • bayi berbaring dengan tengkurap atau pada satu sisi sebelum usia 1 tahun
  • cacat otak
  • infeksi pernapasan
  • berat badan tubuh yang rendah
  • lahir prematur
  • memiliki riwayat keluarga yang menderita SIDS 
  • asap rokok atau ibu yang merokok pada saat hamil, 
  • ras (keturunan Afrika dan suku Indian memiliki dua kali kemungkinan meninggal akibat SIDS dibandingkan dengan ras lain)
  • jenis kelamin (laki-laki memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan)
  • ibu muda (di bawah usia 20 tahun)
  • kepanasan
  • tidur bersama orang tua
  • tempat tidur bayi yang tidak aman
  • matras tidur yang terlalu lembut
  • tempat tidur bayi yang mengandung benda-benda lunak
  • tidak menyusu
  • tidak menggunakan empeng saat tidur

Menghindari faktor risiko tersebut di atas dapat mengurangi risiko bayi baru lahir meninggal akibat SIDS. 

Mengingat SIDS tidak diketahui penyebabnya, sulit untuk mencegah kondisi ini. Namun, SIDS memiliki banyak faktor risiko. Meskipun beberapa risiko tidak dapat dihindari, kebanyakan dapat dikurangi ataupun dihindari sepenuhnya. Faktor risiko paling kritis adalah menempatkan bayi usia di bawah 1 tahun tidur telungkup. Itulah sebabnya cara terbaik yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi risiko SIDS adalah membaringkan bayi dengan menghadap ke atas saat ia tidur siang ataupun di malam hari. 

Langkah berikutnya dalam pencegahan SIDS pada bayi baru lahir adalah memberikannya empeng saat ia tidur meskipun pada akhirnya empeng akan terlepas dari dalam mulut bayi. Namun, hanya gunakan empeng dan jangan gunakan tali untuk mengikatkannya di baju, selimut, atau bahkan mainan bayi. Jika Anda sedang menyusui, tunggu bayi hingga ia bisa makan sebelum menggunakan empeng. Hal ini biasanya membutuhkan waktu satu bulan atau lebih. 

Cara lain dalam mengurangi risiko SIDS pada bayi baru lahir di antaranya adalah tidak merokok, minum alkohol, atau menggunakan obat-obatan terlarang pada masa kehamilan atau setelah persalinan; jangan membiarkan orang lain merokok di rumah atau di sekitar bayi Anda; tidur di ruang yang sama dengan bayi (namun tidak di tempat tidur yang sama), dan jauhkan mainan, selimut, dan bantal dari tempat tidur bayi.

Atasi Ruam Popok Dengan B&B Kids Body Powder

Ruam popok tumbuh di daerah yang lembap dan hangat. Popok bayi merupakan salah satu tempat di mana ruam ini paling sering muncul. Ruam tersebut dapat terlihat seperti bercak merah pada pantat bayi atau sisik merah pada daerah kemaluan. Ruam popok dapat terjadi akibat iritasi akibat feses dan air seni, makanan atau produk baru, kulit yang sensitif, ataupun popok yang dipasang dengan terlalu ketat. Biasanya, orang tua akan menggunakan bedak bayi seperti B&B Kids Body Powder untuk mencegah dan mengatasi ruam popok. Artikel ini akan membahas hal apa saja yang bisa Anda lakukan untuk mencegah ruam mengganggu pada buah hati ini. 

Pembersihan dan penggantian popok

Cara terbaik dan terpenting dalam mencegah dan merawat ruam popok adalah dengan menjaga popok bayi kering dan bersih, serta memastikan popok tidak terpasang dengan terlalu ketat. Anda juga bisa menggunakan bedak bayi seperti B&B Kids Body Powder. Kapan saja bayi tidak mengenakan popok, baringkan dia di atas handuk. Selain itu, beri beberapa waktu untuk bayi tidak memakai popok pada siang hari. Hal ini akan menjaga daerah popok tetap kering. Saat Anda mengganti popok bayi, bersihkan daerah popok dengan lembut dan perlahan menggunakan kain lembut atau semprotkan air lewat botol. Tisu basah boleh digunakan, namun pilihlah jenis tisu basah yang tidak mengandung alkohol atau pewangi tambahan karena dapat mengiritasi kulit sensitif bayi. Selain itu, jangan terlalu keras menggosok kulit bayi. Gunakan sabun yang ringan atau pembersih bebas sabun saat Anda memandikan si kecil. Tepuk-tepuk alus, dan bukan menggosok, daerah tubuh bayi hingga kering. 

Saat bayi Anda memiliki ruam popok, Anda harus berhati-hati dalam mengganti popok. Sangat penting untuk sering mengganti popok si kecil, idealnya ketika popok kotor. Jika Anda menggunakan popok kain, bilas popok dua atau tiga kali agar semua sabun yang Anda gunakan untuk membersihkannya hilang. Hal ini disebabkan karena beberapa bayi sensitif terhadap detergen atau pewangi yang ada di dalamnya. Selain itu, menggunakan popok sekali pakai yang dapat menyerap dengan cepat dapat menjaga kulit bayi tetap kering dan terhindar dari ruam popok yang mengganggu. 

Krim dan jeli

Selain bedak seperti B&B Kids Body Powder, Anda bisa menggunakan pasta atau krim pelindung yang mengandung zinc untuk menenangkan kulit dan mencegah kontak dengan feses dan iritan lainnya. Oleskan dalam lapisan yang tipis untuk mencegah kotoran dan urin menyentuh kulit bayi. Jeli seperti Vaseline dapat menjadi pilihan yang ideal, karena harga yang terjangkau dan biasanya mengandung lebih sedikit pewangi ataupun pewarna. Namun, penting untuk diingat bahwa produk seperti jeli dapat menempel pada popok kain dan sulit untuk dibersihkan. Jeli juga tidak menawarkan pelindung sekuat krim lainnya. 

Perawatan yang perlu dihindari

Saat Anda mencoba untuk mencegah dan merawat ruam popok, hindari menggunakan produk yang mengandung pewangi dalam jumlah besar, termasuk pelembut kain dan lapisan pengering. Produk yang hypoallergenic dan bebas pewangi seperti B&B Kids Body Powder tidak akan mengiritasi kulit bayi yang sangat sensitif. Namun, berhati-hatilah saat menggunakannya dan jangan sampai si kecil menghirup bedak bayi. Selain itu, pakaikan si kecil pakaian yang “breathable”, karena pakaian yang ketat dapat menyebabkan daerah sekitar popok menjadi lembap, dan lingkungan yang panas dan lembap menjadi tempat ideal bagi kuman dan bakteri untuk menyebabkan iritasi dan ruam popok.