7 Fakta Menarik tentang Crossdresser

Pernah tidak Anda melihat seorang pria yang memakai pakaian ala wanita yang sangat feminim ataupun sebaliknya saat perempuan yang tampil sangat maskulin dengan pakaian prianya? Bisa jadi yang Anda lihat tersebut merupakan crossdresser

Crossdresser merupakan sebutan untuk laki-laki ataupun perempuan yang kerap menggunakan pakaian yang berseberangan dengan jenis kelaminnya. Oleh sebagian orang, crossdresser kerap diasosiasikan dengan masalah kelainan seksual, seperti homoseksual. Namun sebenarnya, kondisinya berbeda jauh. 

Supaya lebih paham sebenarnya apa itu crossdresser, berikut ini adalah beberapa fakta menarik mengenai masalah kelainan seksual yang satu ini. Dengan begitu, Anda pun bisa lebih mengerti dan tidak menyama-nyamakan antara crossdresser dengan golongan homoseksual. 

  1. Bagian Gangguan Transvestisme 

Orang-orang yang suka mengenakan pakaian yang berseberangan dengan jenis kelaminnya identik dikaitkan dengan salah satu gejala transvestisme. Secara sederhana, transvestisme bisa diartikan sebagai praktik seseorang yang meniru kegiatan ataupun peran lawan jenisnya. Transvestisme sendiri merupakan salah satu gangguan jiwa yang berbentuk penyimpangan seksual. 

  1. Perempuan Tersembunyi 

Sulit menentukan apakah seorang perempuan merupakan crossdresser atau tidak. Pasalnya, perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki cenderung dianggap normal dan justru terkesan elegan. Seseorang, baik laki-laki atau perempuan, pun baru layak disebut crossdresser apabila menggunakan pakaian yang berseberangan dengan jenis kelaminnya secara teratur dan terus-menerus. 

  1. 1 Persen Pria 

Menemukan crossdresser pada pria jauh lebih mudah. Ini karena para pelaku crossdresser pria kerap mengenakan rok atau pakaian wanita yang mencolok. Tidak tanggung-tanggung, diperkirakan 1 persen pria terlibat dalam model crossdresser. Hanya saja, presentasi ini kurang dapat diandalkan sebab kebanyakan pelaku crossdressing menutup rapat-rapat kebiasan mereka dan tidak menampakkannya apabila mereka keluar rumah. 

  1. Sudah Berkeluarga 

Apakah orang-orang yang memiliki preferensi sebagai crossdresser adalah para lajang? Sekali lagi, crossdresser bukanlah homoseksual. Umumnya, para pelaku justru sudah menikah dan berkeluarga. Ditemukan pula banyak crossdresser yang dulunya pernah menikah, namun akhirnya berpisah. 

  1. Dari Anak-anak 

Sampai saat ini masih belum ditemukan alasan pasti mengenai kemunculan kondisi crossdresser pada diri seseorang. Namun, sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa crossdresser mudah dipicu dari sifat bawaan dari lahir. Orang-orang crossdresser secara alami memilih perlintasan pakaian lawan jenis menemukan ekspresi terbuka yang bertujuan untuk kesenangan pribadi. 

  1. Dari Anak-anak 

Perilaku crossdresser sebenarnya sudah mulai terlihat dari masa anak-anak. Mereka umumnya menunjukkan gejala sebagai crossdresser sejak masa kanak-kanak. Pada saat itu, tidak ada pikiran terlintas mengenai gairah seksual yang melatarbelakangi gangguan kejiwaan ini. Satu-satunya tujuan yang menyebabkan anak-anak menjadi crossdresser lebih ke aspek mencari kebahagiaan. 

  1. Terbuka Setelah Tua 

Banyak orang menyembunyikan identitas crossdresser-nya hingga berpuluh-puluh tahun. Mereka baru berani menyatakan diri sebagai crossdresser dan meminta bantuan ahli jiwa untuk mengatasinya rata-rata setelah berusia 40—50 tahun. 

  1. Lebih Stigmatisasi 

Kira-kira menurut Anda mana yang lebih dicap buruk oleh masyarakat, para pelaku homoseksual atau orang-orang yang merupakan kalangan crossdresser? Jawabannya, para crossdresser kerap mengalami stigma buruk yang kejam dari masyarakat. Di beberapa kawasan liberal, lesbian maupun gay telah lebih dihargai. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada crossdresser. Mereka selalu merasa hidup dalam tekanan sosial karena distigma jelek oleh sekitarnya. Alasan inilah yang akhirnya membuat mereka menutup diri dan kerap menjadi anti sosial. 

*** 

Seperti penyakit jiwa lainnya, para crossdresser semestinya membuka diri dan berani melakukan konsultasi dan pengobatan ke tenaga profesional. Masyarakat sekitar pun sebaiknya tidak langsung memberi stigma kejam yang membuat mereka semakin menutup diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *